Tips Mengurangi Konsumsi Gula : Juice Pare

Saat masih tinggal di Tambun, almarhumah enyak sering menasihati saya untuk mengurangi konsumsi gula. Biasanya saya suka minuman manis dan makanan manis.

Masalahnya, mengurangi gula bukan hal yang mudah bagi saya yang sudah sedemikian terbiasa dengan gula. Minum teh pahit bukan pilihan karena rasanya jadi hambar.

Saya pernah mencoba mengganti gula dengan pemanis less sugar. Hanya bertahan beberapa lama. Saya juga pernah mengganti kecap manis dengan kecap less sugar. Juga tidak bertahan lama.

Akhirnya saya bisa mengurangi konsumsi gula versi saya, karena blessing in disguise. Karena kebetulan.

Untuk memanfaatkan ruang/studio senam di rumah, saya melakukan kegiatan fitness personal berbekal aplikasi di HP. Kebetulan kegiatan Yoga dihentikan sementara waktu saat renovasi ruangan dan berlanjut karena pandemi covid-19.

Untuk mendukung kegiatan fitness personal itu, saya berpikir apa yang bisa dilakukan dari sisi makanan atau minuman. Untuk makanan, misalnya mengurangi konsumsi nasi. Untuk minuman, akhirnya saya memilih juice pare sebagai minuman untuk sarapan saya. Juice pare saya pilih berdasarkan riset kecil-kecilan melalui Google mengenai juice yang bermanfaat untuk kesehatan.

Jadi saat bangun tidur perut kosong, saya akan membuat juice buah pare dengan air tanpa tambahan apa-apa. Bagaimana rasanya? Nggak keruan hahaha… ,

Saya makan gado-gado saja selalu tanpa pare. Apalagi ini pare mentah di juice hanya dengan air. Awalnya saya tambahkan madu, tapi rasanya seperti main games dengan cheat hehehe… Jadi hari berikutnya saya meniadakan opsi itu.

Karena saya menyenangi buah nanas madu, saya memilih itu sebagai campurannya. Sebagai eksperimen, secuil nanas madu saya juice dengan pare dan air putih. Hasilnya much better, jauh lebih baik, meski ya tetap saja pahit.

Agar lebih mudah minum 1 gelas juice pare, saya membuat taktik. Pagi-pagi setelah shalat shubuh, saya langsung fitness di ruang studio senam. AC sengaja saya matikan agar lebih mudah beradaptasi. Saya memilih gerakan fitness secara bertahap sesuai rencana di aplikasi. Misalnya di hari pertama sampai ketiga, gerakan plank hanya 20 detik, kemudian jadi 26 detik dan berlanjut terus sehingga di minggu ke empat fitness, saya bisa menjalankan plank selama 1 menit, pencapaian luar biasa buat saya yang awalnya setengah semaput buat plank 30 detik hehehe…

Setelah fitness dan badan basah dengan keringat, saya naik ke atap rumah, melihat-lihat hidroponik kecil-kecilan dan memberi makan ikan. Saya keatap sambil membawa juice pare. Sambil melihat pemandangan indah, saya minum juice pare itu. Karena haus setelah berolahraga dan karena suasana sejuk, saya bisa menghabiskan juice pare satu gelas dalam waktu singkat. Meski rasanya tetap pahit, saya minum seperti tidak pakai indra perasa dan lama-lama biasa saja jadinya.

Karena terbiasa minum juice pare yang pahit, saat saya minum teh dengan sesendok kecil madu, rasanya menjadi sangat manis. Jadi sama seperti orang yang kehausan kemudian diberikan air, air sesendok menjadi sangat berharga.

Jangankan minum teh tambah madu, minum teh normal saja tanpa tambahan apa-apa masih terasa lebih baik daripada minum juice pare kwkwkw…

Apa yang dirasakan dari minum juice pare tambah nanas? Rasanya sih tetap gendut, karena meski bisa mempertahankan rasa kenyang, porsi makan saya rasanya jadi bertambah. Okelah itu berarti urusan berikutnya, minimal goal untuk mengurangi konsumsi gula akhirnya bisa tercapai dan harapannya bisa permanen.

Untuk aplikasi fitness personalnya, ada di screenshot gambar ya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.