Usia 40

Seorang rekan, mas Dedi Gunawan menulis status menarik di account Facebooknya, yang disampaikan oleh tutornya saat mengikuti kursus membuat bakso :

Rosulullah itu setelah usia 40th udah total fokus memikirkan umat. Dan saya jg demikian, sudah tidak lagi mengenai diri sendiri, namun saya sudah harus fokus total mengenai kebermanfaatan thd orang lain….

Status itu menarik, sebagai bagian dari review pribadi. Usia 40 harusnya sudah selesai dengan urusan pribadi, dengan diri sendiri. Sudah selesai dengan urusan pemenuhan kebutuhan keluarga. Sudah memikirkan kebermanfaatan diri sendiri terhadap masyarakat. Kalaupun belum sepenuhnya, porsi kebermanfaatan pada masyarakat lebih besar dibanding untuk urusan diri sendiri.

Bagaimana kita bisa berpikir kebermanfaatan untuk orang lain atau untuk masyarakat, jika kita sendiri masih terseok-seok memenuhi kebutuhan hidup pribadi dan keluarga? Berarti ada yang salah dengan prioritas dan strategi yang kita lakukan selama ini. Jangan-jangan malah tanpa prioritas tanpa strategi, menjalani hidup sebagaimana air mengalir apa yang ketemu itu yang dilakukan apa yang didapat itu yang dimakan…

Menjalani hidup sebagaimana air mengalir memang bagus untuk status dan tulisan di novel, namun harus diterjemahkan dengan baik ke kondisi masing-masing. Jangan sampai statusnya keren namun kenyataannya nggak sesuai.

Urusan kebermanfaatan untuk masyarakat bahkan bisa dilakukan tanpa harus menunggu segala sesuatu sempurna. Tanpa menunggu kita kaya raya, semua anak sudah lulus kuliah, sudah tidak ada tanggungan. Karena tanggungan dan urusan selalu ada. Saat anak sekolah, nanti ada tanggungan biaya sekolah. Ada tanggungan biaya kuliah. Ada urusan pernikahan anak. Ada ini dan itu, nggak ada habisnya. Kalau kita menunggu waktu yang tepat, mungkin usia kita sudah tidak produktif lagi. Kita malah jadi sibuk mengurus kesehatan kita sendiri.

Semua dari kita suatu saat akan pulang.
Sumber Gambar : https://pixabay.com/en/sunset-birds-flying-sky-colorful-100367/

Saya tidak katakan segalanya serba mudah hanya gara-gara kita berusaha untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Juga tidak lantas kita mempersulit diri sendiri dengan berusaha bermanfaat bagi pihak lain lantas melupakan keperluan kita dan keluarga. Jika belum sanggup mendirikan pohon kebaikan bagi sesama, minimal kita sudah menyiapkan bibitnya. Minimal kita sudah menyemainya. Bukan menunggu segala sesuatunya siap dan baru memulainya. Kita bahkan bisa memulainya dari hal yang paling sederhana.

Saat saya berinvestasi peer to peer lending, saya berusaha memilih keseimbangan antara membantu masyarakat dengan niat profit. Misalnya saya memilih Ammana, selain karena berlandaskan prinsip syariah, juga karena Ammana mendayagunakan koperasi dan BMT (Baitul Maal wa Tamwil) dan target peminjamnya adalah warga masyarakat dan UKM yang butuh modal tidak terlampau besar. Mungkin saja ada peluang tidak tepat sasaran, namun minimal investasi yang ada sudah dipilih dari beberapa pilihan terbaik.

Saat saya mendapat hasil kebun, apakah ada kebermanfaatan untuk masyarakat sekitar. Saat saya membuat kolam ikan, apakah ada kebermanfaatannya bagi lingkungan. Bahkan saat saya mengumpulkan buku-buku, majalah dan literatur koleksi, mungkin ada manfaat yang lebih besar yang bisa didapat jika saya menempatkannya di Taman Bacaan dan tidak sekedar menyimpannya di rumah sampai lapuk.

Status mas Dedi Gunawan diatas bagus sebagai pengingat, bahwa “Sebaik-baik manusia, adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Bahwa proses menjadi bermanfaat itu berbeda-beda tahapannya, tentu itu sesuatu yang natural karena setiap orang berbeda-beda juga posisi dan situasinya.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.