Berjuang Sampai Akhir

Saya punya seorang sepupu yang pernah sakit gejala stroke. Ia tidak bisa beraktivitas dan hanya tiduran saja. Satu waktu ia mengeluh pada bapak saya yang juga adalah pamannya, bahwa ia tidak bisa beraktivitas dan kehidupan ekonominya sulit sekali. Ucapan bapak saya adalah sebagai berikut:

“Bay, kita ini orang miskin. Kalau kita mengeluh saja dan menyalahkan keadaan, lantas siapa yang memberi kita makan? Setiap orang punya kesulitan masing-masing. Mungkin mereka bisa membantu sesekali atau sebentar, tapi setelah itu kembali ke diri kita. Kita juga yang harus bertanggung jawab pada diri kita sendiri…”

Ucapan bapak saya itu terasa pedas namun memang benar adanya. Sepupu saya mungkin tergugah semangatnya, berusaha sembuh dan kemudian beraktivitas kembali.

Banyak dari kita, termasuk saya, kadang berpikir bahwa kehidupan kita tidaklah mudah dan kehidupan orang lain terlihat lebih baik. Namun siapa yang tahu. Saya mengenal keluarga yang kelihatan serba enak. Kepala keluarga adalah pejabat di salah satu lembaga negara sedangkan isterinya adalah dosen di kampus bonafid. Rumah, apartemen dan assetnya ada di beberapa tempat. Kelihatan sukses sekali. Ternyata isterinya terdeteksi mengidap kanker. Kita tidak tahu kesulitan seperti apa yang mereka alami, tidak terbayang bagi kita yang sehat.

Almarhum pak kyai Buya Syakur Yasin pernah bilang, “Jika kita mengalami kesulitan, cepp saja. Diam saja. Tidak usah gembar-gembor. Cukup kita dan yang maha kuasa yang tahu.”

Kalau kita menjadi petani, mungkin tanaman kita terserang hama. Mungkin juga musnah tersapu banjir. Bisa juga terkena penyakit saat menjelang panen. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah berusaha bangkit, belajar dari kesulitan dan mencoba mengatasinya.

Tidak usah menyalahkan lingkungan, keadaan dan takdir. Tidak usah menyalahkan siapa-siapa. Kita berjuang sampai akhir. Karena itu juga bagian dari ibadah kita. Apa yang tidak mematikan kita, akan mendewasakan kita.

Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *