Pengalaman Operasi Syaraf Kejepit (Nyeri Tulang Belakang) : Bapak Mertua-Bagian II

Setelah hasil MRI keluar, kami kemudian melakukan sesi konsultasi lanjutan dengan dokter syaraf. Sebelum ke dokter syaraf, saya sempat membaca hasil MRI dan kemudian melakukan googling. Dari hasil googling bahasa-bahasa ilmiah kedokteran itu, kesimpulan awal saya adalah adanya syaraf kejepit pada posisi L4-L5. Kesimpulan awal ini saya sampaikan pada Dear Rey Reny Yuniastuty agar bisa memahami situasinya.

Herniated nucleus pulposus (HNP) atau yang lebih dikenal masyarakat dengan nama saraf terjepit merupakan gangguan saraf di tulang belakang yang menimbulkan gejala mengganggu, seperti nyeri pinggang hingga baal atau kelemahan pada bagian lengan atau tungkai.

Saat sesi konsultasi dengan dokter syaraf, dokter syaraf meminta hasil MRI dan CD berisi gambar hasil scan. Begitu melihat hasil dan gambar MRI, dokter syaraf langsung bilang bahwa benar hasilnya adalah syaraf kejepit dan kondisinya termasuk cukup parah. 

Dokter syaraf menjelaskan bahwa sejalur dengan tulang belakang, ada jaringan syaraf dari kepala hingga kaki. Sedangkan diantara ruas tulang-tulang belakang, ada bantalan yang lunak yang menjadi penjaga dan pengatur gerakan tulang. Bantalan lunak pembatas ruang tulang ini membuat kita bisa beraktivitas secara dinamis dan lentur.

Dalam kondisi tertentu, misalnya karena jatuh atau mengangkat beban berat atau menekuk terlalu lama atau bisa juga atas sebab lain (dokter menyebutnya provokasi) tertentu, bantalan antar tulang ini bisa terdorong keluar dari jalur dan menekan syaraf. Ini yang istilahnya jadi sakit syaraf kejepit.

Posisi syaraf kejepit bisa dimana saja disepanjang jalur tulang belakang, dari kepala hingga kaki. Bisa dileher, dipunggung atau dipinggang. Di pinggang juga bisa terjadi di ruas tertentu, misalnya ruas L1 ke L2, L2 ke L3 dan seterusnya.

Kesimpulan dokter syaraf berdasarkan hasil MRI adalah bahwa syaraf kejepit yang dialami termasuk kategori berat. Dokter syaraf bilang bahwa kemungkinan pengobatan melalui obat dan fisioterapi tidak bisa menyelesaikan sakitnya. Paling mungkin mengurangi saja dan itupun bisa kambuh lagi sewaktu-waktu. Dokter syaraf bilang kemungkinan solusi yang tersedia adalah bedah syaraf dan untuk itu, dokter memberikan pengantar untuk konsultasi lanjutan dengan dokter bedah syaraf.

Vonis harus operasi ini terus terang membuat down keluarga, termasuk tentunya pasien. Saya pribadi dengan membaca hasil MRI diawal sudah memperkirakan hal itu, namun belum tahu detail operasinya seperti apa.

Saat konsultasi dengan dokter syaraf, saya sempat bertanya apakah bisa kami saja (saya dan Dear Rey) yang berkonsultasi, karena bapak mertua cukup tersiksa harus mondar-mandir ke RS dan menunggu sesi konsultasi yang kadang cukup lama dan membuat drop kondisi badan. Dokter syaraf bilang, harus disertai dengan pasien, karena dokter bedah syaraf akan perlu tanya jawab dengan pasiennya. Bisa juga dokter bedah syaraf memeriksa ulang kondisinya.

Mau tidak mau, bapak mertua ikut kami ke dokter bedah syaraf yang kami jadwalkan keesokan harinya. Setelah proses MRI hingga rencana ke dokter bedah syaraf, secara paralel kami juga menjalankan proses fisioterapi. Kata bapak mertua, proses fisioterapi membuat badan lebih enak saat diterapi, namun saat pulang ya kembali sakit lagi dan drop lagi.

Dengan acuan informasi dari bapak mertua, kesimpulannya semakin jelas, pilihannya adalah operasi.

Konsultasi dengan dokter bedah syaraf memperjelas pilihan itu. Dengan mengacu pada hasil MRI, dokter bedah syaraf bilang bahwa kategori syaraf kejepit yang dialami bapak mertua masuk kategori berat, karena bantalan tulang sampai keluar dan menjepit syaraf. Dokter bedah syaraf menampilkan gambarnya di monitor dan meminta bapak mertua dan kami semua untuk melihat gambar tersebut, kemudian menyampaikan bahwa bisa dilihat pada jalur bagian atas, terlihat warna putih alur jaringan syaraf, namun tepat di bagian bantalan tulang L4-L5 (di bagian pinggang atau diatas tulang ekor), warna MRI-nya hitam atau gelap, menandakan bahwa posisi syaraf terjepit bantalan tulang. 

Hasil gambar dari berbagai sudut semakin memperjelas posisi itu. Jadi kesimpulan bahwa sakitnya harus diatasi dengan operasi bedah syaraf menjadi keharusan.

Namun dokter bedah syaraf juga berlaku dan bersikap fair. Ia meminta kami mencari second opinion dengan memberikan hasil MRI ke dokter lain. Ia juga menyarankan agar kami berpikir dan bermusyawarah, karena operasi bedah syaraf resikonya besar.

Jika jenis operasi dibagi menjadi beberapa kategori, ada istilah operasi kecil, sedang dan besar. Operasi bedah syaraf yang akan dilakukan masuk kategori besar-khusus. Jadi tingkatannya lebih dari sekedar operasi besar. Resikonya juga besar, bisa lumpuh atau meninggal dunia. Masa recoverynya juga bisa lama, di rumah sakit pasca operasi bisa sampai 2 minggu, kemudian pemulihan bisa berbulan-bulan.

Pulang dari konsultasi dengan dokter bedah syaraf, keluarga berunding lagi. Pilihannya memang operasi, namun apakah mungkin ada alternatif lain. Saya mencari beberapa alternatif. 

Ada alternatif non medis, misalnya, yang katanya bisa menyembuhkan sakit syaraf kejepit dengan media telur. Jika telurnya didekatkan atau digeser ke kaki, pasien bisa jerit-jerit karena pengobatan sedang dilakukan. Bisa dicari di Facebook Watch, hehehe…

Bapak mertua tidak setuju metode itu, lebih cenderung pada tindakan medis. Ada juga pilihan lain, misalnya pijat atau terapi non medis lainnya. Namun pilihan ini juga tidak diambil, karena dokter bahkan wanti-wanti, jika dipijat bisa jadi malah bisa lebih parah.

Saya sempat mengikuti instagramnya Zaskia Adya Mecca, yang suaminya-Hanung Bramantyo-juga terindikasi syaraf kejepit di bagian leher. Ia sudah mencoba berbagai tindakan dan hasilnya malah tambah parah sampai akhirnya mengambil pilihan operasi.

Saya teringat pada cerita pak Dahlan Iskan, saat ia operasi ganti hati di China. Pak Dahlan Iskan tidak patah semangat saat divonis kondisi hatinya sudah tidak bisa dipertahankan. Ia mencari tahu pilihan yang ada dan mengambil pilihan yang mungkin bisa mengarah pada kesembuhan. Kebetulan tulisan-tulisan pak Dahlan Iskan adalah salah satu bacaan wajib harian buat team Excellent. Tindakan pak Dahlan Iskan itu menjadi salah satu inspirasi saya untuk mencari alternatif medis yang resikonya lebih ringan, potensi keberhasilannya besar, masa recovery lebih singkat dan yang lebih penting bisa menyembuhkan sakitnya. 

Upaya pencarian saya mendapatkan titik temu pada proses penyembuhan syaraf kejepit melalui tindakan endoskopi. Saya berpikir bahwa endoskopi yang saya tahu adalah memasukkan selang atau benda tertentu hingga kedalam perut dan itu sakit sekali. Tenryata endoskopi yang dimaksud adalah endoskopi tulang belakang.

Nama tindakannya adalah PELD atau PSLD. PELD (Percutaneous Endoskopi Lumbar Discectomy) atau PSLD (Percutaneous Stenoscopy Lumbar Decompression) adalah pengobatan stenosis tulang belakang dengan menggunakan endoskopi untuk mengobati stenosis tulang belakang dengan dekompresi endoskopi melalui sayatan yang lebarnya hanya 8 milimeter. 

Dengan menggunakan endoskopi seolah-olah dokter memiliki mata di dalam tubuh pasien, memungkinkan mereka untuk melihat kelainan dengan jelas dan memotong area yang bermasalah tanpa harus memotong otot yang masih baik. 

Jadi dokter memasukkan alat bedah melalui sayatan dengan lebar 8 milimeter, kemudian melakukan tindakan bedah melalui layar monitor. Alat ini canggih sekali dan tidak semua rumah sakit atau klinik memilikinya.

Adapun keuntungan dengan memilih prosedur ini adalah :

• Luka sayatan kecil dengan diameter hanya 8 milimeter, tidak sampai 1 cm
• Pemulihan yang cepat; pasien akan bisa bangun beberapa saat setelah operasi
• Lebih aman dan resiko infeksi lebih kecil

Saya kemudian mencari informasi lebih detail hal ini dan menemukan beberapa pilihan. Pilihan utama saya jatuh pada Lamina Pain & Spine Center, sebuah klinik yang memiliki spesialisasi dibidang pengobatan nyeri tulang belakang. 

Berlanjut ke Bagian 3

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.