Saling Menghargai

Bulan November lalu saat baru awal membuka kios pisang, saya mendapat kiriman pisang Tanduk dari kawan. Dia mengambil pisang dari Sukabumi.

Khusus pisang Tanduk memang belum produktif di kebun sendiri, jadi saya mendatangkannya dari Sukabumi.

Saya kenal dia lewat group komunitas ini. Sebelum akhirnya mengirim pisang (ini pengiriman kedua, pengiriman pertama sekitar 2 minggu sebelumnya), kami deal dulu soal harga. Pertanyaannya juga njelimet, karena dia jual per kg sedangkan saya eceran per buah.

Saat saya minta foto pisang, dia kirimkan fotonya. Saat saya tanya berat rata-rata per tandan, dia info beratnya. Giliran saya tanya, “Jumlah buah per tandan rata-rata berapa?”, jawaban dia kayaknya setengah sebel,

“Wah gak pernah hitung kang. Coba akang hitung di foto itu”

Lah, gimana bisa saya hitung hehehe…

Saya maklum juga, namanya penjual dan pedagang, masing-masing belum kenal. Pernah juga dapat pengalaman pahit, jadi masing-masing berusaha melindungi diri sendiri, kalau kira-kira kurang cocok ya tidak lanjut.

Agar bisa tahu perkiraan, saya membeli pisang Tanduk 1 tandan di pasar baru Bekasi. Saya timbang kemudian saya hitung buahnya. Meski mungkin tidak tepat 100%, minimal saya punya perkiraan jumlah per tandan dan harga jual atau harga beli per buah atau per tandan.

Selanjutnya adalah kesepakatan soal jumlah pesanan. Dia tanya, saya mau ambil berapa ton.

Zeze Zahra ini masih kios kecil, jadi kalau ambil hitungan ton, bisa-bisa saya yang harus menghabiskan pisangnya. Makan pisang tanduk segitu banyak, bisa-bisa nanti keluar buntut (ekor) hehehe…

Akhirnya deal lagi, mereka bawa beberapa kwintal sekalian kirim ke tempat lain. Nanti saya boleh pilih pisang yang mau saya ambil.

Saat mereka datang, saya konsisten dengan janji saya. Mereka kan datang dari jauh, jadi saya juga menghargai itu. Apalagi bicara bisnis bukan sekali dua kali, tapi harapannya panjang. Kalau mereka bisa supply barang bagus, saya bisa jual mudah, untungnya bisa di kedua belah pihak.

Saya juga sampaikan soal penanganan pasca panen. Sayang kalau pisang pada patah karena dilempar. Atau pisang muda sudah ditebang. Karena boleh pilih pisang yang saya ambil, saya memilih kriteria yang sesuai dengan yang saya inginkan. Cara ini paling tidak bisa menjadi masukan ke petani agar harga pisang tidak jatuh dan pembeli akhir juga tidak kecewa.

Saya pernah baca di salah satu komunitas petani pisang mengenai petani yang pisangnya ditawar pedagang, setelah deal pisang diangkut tapi belum dibayar. Saat ditagih, pedagang bilang pisangnya kecil atau kurang bagus dan lain-lain. Nyesek buat petani, karena kan deal awalnya bukan begitu.

Karena saya juga petani, saya nggak mau seperti itu. Kalau nggak deal, ya lebih baik dari awal, biar sama-sama oke.

Karena baru awal usaha, mungkin bagi veteran pedagang atau petani, hal ini dianggap idealisme pemula. Tapi saya pikir bicara usaha dan bisnis yang dilandasi niat baik pasti pinginnya panjang dan bagus bagi kedua belah pihak.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.