Matematika Sedekah

Tadi pagi saya sempat membaca tulisan di Quora soal pengalaman orang-orang yang bersedekah dan jadi teringat soal cerita masa kecil.

Dulu sewaktu almarhumah enyak masih ada, enyak sering bilang kalau ada keleluasaan supaya bisa bantu orang lain. Ibaratnya, kalaupun hanya punya sekedar jambu klutuk (jambu biji) atau jambu air murahan, kalau itu bisa untuk berbagi, tidak apa-apa. Bisa bermanfaat untuk orang lain itu suatu hal yang patut disyukuri. Karena dulu waktu kecil enyak hidupnya kekurangan, jadi selalu ingat masa-masa itu.

Image by Daniel Friesenecker from Pixabay

Saya masih ingat cerita dan pesan itu. Suatu saat saya ziarah ke makam kakak saya (almarhumah enyak tahun lalu dimakamkan disamping makam kakak saya). Berangkat jalan kaki pulang jalan kaki. Saat itu saya masih bekerja sebagai operator produksi (karyawan pabrik) di Cikarang.

Saya sudah punya penghasilan tapi relatif pas-pasan. Saat pulang dari makam, saya melewati beberapa rumah. Karena tinggal di kampung, saya mengenal hampir semua tetangga-tetangga sepanjang jalan dari makam ke rumah. Saya lihat ada seorang nenek duduk-duduk di depan rumahnya. Lumayan sejuk karena ada banyak pohon rambutan di kiri kanan dan depan rumahnya.

Refleks, teringat pesan enyak, saya berbelok ke rumahnya. Kemudian saya mengambil semua uang yang ada di saku celana saya. Totalnya? Seingat saya hanya 5000 rupiah alias goceng :-). Saya serahkan uang itu dan saya bilang buat beli makanan. Kalau diukur dari uang sekarang, mungkin nilainya sepadan dengan nilai 15 ribu rupiah.

Tidak seberapa tapi minimal bisa sekedar untuk membeli kue atau penganan lainnya.

Apa respon si nenek? Si nenek berdoa panjang sekali sambil pegang tangan saya. Saya sampai merasa malu karena perasaan hanya kasih uang goceng dan doanya panjang. Ibaratnya nggak imbang sama nilainya, hehehe…. Saya juga nggak berpretensi didoakan karena apa yang saya lakukan itu refleks saja, karena ingat pesan enyak.

Mungkin si nenek berdoa bukan sekedar karena nilai uang. Tapi karena saya menemaninya ngobrol. Meski apa yang saya obrolkan juga sekedar tanya kabar dan terkesan klise.

Saat sampai di rumah, saya bilang hal itu ke enyak. Enyak hanya bilang, “Bagus”, seperti pak Tino Sidin memuji lukisan absurd anak-anak yang terlalu pede mengirimkan lukisannya, hehehe…

Kadang ada yang bertanya, “Memangnya sedekah atau beramal bisa dapat balasan? Bisa dapat berkali-kali lipat dari yang disedekahkan?”

Jawabannya, ya nggak tahu lah, itu kan rahasia ilahi. Soal nilai, besar kecil, tentu orang yang mengalami masing-masing yang tahu detailnya.

Tapi saya selalu ingat doa didekat pohon rambutan itu. Kalau ingat pada perjalanan hidup yang saya lalui, saya ingat doa itu yang membukakan jalan saya mendapat penghasilan tambahan. Menjadi jalan saya terinspirasi untuk berwirausaha dan membangun Excellent. Membuka jalan bagi saya mengenal isteri saya Reny Yuniastuty yang kemudian membukakan pintu-pintu rezeki lainnya. Mempermudah jalan yang harus dilalui.

Itu semua, dimulai dari nilai uang 5000 rupiah. Terima kasih, Wak Nisin. Semoga doanya menjadi berkah buat wak Nisin sekeluarga dan juga buat semua masyarakat yang mendapat sentuhan doa tersebut.

Catatan : Saya cerita ini bukan dalam konteks gimana-gimana. Harusnya saya malu buat ceritanya, nilainya juga nggak seberapa. Justru karena nggak seberapa nilainya itu yang membuat saya berani menuliskannya karena kita tidak tahu ujung jalan dari nilai yang tidak seberapa itu.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.