Perkembangan Kios Pisang “Zeze Zahra”

Setelah dibuka di hari Minggu 01 November 2020, bagaimana perkembangan penjualan pisang di kios aneka pisang “Zeze Zahra”?

Di screenshot summary yang saya buat bisa terlihat frekuensi penjualan. Hari pertama ada 29 sisir. Hari kedua 12 sisir pisang plus 7 buah pisang tanduk. Hari ketiga (hari ini) sampai dengan siang ini ada penjualan 16 sisir pisang dan 4 buah pisang tanduk.

Apakah sudah sesuai dengan harapan? Relatif. Mengapa? Karena saya bilang pada keluarga agar tidak shock jika berjualan tanpa ada satupun yang terjual. Kalau bicara perasaan, nanti jadi baper dan sedih, hehehe…

Saya bilang pada keluarga, terjual 1 sisir saja di hari pertama buat saya sudah senang. Artinya pecah telur. Artinya goal. Berhasil menjual.

Kalau bisa menjual 29 sisir pisang, oh tentu senang sekali. Melebihi ekspektasi. Melebihi harapan. 1 sisir terjual saja sudah senang, apalagi sampai 29 sisir.

Tapi hati-hati. Hari pertama sih bisa saja penjualan ramai. Karena baru buka. Ada tetangga yang mungkin tidak enak hati saat lewat akhirnya jadi beli. Ada teman yang mendengar saya buka kios pisang mungkin membeli sebagai dukungan moral. Ada juga pembeli yang mungkin exciting atau kaget dan akhirnya beli.

Jadi kalau hari pertama terjual melebihi harapan, harus tetap waspada. Bisa saja hari kedua berkurang. Hari pertama itu hari libur. Pantas agak ramai karena lokasi didepan lapangan olah raga. Hari Senin, Selasa dan selanjutnya bisa berbeda, karena sudah masuk hari kerja.

Ternyata hari kedua tetap ada penjualan. Memang menurun dibawah 50% dibandingkan hari pertama, tapi berarti tetap ada demand. Hari ketiga juga tetap ada penjualan, malah lebih banyak dibandingkan hari kedua. Berarti tinggal menjaga kualitas dan ketersediaan stock.

Saya membuat tabel sederhana di spreadsheet. Ada jumlah penjualan harian (tidak saya tampilkan) dan ada jumlah frekuensi penjualan per hari per pisang. Kalau di IT ini istilahnya big data. Kecil-kecilan. Riset mengenai permintaan per jenis dan klasifikasi tertentu.

Misalnya menurut saya pisang yang enak itu pisang Ambon dan Raja Bulu. Ternyata penjualan terbesar nomor satu adalah pisang kepok, terutama jenis Kepok Kuning. Nomor 2 malah Raja Sereh. Itu kan pisang sepet kalau masih mentah. Ya iyalah, tapi kan orang seneng pisang itu karena rasanya kres-kres dan bentuknya montok.

Saya boleh tidak suka pada jenis pisang tertentu, tapi kalau orang suka pisang itu, ya saya akan ikuti permintaannya. Saya kurang suka pisang Kepok dan Raja Sereh tapi karena itu permintaan nyata di pelanggan, saya akan ikuti hal tersebut. Saya akan “follow the money”

Hari pertama ada yang bertanya pisang Tanduk dan kebetulan saya belum punya stock. Hari Selasa pagi saya sudah mendapatkan stock pisang Tanduk. Hari pertama stock pisang kepok kuning menurun drastis, saya langsung hubungi adik saya untuk kirim tambahan.

Kata orang Kepok putih tidak laku, karena itu buat makanan burung. Tapi ada juga yang mencari jenis kepok itu, tapi yang masih mentah karena hendak dijadikan keripik.

Saat ini datanya baru sampai hari ketiga, jadi memang masih mungkin berubah, tapi paling tidak itu bisa menjadi gambaran awal untuk pengambilan keputusan.

Menunggu kios juga harus luwes. Ada ibu-ibu yang datang dan bingung hendak membeli pisang apa. Saya tanyakan, dia ingin membeli pisang buah atau pisang untuk diolah? Kalau pisang buah, saya tawarkan pisang Ambon (Kuning dan Hijau), pisang Raja Bulu, Pisang Raja Sereh dan Pisang Lampung. Kalau untuk olahan, saya tawarkan pisang Kepok, Pisang Uli, Pisang Nangka dan Pisang Tanduk.

Jadi kita harus luwes memberikan solusi. Bukan sekedar menjual terus terserah mereka. Bisa saja seperti itu, tapi jadi nggak repeat order. Saya saya kalau beli sesuatu merasa dibantu, saya akan repeat order pada yang bersangkutan.

Menunggu kios pisang juga bisa garing kalau tidak ada kegiatan lain. Termangu-mangu menanti pembeli. Kebetulan hobi dan pekerjaan saya di IT, jadi saya bisa sambil bekerja secara remote. Saya juga bisa membuat toko online di Tokopedia atau Shopee atau Bukalapak atau ditempat lain sebagai alternatif penjualan.

Penampilan juga harus rapi dan wangi. Jangan mentang-mentang jualan pisang kita jadi bau pisang semua-muanya. Hehehe… Kalau tampilan kita bersih dan rapi, paling tidak akan selaras dengan kebersihan dari produk yang kita jual.

Saya mau bicara soal penentuan harga pisang, tapi ini saja sepertinya sudah cukup panjang. Jadi nanti dilanjutkan lagi tulisannya di sesi berikutnya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.