Upaya Mencapai FIRE dan Rambu-Rambu Investasi

Untuk mencapai target FIRE (Financial Independence Retirement Early), kita harus mengoptimalkan investasi. Sebelum berusaha mengoptimalkan investasi, kita harus mencukupi kebutuhan hidup kita dan keluarga terlebih dahulu. Sederhananya, susah bagi kita berpikir untuk investasi jika kebutuhan hidup sehari-hari belum bisa dipenuhi.

Untuk mengoptimalkan nilai investasi, kita harus tetap memperhatikan rambu-rambu keamanan investasi, agar upaya kita dalam mengejar level pencapaian FIRE tidak berubah menjadi tragedi. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi :

  1. Jangan mengejar investasi bodong. Hanya gara-gara ingin bisa segera memenuhi target FIRE bukan berarti tidak memperhatikan keamanan investasi. Kalau pikiran kita terbuka, investasi bodong mudah dicheck. Jika ada investasi menawarkan keuntungan tidak masuk akal, misalnya keuntungan rutin 10% per bulan, pasti itu mencurigakan. Jangan silau hanya karena keuntungan yang terlihat besar padahal ternyata berupa skema ponzi, keuntungan didapat dari anggota yang mendaftar belakangan sampai akhirnya meledak
  2. Check apakah investasi tersebut mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau tidak. Sebaiknya hindari investasi yang tidak mendapat izin dari OJK.
  3. Jangan mengumpulkan telur dalam satu keranjang. Meski kita sedemikian yakin pada suatu investasi, jangan lantas seluruh asset produktif kita ditempatkan pada satu jenis investasi. Misalnya karena kita yakin pada perkembangan bursa, seluruh asset produktif ditempatkan pada saham. Saat posisi bagus mungkin bisa mendapat gain yang tinggi namun resiko loss juga sangat besar. Mas Teguh Hidayat yang biasanya membahas mengenai value investing mengambil skema moderat, hanya menempatkan investasi pada satu saham maksimal 20-25% dari keseluruhan nilai investasi meskipun sangat yakin pada saham tersebut.
  4. Jangan menyimpan seluruh asset dan kekayaan dalam investasi, sampai-sampai tidak ada cadangan untuk kebutuhan dana darurat. Tetap buat cadangan dana tunai pada rekening yang mudah diambil sewaktu-waktu minimal untuk 1 bulan kebutuhan. Meski kita punya asset berlimpah, jika tidak memegang uang saat dibutuhkan tetap saja kita merasa jadi orang yang merana 🙂
  5. Jangan berhutang untuk investasi. Dalam hal investasi, saya termasuk konservatif. Saya hanya menginvestasikan kelebihan pendapatan. Meski saya yakin pada suatu investasi, saya menghindari pinjam uang atau berhutang hanya untuk memperbesar porsi investasi. Ada rekan terjebak hutang yang tidak produktif karena memaksakan diri berhutang untuk investasi properti yang kemudian terkendala kasus tertentu
  6. Dahulukan pembayaran hutang dibanding investasi. Jika saya memiliki uang 6 juta rupiah dan punya hutang 5 juta rupiah, saya memilih untuk melunasi hutang 5 juta dan berinvestasi dengan 1 juta rupiah saja. Saya menghindari investasi keseluruhan uang dengan asumsi bahwa saya bisa mendapatkan return yang lebih besar yang bisa digunakan untuk melunasi hutang sekaligus masih memiliki kelebihan keuntungan. Pada kenyataannya, yang kerap terjadi adalah investasi yang nyangkut karena kita sendiri memiliki sangkutan kewajiban pada pihak lain
  7. Sesuaikan profil resiko dengan skema investasi. Saat masih muda, mungkin kita bisa memilih skema investasi 10-20-30-40 dengan profil resiko low risk low return menuju high risk high return. Jadi 10% misalnya ditempatkan pada sukuk atau obligasi pemerintah dengan hasil investasi relatif rendah namun juga rendah resiko, sedangkan 40% ditempatkan pada investasi dengan kemungkinan gain tinggi namun tinggi juga resikonya. Saat usia beranjak senja, skema investasinya mungkin dibalik seiring dengan profil resiko yang dipilih

Berdasarkan pengalaman, hampir tidak ada suatu investasi yang selalu memberikan return terbaik tanpa resiko. Saya ambil contoh peer to peer lending seperti via Ammana atau Investree. Secara return lebih baik dari deposito atau sukuk atau obligasi pemerintah. Bahkan lebih baik dari reksadana saham pasar uang atau fixed income. Namun resiko kegagalan tetap ada (dan selalu disampaikan dalam akad investasinya). Selain itu ada juga resiko likuiditas. Misalnya investasi selama 12 bulan, maka nilainya tidak bisa dicairkan sewaktu-waktu, harus menunggu selama 12 bulan baru cair semua. Hal ini tentu berbeda dibandingkan deposito, reksadana maupun saham yang memungkinkan untuk dicairkan secara mendadak dengan resiko penalti atau kerugian investasi.

Investasi tanah dan properti juga potensial mendapatkan return yang baik, namun tidak likuid karena tidak mudah untuk dicairkan sewaktu-waktu sebagaimana halnya investasi dalam bentuk emas atau logam mulia.

Cara termudah menentukan profil resiko adalah dengan melihat lama waktu investasi. Jika return investasi ditujukan untuk jangka panjang dan untuk keperluan yang relatif tidak terlalu urgent-misalnya untuk liburan ke luar negeri-kita bisa memilih profile resiko yang lebih tinggi karena punya proteksi kalaupun gagal tidak lantas membuat cadangan biaya hidup kita terancam. Nilai investasi untuk kuliah anak, mungkin harus memilih profil resiko lebih rendah jika usianya sudah cukup dewasa, misalnya sudah usia SMP sehingga waktu investasi sekitar 5-6 tahun saja. Jika usia anak masih bayi dan ada waktu 15-17 tahun untuk waktu investasi, mungkin kita bisa lebih agresif menempatkannya pada profil resiko yang lebih tinggi dengan kemungkinan gain yang lebih tinggi pula.

Itu sebabnya, berinvestasi memang sebaiknya dilakukan sejak usia muda, karena memiliki keleluasan untuk memilih profil resiko sekaligus bisa belajar dari kemungkinan kegagalan yang dialami. Berbeda dengan saya yang memiliki target FIRE sebelum usia 50 sementara usia saat ini sudah mendekati 43 tahun. Artinya secara teoritis saya memiliki alokasi waktu sekitar 7 tahun untuk bisa mencapai level FIRE. Dari sisi profil resiko saya masuk dalam kategori moderat mendekati low sementara dari sisi target investasi, saya justru harus memilih moderat mendekati high risk agar nilai investasinya bisa mencapai target yang diharapkan.

Untuk saat ini saya menempatkan skema investasi 10-20-30-40 dengan porsi high risk high return pada porsi terbesar.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.