Rencana Melanjutkan Kuliah

Saya mengambil kuliah Diploma 3 (D3) Manajemen Informatika di STMIK Bani Saleh Bekasi tahun 1996. Satu tahun terlambat dari tahun lulus SMA di tahun 1995 karena saya memilih untuk bekerja di pabrik terlebih dahulu. Pilihan yang lebih realistis saat itu.

Dengan pertimbangan kemajuan di masa depan, saya memberanikan diri untuk mengambil kuliah, meski untuk menjalankannya butuh perjuangan sendiri. Saya terinspirasi oleh usaha Adnan, rekan saya yang sudah lebih dulu mengambil kuliah sambil kerja.

Saya harus mengambil kuliah shift, seminggu pagi seminggu malam, mengikuti jadwal pekerjaan saya sebagai operator produksi di pabrik. Capek sekali karena saat kuliah pagi, sore hingga malam harus bekerja. Saat bekerja pagi, kuliah malam dilaksanakan dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Saya ingat saat pulang kuliah malam, sampai di terminal lampunya sudah gelap. Bis-bis sudah mulai dikandangkan dan suasana yang ada adalah suasana lelah beranjak hendak tidur.

Tapi tidak apa. Lelah yang dirasakan dan perjuangan yang dijalankan mendapat reward yang sepadan. Saya bisa berpindah jalur dari awalnya operator produksi di pabrik menjadi Assisten Lab di kampus. Kemudian menjadi staff IT di sebuah perusahaan di Cikarang, kemudian menjadi supervisor IT dan berlanjut hingga akhirnya saya mengundurkan diri dari perusahaan dan membangun Excellent.

Saat bekerja sebagai supervisor IT di sebuah perusahaan di Tanjung Priok, saya dan isteri sempat melanjutkan kuliah, agar bisa mendapat ijazah Strata 1 atau S1. Kami berdua mengambil jurusan Teknik Informatika. Sayangnya, kuliah sambil bekerja saat sudah menikah dan punya keluarga membutuhkan perjuangan yang lebih kuat. Saat tinggal menyelesaikan skripsi, semangat saya menurun hingga akhirnya skripsi terbengkalai. Sempat mendapat dorongan dari beberapa rekan untuk melanjutkan kuliah, namun saya lebih intens membangun usaha sehingga akhirnya status saya menjadi mahasiswa abadi yang belum lulus-lulus.

Yang lebih disayangkan adalah, isteri saya My Dear Rey jadi terbawa tidak lulus juga. Padahal titel S1 untuk isteri lebih bermanfaat dibandingkan untuk saya pribadi.

Pada tahun 2018, saya sempat mereview beberapa keputusan saya dan mengambil beberapa kegiatan di hari kerja. Beberapa kali juga bekerja di luar markas Excellent. Hal tersebut membuat saya bisa mengkaji beberapa kegiatan yang dulu sulit saya lakukan namun saat ini sudah lebih leluasa dijalankan. Misalnya kursus stir mobil dan fitness/gym untuk kesehatan badan. Kesemuanya saya lakukan di hari kerja jam kerja dan saya baru menyadari bahwa saya punya waktu luang karena beberapa pekerjaan di Excellent sudah bisa didelegasikan.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut, saya berdiskusi dengan isteri, mengapa tidak mencoba meneruskan kuliah yang sempat tertunda. Sayang juga jika tidak dilanjutkan. Untuk isteri bisa menjadi nilai tambah untuk kepangkatan ditempat kerja, sedangkan untuk saya pribadi sebagai pemenuhan janji pribadi.

Pada bulan Desember 2018 saya mencari informasi lebih detail ke kampus almamater mengenai mekanisme melanjutkan kuliah S1. Jika status kemahasiswaan saya dan isteri sudah kadaluarsa karena terlalu lama drop out, tidak apa-apa saya mengambil kuliah lagi. Jika ada mata kuliah yang bisa dikonversikan dan saya harus mengambil mata kuliah yang memang harus diambil, tidak apa-apa saya ambil dengan mengikuti kelas kuliah reguler.

Saya bahkan sudah berancang-ancang, jika misalnya saya kesulitan mengetik makalah skripsi atau ada pekerjaan lain yang memerlukan bantuan, tidak masalah untuk merekrut seorang assisten, jadi apa yang saya rencanakan dan cita-citakan bisa terlaksana dengan baik.

Dulu saya berpikir, sudah kayak pejabat atau artis saja kok sampai butuh assisten. Namun setelah saya kaji lebih jauh, sepanjang assisten tersebut membantu melancarkan kegiatan saya dan tidak melanggar hukum maupun etika (bukan membuatkan skripsi untuk saya misalnya), harusnya tidak apa-apa. Apalagi jika dengan adanya assisten tersebut membuat waktu penyelesaian target lebih terjamin dan proses kegiatannya lebih efektif dan efisien, tentu hal tersebut sangat make sense untuk dilakukan.

Mudah-mudahan prosesnya bisa lancar dan dalam 1-2 tahun kedepan bisa mendapat target yang diinginkan 😉

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.