Menguatkan Otot Keuangan

Saat pertama kali fitness, rasanya seperti siksaan buat saya. Nafas pendek, tersengal-sengal dan perlu perjuangan sekedar untuk olahraga beberapa menit. Pertama kali melakukan plank, beberapa detik saja rasanya tangan, perut dan kaki kram 🙂

Tapi semua ada awalnya. Jika pertama kali olah raga hanya bisa plank 10 detik, seiring dengan perkembangan bisa 15 detik, bisa 20 detik, bisa 25 detik dan seterusnya dan seterusnya. Ala bisa karena biasa.

Dulu olahraga saya punya banyak excuse. Kalau lelah sedikit, “Sudah jangan terlalu diforsir nanti tidak bagus buat kesehatan” 😛 . Karena saat fitness diawasi oleh instruktur, sedikit banyak saya berusaha berjuang. Dan itu mendidik. Supaya tidak sekedar menerima keadaan melainkan juga berusaha untuk berjuang lebih dari sekedar yang biasa kita lakukan.

Plank. Sumber gambar : https://indianexpress.com/article/lifestyle/fitness/planks-exercise-health-fitness-tips-lifestyle-4608640/

Awalnya otot dan tubuh kita hanya sanggup dilevel 1, dengan latihan rutin bisa naik level ke level kedua. Semakin kuat bisa naik ke level ketiga dan seterusnya. Ya memang saya tidak sampai seperti Ade Rai atau seperti atlet tapi minimal ada peningkatan kekuatan otot dibandingkan sebelumnya.

Pola yang sama sebenarnya berlaku juga dalam hal keuangan. Kadang ada yang bilang, “Ah, bicara menabung mah gampang kalau punya uang. Bicara investasi mah gampang kalau uangnya banyak”, padahal sebagaimana olahraga, ada level-level yang bisa kita lakukan untuk memperkuat otot keuangan kita. Saat pendapatan kita 1 juta rupiah, kita bisa mulai menabung 100 ribu rupiah. Tidak apa-apa relatif kecil, asal berdisiplin dan teratur. Banyak kok orang tua dengan pendapatan kecil yang bisa berangkat haji setelah menabung bertahun-tahun dibandingkan dengan yang pendapatannya besar namun tidak kunjung sanggup menabung.

Saat pendapatan kita meningkat, kita bisa meningkatkan jumlah tabungan kita. Saat pengeluaran kita berkurang, kita bisa menambah jumlah porsi tabungan kita. Begitu seterusnya 2 kunci utama
yang menjadi acuan kita dalam meningkatkan kekuatan otot keuangan kita, yaitu meningkatkan pendapatn dan mengurangi pengeluaran.

Saya pernah bicara pada staff-staff di Excellent, bahwa ada blank spot dalam hidup saya, yaitu saat saya bekerja di Cikarang dan Tanjung Priok, saat usia 20an hingga 30an. Jika saya ingat sekarang, saat itu saya bekerja sebagaimana biasa orang bekerja, namun tidak punya target finansial, tidak punya pengetahuan soal finansial dan tidak punya keinginan untuk belajar investasi.

Saya memang menabung, namun tanpa arah. Tabungannyapun kadang habis saya ambil lagi. Saya menabung juga untuk membeli sesuatu yang saya inginkan, namun kebanyakan sifatnya konsumtif. Bahkan saya harus berjuang menabung untuk rencana pernikahan karena entah mengapa pendapatan saya hanya cukup untuk membiayai hidup bulanan saja. Itupun kerapkali kurang. Saat itu saya tidak mengerti filosofi menguatkan otot keuangan, tidak punya bayangan mau bekerja sampai di usia berapa dan bagaimana nanti masa depan saat tua kelak. Mungkin jika saya sudah lebih memahami literasi keuangan, saya bisa mempersiapkan diri lebih baik lagi, meski tentu saja saya tidak bisa menyesali apa yang sudah terlewat.

Itu mungkin yang disebut dengan pembelajaran dalam hidup. Wajar, namun tidak boleh dibiarkan. Harus mau dan berusaha belajar memperbaiki kekurangan. Kalau tidak mengerti investasi, belajarlah dari literatur yang ada di internet. Dari buku, artikel di majalah maupun seminar. Jangan diam saja, karena itu artinya kita sedang mempersiapkan excuse jika satu waktu ada hal terkait keuangan yang tidak diinginkan terjadi pada kita.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.