Menahan Diri

Beberapa waktu yang lalu, adik saya Qchen Marsan Susanto menginformasikan ada sebidang tanah yang hendak dijual pemiliknya. Yang menjual adalah bapak yang mengurus sawah di Karawang. Keperluannya untuk renovasi rumah sekaligus untuk menebus motor yang digadaikan. Luasnya sekitar 150 meter persegi. Lokasinya tepat ditepi sawah yang dikelola, disamping rumah si bapak. Kalau difoto, lokasi tanahnya yang ada pohon pete tempat Vivian berfoto.

Tanah itu adalah tanah milik satu-satunya si bapak selain rumah yang ditempati. Tanah itu adalah pekarangan samping rumahnya.

Karena lokasinya di kampung di Karawang, harganya relatif murah dibandingkan jika saya membeli luas yang sama di kota Bekasi (ya iyalah 😛 )

Karena harganya masih cukup terjangkau, saya bilang “Iya”, pada Qchen yang bertanya apakah saya mau membelinya. Meski saya tidak memegang uang tunai sebesar yang dimaksud, saya masih mungkin mengumpulkan uang gajian saya dari Excellent.

Meski bilang Iya, hati saya tidak lepas. Saya berpikir seperti ada yang salah. Seharian saya memikirkan apa yang salah. Sampai malam masih terpikirkan. Sampai malamnya saya teringat pada almarhumah enyak dan perasaan salah itu semakin besar.

Setelah tidur dengan membawa pikiran yang tidak lepas, besok paginya saya baru mengetahui apa yang salah. Pagi itu juga saya menelpon Qchen dan bilang agar membatalkan pembelian tanahnya.

Mengapa? Karena tidak seharusnya saya membeli tanah yang menjadi milik satu-satunya si bapak. Tanah itu dibelinya secara cicilan dari hasil menggarap sawah. Awalnya berupa rawa yang ia uruk dan padatkan sampai menjadi tanah darat seperti sekarang. Lebih dari 29 tahun dia menjadi petani penggarap dan tanah berikut rumah itu adalah harta penghasilannya.

Sekarang dia mengurus sawah saya. Dan dia memerlukan uang untuk renovasi rumahnya serta untuk menebus sepeda motornya yang ia gadaikan. Saat saya cari tahu lebih lanjut, ternyata ia ingin menebus sepeda motor karena memerlukannya jika saya minta sesekali mengurus kebun pisang yang jaraknya sekitar 5 km dari sawah.

Itu sebabnya saya merasa ada yang salah. Itu sebabnya almarhumah enyak seperti bilang agar saya jangan menurutkan niat membeli tanah tersebut. Tidak seharusnya saya mengambil keuntungan dari kesulitan yang ia alami. Jika almarhumah enyak masih ada, saya tahu pasti apa yang enyak minta untuk saya lakukan.

Jadi saya bilang sama Qchen, saya tidak jadi membeli tanahnya tapi mengubah prosesnya agar ia bisa melakukan renovasi rumah. Juga untuk menebus sepeda motor yang digadaikan.

Di Tambun kabupaten Bekasi tempat saya lahir dan keluarga saya tinggal, saya sering melihat petani pemilik tanah yang kemudian menjual miliknya dan beralih menjadi penggarap di mantan tanah miliknya. Kelanjutannya bisa ditebak, penghasilannya menurun drastis dan hidup jadi terasa lebih sulit.

Meski saya tidak jadi mendapatkan tanah dengan harga yang menarik, saya merasa senang, lepas dan damai karena saya tidak mengkhianati pesan almarhumah enyak, agar saya tidak menari diatas genderang kesulitan orang lain. Apalagi orang tersebut adalah orang yang membantu saya dan keluarga selama ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 6 =

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.