Ternak Bebek

Karena kondisi masih kurang sehat, sementara waktu saya istirahat di rumah, tidak ke markas Excellent. Meski demikian, beberapa hal yang bisa dilakukan secara santai tetap saya lakukan, salah satunya mengenai kegiatan TBFH (Ternak Bebek From Home) ?

Tadi pagi saya mendapat laporan dari Indra, cucu pak Amoy yang sehari-hari mengurus rumah kabin Zeze Zahra. Indra menginformasikan bahwa bebek yang dipelihara di rumah kabin Zeze Zahra sudah bertelur 6 butir. Padahal bebek-bebek ini baru saja datang hari Sabtu kemarin dan perkiraan butuh waktu 1 bulan baru mulai bertelur.

Bebek di rumah kabin Zeze Zahra ini memang terpisah dari bebek yang ada di rumah pak Amoy. Di rumah pak Amoy ada 30 ekor, di rumah kabin ada 38 ekor, terdiri dari 32 ekor bebek betina dan 6 ekor bebek jantan.

6 butir telur dari 32 ekor bebek artinya 6/32 = 18.75%. Itu adalah produktifitas awal bebek di rumah kabin Zeze Zahra. Mungkin saja besok lebih rendah, mungkin juga lebih tinggi, namun saat mulai masuk usia petelur, persentasenya akan lebih tinggi.

Saya biasanya senang model usaha jelas seperti ini. Jelas awalannya. Jelas modal usahanya. Jelas perhitungannya. Tidak bicara nilai-nilai yang besar. Tidak hype. Seperti yang terjadi pada model investasi ilegal, menjanjikan keuntungan fixed tiap bulan diatas 10 persen. Malah ada yang sampai 30 persen.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa bisa berjualan telur bebek di toko online Zeze Zahra, karena kalau biaya kirimnya saja misalnya 15 ribu dan harga 5 butir telur bebek adalah Rp. 12.500,-, berarti lebih mahal biaya kirim dong.

Nah, jadi begini. Buat saya pribadi, ada beberapa alasan, antara lain :

  1. Namanya usaha, yang saya lakukan adalah menggelar lapak. Soal rezeki biar urusan yang maha kuasa yang mengatur. Toh kerugian saya juga tidak banyak kok, hanya meluangkan waktu membuat foto-foto telur bebek, membuat tulisan deskripsi, menimbang telur dan kemudian mempostingnya di toko online. Anggaplah saya rugi satu hari penuh mencoba menjual telur bebek di Tokopedia tanpa ada satupun pembeli setelah berbulan-bulan berjualan, hehehe…

    Sama seperti berjualan pisang. Apakah ada orang yang “cukup gila” untuk membeli pisang secara online? Apa susahnya membeli di tukang sayur dekat rumah?

    Yah, nyatanya ada kok yang membeli. Apakah mereka membeli karena kasihan pada saya atau lagi iseng saja, ya nggak tahu ya. Kalau sudah gelar lapak dan setahun nggak ada satupun yang beli, mungkin saya akan berpikir ulang ?
  2. Saya tetap melakukan ikhtiar jual telur secara offline, melalui kios dan warung yang dititipkan. Jadi bagian dari pembelajaran usaha dan merintis usaha baru dari nol. Bukan pekerjaan mudah merintis jalur penjualan, jadi perlu belajar langsung sebelum nantinya bisa didelegasikan.
  3. Ada pembeli yang lebih mementingkan kualitas dibandingkan harga. Mungkin seperti saya juga, paling sebel kalau mau bikin indomie rebus + telur atau makanan lain yang menggunakan telur, eh telurnya nggak bagus. Makanya kebiasaan saya selalu membuka telur di wadah terpisah agar tidak merusak makanan.

    Jadi kalau ada yang menjual telur dengan kualitas bagus, mengapa tidak saya ambil? Selisih beberapa rupiah per butir lebih berharga bagi kesehatan saya dibandingkan saya mengambil sisi penghematan yang salah.
  4. Gaya hidup milenial, terutama di perkotaan biasanya sudah sangat terbiasa pada e-commerce. Beli pisang goreng saja via gofood kok, meski kadang harga pisang goreng lebih murah daripada biaya gofoodnya. Bagi mereka, membeli secara online sudah jadi kebiasaan, apalagi jika butuhnya cepat.
  5. Menjual telur bebek adalah bagian dari ikhtiar dan upaya melengkapi jenis penjualan di Zeze Zahra. Awalnya saya mulai dengan berjualan produk buah pisang, kemudian ditambah olahan pisang, dilanjut dengan bibit pisang. Sekarang ditambah dengan telur bebek, nanti berlanjut ke bibit tanaman, benih tanaman, media tanam, bibit ikan, apu-apu, eceng gondok dan lain-lain.

    Kalau kata orang Betawi, apa saja yang bisa dijual akan dijual ? Mungkin lumpur sawah juga akan dijual kalau ada orang kota yang mencari lumpur sawah original untuk ternak belut di pekarangan misalnya ?
  6. Saya punya kebiasaan “logika normal” saat membeli online. Misalnya saya membeli lampu panel surya. Harganya sekian ratus ribu. Biaya pengiriman sekian puluh ribu. Daripada nanggung, saya biasanya membeli beberapa barang sekalian.

    Contoh lain saat saya membeli bibit ikan. Satu ekor bibit ikan Rp. 1000. Kalau saya beli 50 ekor dan pakai kiriman instant, biaya kirim antara 15 sd 20 ribu. Sayang, karena harga ikan sendiri hanya 50 ribu. Jadi supaya nggak besar pasak daripada tiang, saya membeli bibit ikan lain atau barang lain hingga total biaya pengirimannya jadi masuk akal. Jadi misalnya membeli telur bebek 5 butir biaya kirimnya 15 ribu, boleh kok sekalian beli telur bebek 10 atau 20 butir, ditambah dengan pisang dan lain-lain ?
  7. Sebenarnya ini bagian juga dari upaya pemberdayaan kecil-kecilan. Saya ingin Zeze Zahra menjadi penyalur hasil alam masyarakat di sekitar rumah kabin. Saat ini memang baru telur bebek, mengingat lingkungan di sekitar rumah kabin Zeze Zahra adalah persawahan. Nantinya bisa berkembang ke jenis hasil alam lainnya.

Saat ini saya mendapatkan telur bebek dari pak Amoy yang mengurus sawah di Karawang. Ditambah dengan telur dari ternak tetangga di sekitar rumah kabin. Plus ditambah dari bebek yang diternak di area rumah kabin itu sendiri (Baru dimulai Sabtu kemarin, terpisah dari rumah kabin tapi tidak terlalu jauh letaknya).

Jika demand/kebutuhan telurnya mulai ada, mulai rutin dan mulai banyak, rencana saya ke depan adalah bekerja sama dengan pemerintah desa setempat, misalnya model kerja sama pemberian modal usaha.

Anggaplah misalnya 1 ekor bebek petelur remaja biayanya Rp. 50 ribu. 10 ekor bebek totalnya 500 ribu. Jika satu keluarga mendapat modal usaha Rp. 500 ribu dan total ada 10 keluarga, berarti kebutuhannya adalah Rp. 5 juta.

Rumah Kabin Zeze Zahra nantinya bisa menyediakan dana usaha tersebut, dengan hasil balikan berupa telur fresh. Apakah mekanismenya dalam bentuk pinjaman modal usaha atau pemberian atau yang lain, nantinya akan didetailkan. Yang jelas niat awalnya adalah untuk membantu lingkungan sekitar rumah kabin Zeze Zahra, agar keberadaannya bisa menjadi manfaat, bukan sekedar tempat saya bersantai di akhir pekan.

Sebelum itu semua, konsentrasi sekarang ini adalah menjual telur. Jadi kapan kamu mau pesan telur di Zeze Zahra, hehehe…

https://tokopedia.link/n6ZuIBmV6lb

Catatan : Jangan komplain, “Kok tulisannya panjang amat, cape bacanya”. Lagian salahnya, kok dibaca ?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.