Mempermalukan Anak?

Tadi pagi, saat mengantarkan Vivian Aulia Zahra ke sekolah, ada ibu-ibu yang parkir disamping. Karena masih pagi, Vivian tidak langsung masuk ke kelas, melainkan bersantai dulu sejenak.

Ibu-ibu disamping itu kelihatannya sedang memarahi anaknya. Suaranya sampai terdengar ke dalam Bumblebee, padahal saya belum membuka pintu dan jendela tertutup rapat. 

Saat akhirnya Vivian beranjak hendak masuk ke kelas, saya turut keluar dari Bumblebee karena saya hendak ke masjid Al Azhar menunggu lalu lintas agak santai. 

Saat kami keluar, si ibu bukannya berhenti memarahi anaknya melainkan malah tambah kencang. Dia membentak anaknya seperti lagi spanneng. Padahal anaknya lebih kecil dari Vivian, mungkin masih SD. Kehadiran kami sepertinya membuat dia malah merasa malu tapi rasa malunya itu bukannya membuatnya berhenti memarahi anak melainkan tambah deras memarahinya.

Setelah agak jauh, saya bilang ke Vivian, “Ibu-ibu tadi ngomel-ngomel bae ya, kan kasihan bocahnya…”

dan Vivian menjawab, “Iya, kasihan anaknya kan malu juga dimarahin begitu…”

Selesai mengantar Vivian ke lobby sekolah, saya berjalan menuju masjid. Si ibu masih juga memarahi anaknya dengan suara cukup keras. Saya merasa sedih melihatnya, serasa saya sendiri yang sedang dimarahi. Lebih sedih lagi karena saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena kan saya juga tidak tahu persoalannya. Masya saya mau ikut campur, nanti kalau salah asumsi kan bisa berabe ??

Asumsi saya disini juga saya tulis sebatas yang saya dengar dan saya lihat. Jadi bisa saja si ibu itu punya alasan tersendiri memarahi anaknya yang masih kecil dengan suara keras dan mendesak.

Meski demikian-andaikan saya bisa bilang-saya akan bilang ke si ibu, nggak usahlah bikin anak tambah malu dengan memarahinya didepan pandangan orang lain. Nggak ada manfaatnya juga sih bagi saya. 

Apa yang bisa didapatkan dengan mempermalukan anak sendiri didepan orang lain? Kan bisa ditegur didalam mobil atau dikasih tahu ditempat yang relatif nggak ada orang lain sehingga lebih pas situasinya.

Kadang kita sendiri bisa tanpa sadar melakukan hal yang sama. Jika anak melakukan kesalahan didepan tamu atau orang banyak, bisa-bisa malah memarahinya didepan pandangan orang banyak itu. Padahal itu ya sama saja mempermalukannya didepan orang lain. 

Apalagi jika ada embel-embel membanding-bandingkannya dengan anak lain. Nyebelin banget kan dengernya, hehehe…

Jangan mempermalukan anak, jangan juga membanding-bandingkannya dengan orang lain. Kita saja nggak suka diperlakukan begitu, masya kita melakukannya pada anak kita sendiri.

Kalau niatnya memang ingin menunjukkan contoh, ya bisa sebagai contoh saja tanpa harus membandingkannya.

Kita, sebagai orang tua, mungkin bisa terus juga berusaha belajar cara menjadi orang tua yang baik, bukan sekedar merasa sudah bisa hanya karena usia kita sudah menua. Jangan lupa, tua itu pasti, dewasa itu pilihan ?


Also published on Medium.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × two =

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.