Rencana-Rencana dan Ukuran Pencapaiannya

Saya punya rencana, ingin punya tabungan valas yang equivalent dengan 50 ribu US$ di akhir tahun ini. Saat ini statusnya berkhayal 😛 . Saya ingin bisa mengirimkan beberapa team saya untuk mengambil sertifikasi keahlian internasional. Statusnya juga masih berkhayal. Saya ingin liburan ke luar negeri. Tidak berkhayal namun belum tahu kapan akan direalisasikan. Beberapa tahun mendatang saya ingin punya beberapa asset, namun juga belum tahu asset dalam bentuk apa dan kapan akan dicapai.

Sumber gambar:pixabay

Jika melihat ke belakang, saya bisa meraih beberapa tujuan dengan cara menuliskannya. Bisa di blog dalam bentuk resolusi pribadi, bisa juga dalam bentuk catatan pribadi. Saat masih bekerja di pabrik, saya pernah menulis ingin punya sepeda motor, mobil, tanah dan rumah. Saat itu khayalan tingkat tinggi, namun memberikan saya naluri untuk mencapainya. Naluri itu membimbing saya untuk mencapainya, setelah sekian tahun berselang.

Jadi, apa salahnya membuat list keinginan, karena hal itu kan bisa menuntun naluri kita untuk mencapainya.

Masalahnya adalah, membuat list keinginan atau tujuan tanpa membuat perencanaan yang jelas sama halnya memberikan masa depan kita pada ketidakpastian. Mungkin benar dengan naluri saja kita bisa berhasil. Mungkin juga benar dengan naluri kita bisa mencapai apa yang diinginkan. Tapi apakah itu bisa dijamin?

Tentu saja tidak. Perencanaan yang baik saja belum tentu menghasilkan pencapaian keinginan dan tujuan, apalagi jika tanpa perencanaan sama sekali. Kita mungkin bisa berargumentasi bahwa kalau sudah takdir, namanya kita sukses pasti akan tercapai juga, bagaimanapun caranya. Argumentasi itu kelihatan religius namun sebenarnya tidak bertanggung jawab. Jika keyakinan religius yang dijadikan argumentasi, bahkan agama saja mengajarkan kita untuk berusaha sebaik-baiknya dulu baru menerima hasilnya sebagai takdir. Bukan tanpa usaha apa-apa kemudian menerima takdir.

Keinginan yang baik dan tujuan yang hendak dicapai harus didukung oleh kejelasan tahapan pencapaiannya. Harus ada ukurannya. Measurement-nya. Jika saya ingin memiliki tabungan sekian juta atau sekian ribu USD, saya harus mendefinisikan rencana untuk mencapainya. Masuk akal atau tidak. Bukan sekedar berniat tapi tidak memiliki ukuran untuk mencapainya.

Saya pernah mengisi briefing pagi di Excellent dengan mengilustrasikan hal ini dalam bentuk rencana liburan. Misalnya kita punya keinginan liburan ke suatu negara, maka pertanyaan pertama adalah, kapan rencana itu hendak dilakukan? Jika rencana tersebut dilaksanakan di tahun depan, dengan biaya rata-rata sebesar Rp. 30 juta dan kita menabung setiap bulan sebesar 1 juta, berarti perencanaannya nggak bertanggung jawab. 1 juta per bulan berarti 12 juta per tahun. Masih kurang 18 juta rupiah, itu harus dipenuhi dari mana? Kita nggak bisa bilang, “Ya siapa tahu besok-besok ada rezeki, namanya juga niat baik…”. Pola pikir itu yang menurut saya kurang tepat.

Ukurannya harus sesuai. Jika ingin mencapai 30 juta dalam setahun, maka tabungan per bulan minimal 2.5 juta. Jika ingin tetap menabung 1 juta per bulan, berarti waktunya diubah menjadi 2.5 tahun. Jika ingin menabung 1 juta per bulan namun dalam waktu 1 tahun bisa mencapai 30 juta, itu simply tidak bertanggung jawab. Simply tidak bisa. Kalau memang ada perkiraan misalnya mendapat uang bonus atau uang THR yang hendak dimasukkan sebagai komponen penambah, maka item tersebut harus juga dimasukkan kedalam perencanaan sehingga rencana yang dibuat menjadi masuk akal.

Jika saya ingin mengembangkan omset Excellent sebesar 30 persen daripada posisi saat ini maka saya harus membuat summary dengan isi berupa :

  1. Keadaan saat ini atau data saat ini
  2. Target 30% dalam bentuk angka pencapaian
  3. Proses yang akan dilakukan untuk mencapai target tersebut
  4. Estimasi waktu dan ukuran yang digunakan untuk memastikan pencapaiannya

Jadi bukan lagi menitikberatkan pada naluri melainkan sudah membuat analisa bagaimana tujuan tersebut bisa dicapai dengan dukungan data, informasi dan perencanaan yang baik.

Saya kemarin membaca sebuah publikasi startup mengenai istilah “Growth Hack”. Investor ingin investasinya kembali 10 kali lipat dalam waktu 10 tahun, maka investor akan membantu startup mendefinisikan langkah-langkah agar tujuan investasi tersebut tercapai. Diberikan ukuran dan target yang jelas hingga mudah dicheck dan dipertimbangkan kembali jika ada hasil yang tidak sesuai harapan.

Saat ini saya menerapkan skema diatas dalam urusan personal maupun terkait usaha di Excellent. Saya ingin memiliki ukuran yang jelas mengenai rencana yang ingin saya capai di usia 50 tahun dan perkembangan Excellent saat usia saya mencapai 50 tahun.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.