
Hari ketiga di Surabaya relatif lebih santai. satu-satunya pekerjaan tersisa adalah membeli kabel printer yang terlupa dibawa. Saya harus menunggu sekitar jam 9.00-10.00 WIB karena informasi dari rekan-rekan KLAS, toko-toko komputer baru buka pada jam tersebut.
4 orang team yang datang dari Jakarta berencana ke Lamongan Bay, salah satu project pelabuhan dimana salah satu project ownernya adalah boss saya di perusahaan. Saya bilang saya tidak dapat ikut ke Lamongan karena saya hendak ke daerah Rungkut bertemu dengan
pak Suparto Brata, sastrawan Jawa dan penulis novel favorit saya. Kami setuju untuk bertemu di lokasi kantor cabang untuk pengecekan akhir. Sebelum ke kantor cabang saya akan mampir ke Hi-Tech Mall untuk membeli Kabel LPT printer dan Print Server.
Saat rekan-rekan meluncur ke Lamongan sekitar pukul 08.00, saya meluncur ke perumahan YKP di Rungkut Asri, Surabaya Timur. Saya terlebih dahulu melakukan konfirmasi pada pak Suparto Brata dan beliau mengatakan silakan datang. Petugas hotel yang saya tanya menyampaikan bahwa daerah itu cukup jauh dari hotel saya di daerah Ampel-Kampung Arab (Surabaya Utara, CMIIW) dan biaya taksi bisa mencapai Rp. 60.000,-. Tak masalah, bukan karena nilai uang tapi karena biaya transport di Jakarta sering lebih dari jumlah itu

Sebelum ke rumah pak Suparto Brata, saya membeli buah dulu karena saya tidak tahu apa yang bisa saya bawa. Kalau sebelum berangkat saya bisa ke rumah ibu saya di Tambun - Bekasi mungkin saya bisa membawa Dodol Betawi, Rengginang dan makanan khas Betawi lainnya, tapi saya tidak keburu untuk kesana sebelum berangkat.
Ada 2 hal yang menarik perhatian saya soal Surabaya. Pertama, orang selalu bilang bahwa Surabaya itu panas dan saya sudah siaga untuk menerima perubahan suhu yang drastis. Ternyata, panasnya Surabaya tidak jauh berbeda dengan panas di daerah Tanjung Priok dan Cakung Cilincing tempat kantor saya berada, hehehe... Paling tidak, bagi saya panasnya Surabaya masih dalam batas normal.
Yang kedua, sewaktu SMA guru saya pernah bercerita bahwa di Surabaya itu susah buat menyeberang jalan karena demikian padat dan sibuknya lalu lintas. Jika dulu saja sudah sedemikian sibuk, bagaimana sekarang, begitu pikir saya sebelum tiba. Ternyata, Surabaya jauh lebih lancar daripada Jakarta. Tempat macet itu hanya pada beberapa titik tertentu. Jalan-jalan satu arah yang cukup lebar membuat lalu lintas di Surabaya jauh lebih nyaman dibandingkan di Jakarta atau Bekasi sekalipun. Dalam hal kemacetan, Surabaya masih kalah jauh dibandingkan daerah Cakung-Pulo Gadung

Saya sampai di perumahan YKP di daerah Rungkut Asri sekitar 1 jam perjalanan. Rumah pak Suparto Brata mudah dicapai karena dekat dengan kantor kecamatan Rungkut dan ada di belakang pasar Soponyono.
Surprise juga, ketika taksi saya sampai didepan rumah, pak Suparto Brata menyambut langsung. Dalam usianya yang sudah 76 tahun, pak Suparto Brata masih sangat sehat dan penuh semangat. Beruntung sekali masyarakat Jawa memiliki sastrawan sekelas pak Suparto Brata.

Pak Suparto bertanya darimana saya mengenalnya. Saya sampaikan bahwa saya penggemar buku pak Suparto. Beberapa bukunya yang saya baca antara lain Trilogi Gadis Tangsi (Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem dan Mahligai di Ufuk Timur), Saksi Mata, Sapu tangan gambar naga, Mata-mata dan beberapa buku lainnya). Saya kagum pada filosofi yang terekam dari buku-buku beliau dan mengapresiasi semangat beliau menulis buku yang mampu memberikan semangat dan pencerahan.

Bagi pak Suparto, menulis dan membaca adalah bagian dari keseharian yang disukainya. Beliau bahkan ingat dan meralat saya ketika saya bercerita soal buku Mata-Mata yang berkisah soal jaman Jepang dan tokoh utamanya meninggal diawal cerita,
"Hmmmh, itu bukan mata-mata mas. Saksi mata ya, yang kisahnya tentang anak kecil yang menyaksikan bibinya dibunuh tentara Jepang"
Ya ya ya, saya jadi ingat. Buku mata-mata berkisah tentang sosok Tentara Pelajar yang menyamar jadi Herlambang, mata-mata termashyur berkebangsaan Indonesia yang mendampingi Mac Arthur di pulai Saipan. Mata-mata juga bercerita soal Ngestireni, gadis ayu yang menjadi mata-mata di sisi Republik.
Menyenangkan sekali mendengar cerita langsung tentang buku-buku favorit saya langsung dari penulisnya. Trilogi Gadis Tangsi misalnya, itu merupakan cerita yang dirangkum dari kisah nyata ibu mertua dan isterinya.
Pak Suparto juga bercerita mengenai hasil editing buku trilogi Gadis Tangsi yang justru menghapus bagian cerita yang merupakan inti dari filosofi bukunya. Bagian cerita yang dimaksud adalah saat Letnan Belanda harus menyerahkan nyawanya, dipenggal oleh Tentara Jepang saat mengawal dan menjaga rombongan Teyi (tokoh utama Gadis Tangsi, sosok isterinya). Letnan Belanda itu semestinya bisa selamat jika langsung melarikan diri namun dia menantang bahaya, kembali ke lokasi pengungsian Teyi untuk memberitahukan Teyi agar jangan menggunakan bahasa Belanda saat ada tentara Jepang. Meski harus berkorban nyawa, Letnan Belanda tersebut tidak merasa menyesal dan tidak merasa takut dihukum pancung karena dia sudah menjalankan tugas dan kewajibannya.
Pak Suparto juga mengajak saya meninjau ruang pribadinya. Masuk kesana saya langsung betah karena ada buku 1 lemari

"Wah mas, anak saya bilang kok berantakan sekali..." yang saya jawab bahwa kadang kala berantakan itu harus dilihat dari sisi cara pandang. Bagi saya yang penggemar buku dan senang menulis, buku yang terhampar di meja bukanlah sesuatu yang aneh karena bisa saja saya membaca beberapa buku sekaligus dalam satu kesempatan.

Pak Suparto berkali-kali bilang bahwa beliau gaptek namun saya tidak menganggapnya demikian. Menjawab email saya secara pribadi dan mengisi artikel di blognya merupakan bukti bahwa beliau akrab dengan teknologi, terutama yang terkait dengan penulisan.
Satu hal yang saya ingat dan resapi dalam pertemuan kemarin adalah semangat pak Suparto dalam mencerdaskan masyarakat. Pembaca buku pak Suparto pasti paham bahwa banyak kandungan idealisme dalam tiap bukunya. Pak Suparto berprinsip bahwa masyarakat Jawa khususnya dan Indonesia umumnya bisa maju jika orang-orangnya senang membaca. Membaca adalah kunci untuk membangun pola pikir dan kemampuan generasi mendatang. Untuk mendukung idenya ini, beliau bahkan membiayai sendiri pencetakan beberapa bukunya.
Rasanya singkat sekali pertemuan saya kemarin meski kami sudah mengobrol berbagai topik. Saya berpamitan pulang menjelang jam 11 siang dan mengundang pak Suparto Brata untuk singgah ke tempat saya jika ada acara ke Jakarta atau Bekasi. Kebetulan sekali salah satu putra pak Suparto Brata tinggal di Bekasi sehingga saya sampaikan bahwa saya bisa menjemputnya jika satu waktu main ke Bekasi.
Masyarakat Jawa dan Indonesia harus bersyukur memiliki sastrawan besar pak Suparto Brata. Idealisme, filosofi dan kemampuannya sangat sayang jika kurang dikenal dan dimaknai orang banyak.
Bagi para wanita, bacalah buku-buku pak Suparto Brata dan dapatkan semangat
wanita yang ulet berwawasan luas. Wanita mandiri yang berpendidikan, bekerja, berkeluarga, dan bertindak tanduk halus, tidak
meninggalkan sifat khas dan sopan santun keluarga.Link Website :
- Personal Blog
- Personal Blog @ Blogspot
- Wikipedia Entry
- Wikpedia (Basa Jawi)