Membiasakan Diri

Saat kemarin saya menulis soal passive income dari buku dan ebook, mungkin ada sebagian rekan-rekan yang langsung skeptis, “Saya nggak punya bakat menulis”.Padahal, itu merupakan salah satu contoh passive income yang bisa menjadi residual income, yaitu pendapatan yang terus mengalir meski sudah sekian lama berlalu karena royaltinya masih ada.

Saya mengambil contoh dalam bentuk pembuatan buku dan ebook karena itu didasarkan pada pengalaman pribadi. Kalau dibilang bakat ya tidak juga, karena seperti saya sampaikan, saya bahkan tidak berani mengirim naskah saya karena khawatir nggak kuat menanggung rasa malu kalau ditolak, hehehe…

Catatan : Sumber gambar dari Pixabay

Jika membuat buku atau ebook rasanya tidak ada bakat, fokus tulisan kemarin adalah mencari alternatif tambahan pendapatan tanpa harus mengganggu pekerjaan. Jadi alih-alih kita selalu menjadi consumer alias pembeli di berbagai toko online, mengapa tidak mencoba membaliknya, menjadi penjual alias seller. Kita tidak sekedar menjadi passenger dalam perkembangan teknologi dan e-commerce, melainkan juga menjadi driver yang mengendarai arus perubahan teknologi untuk kebaikan kita sendiri.

Karena berjalan diatas internet, bisnis e-commerce, pembuatan buku dan penerbitan ebook menghilangkan sekat-sekat geografis desa dengan kota, pulau Jawa dengan Luar Jawa dan seterusnya. Anda yang tinggal di suatu kampung di Sumatera atau Sulawesi memiliki kesempatan dan peluang yang sama sebagaimana rekan-rekan yang tinggal di kota Jakarta dan sekitarnya. Dengan biaya hidup lebih rendah, udara yang sejuk dan segar, peluang timbulnya inspirasi bagus tentu jauh lebih mudah didapatkan daripada kami yang tiap hari berurusan dengan asap kendaraan dan kemacetan di Jakata.

Soal bakat, beruntunglah orang yang diberkati dengan bakat, namun itu hanya salah satu faktor. Tanpa usaha, bakat jadi sia-sia saja. Bakat juga tidak selalu muncul langsung, bisa saja ia perlu dipancing dan dibiasakan. Dengan usaha dan disiplin pribadi, adakalanya kita menemukan bakat tersembunyi kita yang selama ini tidak kita sadari.

Team Excellent sebagai contohnya. Banyak diantara mereka yang tidak pernah menulis artikel. Namun saya yakin mereka punya kemampuan tersebut, meski tentu beragam levelnya. Untuk menumbuhkan minat menulis yang pada akhirnya bermanfaat bagi mereka pribadi maupun bagi Excellent (karena Excellent kerap membuat buku panduan atau tutorial terkait layanan. Bahasa seseorang yang kaku karena tidak pernah menulis akan berbeda dengan yang membiasakan diri), saya meminta mereka untuk melakukan 2 hal, yaitu :

  1. Setiap hari harus membaca artikel yang ditulis pak Dahlan Iskan di Disway. Karena pak Dahlan Iskan biasa menulis setiap hari, otomatis setiap hari juga mereka bisa membaca artikelnya secara rutin. Karena dibiasakan, mereka bisa terdorong mengisi pikiran dengan tulisan bermanfaat sekaligus menjadi inspirasi gaya penulisan yang mengalir dan enak dibaca.
  2. Setiap hari Jumat wajib menulis 1 buah posting blog. Karena setelah Jumat merupakan hari libur, kadang ada yang skip tugas ini sehingga saya memajukannya menjadi hari Kamis. Siapa yang tidak menulis blog di hari Kamis, saya akan meniadakan jatah makan siang bersama di hari Jumat. Dengan cara ini mereka akan terdorong untuk menulis.

Setelah berjalan beberapa lama, saya minta seluruh team untuk menginstall aplikasi feedly. Sebagai feed reader, feedly bisa kita set untuk otomatis mengumpulkan artikel dari link blog atau topik yang kita tentukan. Jadi kita tidak perlu repot-repot untuk membuka link satu per satu. Langkah awal adalah menambahkan seluruh link blog team Excellent di masing-masing feedly, sehingga mereka bisa tahu jika ada update tulisan terbaru dari rekan mereka.

Seorang team pernah bilang bahwa ia kesulitan menulis posting blog karena tidak ada ide. Saya minta saja ia menulis mengenai kesulitannya mencari ide. Jadi kira-kira tulisannya seperti ini :

“Pak Vavai meminta saya menulis blog tapi saya kesulitan mencari ide. Sudah berhari-hari saya mencari ide tapi tidak kunjung dapat. Saya bahkan terpikir mencari ide saat malam atau meluangkan waktu saat istirahat namun ide tulisan yang dimaksud masih juga tidak bisa saya dapatkan. Saya kadang heran melihat orang lain kok mudah saja menulis suatu artikel sedangkan saya sedemikian repotnya mencari ide satu tulisan. Apa mungkin saya tidak memiliki bakat atau memang perlu keahlian khusus untuk mendapatkannya.

Meski demikian saya tidak akan menyerah. Saya akan terus berusaha mencari tahu ide yang kira-kira bisa saya tuliskan. Mungkin tidak perlu banyak, cukup 2 paragraf sudah memadai bagi saya, nanti tinggal saya kembangkan”

Tuh kan, sudah 2 paragraf tulisan, bercerita soal kesulitannya sendiri, hehehe…

Jadi kembali keawal tulisan, biasakan diri membaca tulisan-tulisan bagus, mengisi otak dan pikiran kita dengan berbagai inspirasi untuk kebaikan kita. Jangan menjejalinya dengan hal-hal tidak penting, berita sampah dan hal lain yang hanya menjengkelkan diri kita. Karena hidup kita milik kita. Karena you are what you eat, you are what you read.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.