Pengalaman Operasi Syaraf Kejepit (Nyeri Tulang Belakang) : Bapak Mertua-Bagian I

Beberapa waktu yang lalu, bapak mertua (bapak dari Dear Rey Reny Yuniastuty) merasakan nyeri yang sangat hebat di bagian pinggang. Sedemikian nyeri sehingga minta dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Kejadiannya berawal setelah melakukan aktivitas membersihkan bagian rumah dengan posisi nanggung (tidak berdiri tidak jongkok/duduk). Saat bangun, merasakan rasa nyeri yang luar biasa.

Awalnya dipikir karena gejala sakit pinggang. Sebelumnya bapak mertua pernah ada batu ginjal, meski sudah dioperasi dengan teknologi ESWL. ESWL (extracorporeal shock wave lithotripsy) adalah prosedur untuk mengatasi penyakit batu ginjal dengan menggunakan gelombang kejut. Operasi ESWL batu ginjal itu sudah lama dan berhasil menghancurkan batu ginjal.

Karena keluhan sakit pinggang tidak kunjung membaik dan cenderung tambah parah, saya coba berkonsultasi ke dokter melalui Halodoc. Dokter memberikan obat pereda nyeri dan pelemas otot, sambil merekomendasikan untuk konsultasi lanjutan ke dokter spesialis.

Awalnya saya dan Dear Rey hendak konsultasi lanjutan ke dokter orthopedi karena berasumsi masalahnya terkait tulang atau otot dan sejenisnya seperti umumnya cedera atlet. Hal ini karena sebelumnya tidak ada keluhan dan nyeri yang dirasakan sampai kejadian setelah aktivitas tersebut.

Setelah mereview gejala-gejala yang ada, akhirnya kami memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter syaraf, karena dari gejala yang dirasakan, perkiraan kami sakitnya ada hubungan dengan syaraf. Kami akhirnya menjadwalkan sesi konsultasi dengan dokter syaraf pada rumah sakit Mitra Keluarga Bekasi Timur

Konsultasi dengan dokter bedah syaraf yang dilakukan dengan susah payah karena rasa nyeri yang dirasakan memberikan beberapa hasil, antara lain :

  1. Kemungkinan sumber masalahnya adalah syaraf kejepit. Hal ini setelah ada proses pengecekan, misalnya diminta mengangkat kaki, membungkuk atau menggerakkan anggota tubuh lainnya
  2. Dokter syaraf memberikan obat tambahan untuk pereda nyeri
  3. Dokter syaraf merekomendasikan untuk kombinasi pengobatan menggunakan obat dan fisioterapi.
  4. Dokter syaraf merekomendasikan untuk segera melakukan MRI. MRI atau Magnetic resonance imaging merupakan pemeriksaan organ tubuh yang dilakukan dengan menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendapatkan hasil gambar organ, tulang, dan jaringan di dalam tubuh secara rinci dan mendalam. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai alat bantu diagnosis untuk dokter.

Kami sempat bimbang untuk melakukan proses MRI. Problemnya adalah, untuk duduk atau berbaring saja sudah sakit, sedangkan proses MRI membutuhkan waktu berbaring antara 30 menit sampai dengan 1 jam. 

Dokter syaraf sempat memberikan opsi dan pengantar untuk antestesi. Jadi jika sampai proses MRI sukar dilakukan dalam kondisi sadar karena sakit dan nyeri yang dirasakan, maka bisa saja pasien diberikan anestesi atau bius agar MRI dapat dilakukan.

Dari ruang konsultasi dokter syaraf, kami menuju ruang Radiologi untuk bertanya-tanya mengenai detail MRI. Petugas radiologi menyarankan untuk mencoba MRI tanpa anestesi. Karena biaya MRI cukup mahal (sekitar 4 juta rupiah), petugas radiologi menawarkan untuk melakukan percobaan berbaring apakah cukup nyaman atau tidak dan apakah pasien bisa bertahan dalam posisi tersebut selama minimal 30 menit.

Petugas radiologi tidak menyarankan untuk melakukan MRI dengan anestesi karena prosesnya akan panjang. Harus konsultasi dengan dokter penyakit dalam, pemeriksaan lab hingga PCR untuk proses MRI dan itu akan butuh waktu maupun biaya tambahan.

Akhirnya kami berunding lagi mengenai baik buruknya, termasuk resiko dan kemungkinan-kemungkinan lain. Bapak mertua akhirnya memutuskan untuk mencoba MRI tanpa anestesi, dilakukan saat itu juga.

Dengan penuh perjuangan, akhirnya proses MRI dapat dilakukan. Hasil MRI bisa diambil keesokan harinya. 

Kami berencana mengambil hasil MRI besoknya sekaligus langsung menjadwalkan sesi konsultasi lanjutan dengan dokter syaraf.

Berlanjut ke bagian kedua…

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.