Model Usaha

Saat memulai usaha dan mendirikan perusahaan di tahun 2011, saya tidak membayangkan perjalanannya seperti sekarang. Sama seperti mendaki gunung, kalau dilihat dari bawah mungkin kita berpikir, “Kapan sampainya ya? Capek amat ya…”

Tapi kalau kita jalani, rasanya ya biasa saja. Capek iya, tapi sebanding dengan pengalaman dan suasana yang dirasakan. Sepanjang jalan kita bisa menikmati keindahan, ada jatuh bangunnya, ada capeknya tapi juga banyak senangnya.

Tapi kalau usaha sudah berjalan beberapa lama, pasti sedikit banyak kita berpikir, setelah ini apa? Apakah kita mau statis saja, jalan ditempat, ataukah hendak mengembangkan diri?

Di Excellent kadang kami bicara soal sunset product. Sunset bisnis. Bisnis senjakala, produk senjakala. Saat ini orang masih pakai, tapi dalam beberapa tahun kedepan mungkin tidak lagi pakai. Artinya, jangan terlena. Kalau tidak hati-hati, saat ini bisnis bisa berjalan tapi beberapa tahun kedepan mungkin tidak akan bisa bertahan.

Saya dan team tidak mau seperti itu. Kami memang perusahaan kecil, sumber daya terbatas. Tapi kecil dan terbatas kan tidak menghalangi pemikiran dan cita-cita. Saat masih bisa makan dengan apa yang dimiliki sekarang, sebaiknya sudah menyiapkan juga landasan untuk pengembangan dan survival dimasa mendatang.

Di Excellent kami berpikir, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan jika ingin bisa tetap bertahan dalam usaha. Antara lain :

Produk

Harus punya produk. Jika kita hanya menjadi makelar, menjual produk atau jasa pihak lain, cepat atau lambat kita akan habis. Jika muncul pesaing baru dengan harga yang lebih rendah, dengan modal yang kuat, mungkin kita akan tergilas.

Jika kita menjadi reseller atau partner atau apapun itu, kita harus melengkapinya dengan advantage value. Dengan nilai tambah. Kalau semua orang bisa jadi partner VMWare atau Microsoft atau partner apapun itu, apa yang menjadi advantage value kita sehingga kita dipilih menyisihkan pesaing yang lain?

Mungkin kita punya certified engineer. Tapi pesaing lain juga punya. Mungkin kita punya pengalaman, pesaing lain juga punya. Mungkin kita jago teknis, pesaing lain juga bisa. Orang pintar kan bisa tercipta setiap harinya. Bisa kursus, bisa belajar. Kita yang dianggap expert bisa jadi masih kalah dibandingkan pesaing lain.

Kalau kita punya produk, baik itu produk sendiri maupun addon atau komplementer, itu bisa jadi nilai tambah. Produk itu membuat value kita lebih berharga dibandingkan dengan yang lain.

Scale

Kalau kita jualan pisang dengan membuka kios, kita nggak mungkin jualan di Perumahan Duren Jaya Bekasi Timur bisa menjual pisang ke Papua. Mungkin sih, tapi kemungkinannya kecil. Yang membeli kemungkinan adalah orang yang biasa beredar di perumahan Duren Jaya.

Kalau saya jualan air isi ulang atau air galon atau gas, saya hanya bisa melayani lingkup terbatas. Kalau saya harus mengantar galon atau gas sampai ke Tangerang Selatan, mungkin lebih besar biayanya dibanding harga dan keuntungannya, kecuali dalam jumlah bulk/partai besar.

Artinya, bisnis seperti membuka kios pisang atau air isi ulang atau gas bisa menghidupi kita, tapi sulit untuk dikembangkan dalam skala luas. Saya tidak mengatakan bisnis itu kurang bagus, karena banyak orang jadi kaya dan berkecukupan dari bisnis itu. Saya ambil contoh itu karena saya melakukannya ?

Kalau saya berjualan pisang kemudian mengembangkannya jadi toko online, saya bisa menjangkau wilayah sekitar Bekasi hingga Jakarta. Lebih luas cakupannya, lebih banyak peluangnya, tapi tetap lingkupnya juga terbatas.

Kalau kita bisnis di IT membuat aplikasi tailor made yang dijual ke perusahaan-perusahaan, kita bisa survive, tapi sulit untuk mencapai skala bisnis besar. Misalnya saya membuat aplikasi General Ledger atau aplikasi keuangan, kemudian menjualnya ke perusahaan A, saya bisa mendapat uang dari situ. Saya mengubahnya sedikit, menjualnya ke perusahaan B, ke perusahaan C dan seterusnya.

Saya bisa mendapat 10, 20 atau 50 klien. Semuanya memerlukan kedatangan saya untuk melakukan setup. Minimal melakukan presentasi. Penjelasan. Nanti melakukan maintenance. 10 Klien masih bisa ditangani sendiri. 20 klien saya perlu bantuan staff. 50 Klien saya perlu staff lebih banyak. Ini artinya, bisnis IT juga harus dipilih lagi.

Jika saya mengembangkannya jadi layanan cloud, misalnya aplikasi SaaS, saya bisa fokus pada pengembangan produk. Saya bisa mengambil basis aplikasi yang saya buat sebelumnya, kemudian melakukan migrasi menjadi aplikasi cloud. Pembiayaannya saya ambil dari penghasilan yang berjalan selama ini, dari tabungan sedikit-sedikit yang saya dapatkan saat melakukan implementasi ke klien-klien.

Jika saya sudah punya produk berbasis cloud, apalagi aplikasinya sudah banyak dipakai, saya punya fondasi yang cukup baik untuk memulai. Awalnya mungkin saya hanya punya satu dua klien. Kemudian pelan-pelan bertambah. Saya bisa melengkapi feature. Memperbaiki kualitas. Meningkatkan stabilitas sistem berdasarkan masukan dari klien.

Kali ini proses scaling atau pengembangannya bisa lebih mudah diskenariokan. Jika klien baru 5, saya masih bisa berjalan dengan 1 server. Tapi saat klien bertambah, saya cukup menambah jumlah server. Tiap penambahan sekian klien saya bisa menambahkan staff customer care. Mekanisme billing bisa diotomatiskan. Dengan cara ini, bisnis bisa berkembang dengan persiapan yang lebih baik.

Prosesnya tentu tidak mudah. Tapi kalau kita diam saja tanpa inovasi juga kan tidak mudah. Anggaplah sebagai perjalanan mendaki gunung, kita bisa menikmati prosesnya.

Jadi, mengapa tiba-tiba saya memposting lowongan pekerjaan di posting sebelumnya? Ya kaitannya karena cerita diatas itu. Itu baru 2 pertimbangan, mungkin nanti ditambah lagi kalau sudah ada kesempatan menuliskannya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty + 1 =

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.