Masak

Setiap lebaran (Idul Fitri maupun Idul Adha), saya biasanya bertugas sebagai tukang bersih-bersih dan masak. Karena kurang suka daging ayam ras, biasanya saya memesan ayam kampung plus entog atau bebek. Saya cukup pesan supaya dibersihkan saja dan dipotong 4.

Urusan memotongnya menjadi 8 atau 10 atau 12 itu urusan saya. Saya kurang suka jika dipotong penjual di pasar, karena ada bagian-bagian yang jadi tidak menarik untuk dimakan. Bagian sayap misalnya, kadang digabung dengan sebagian daging dada, sehingga ukurannya terlalu besar dan tekstur dagingnya keras. Saya biasanya memisahkan bagian daging dada tersendiri. Bagian sayap dibuat menjadi seperti potongan paha bawah (chicken wing) yang biasa ada di pizza hut.

Saya juga membuang bagian kepala karena tidak ada yang suka. Kemudian bagian brutu (buntut) karena juga nggak suka.

Selain soal potongan, saya juga biasanya membersihkan ulang. Bagian leher dan dada harus diperhatikan, karena kerap ada bagian kerongkongan yang harus dibuang. Kemudian ati ampela, harus lebih teliti membersihkannya.

Dulu waktu SD enyak punya warung/rumah makan, jadi saya cukup terbiasa membersihkan ayam (mulai menyembelih, membersihkan bulu, memotong per bagian) hingga memasaknya menjadi semur ayam kampung. Saya juga biasa memasak sayur gabus pucung, telur rendang dan masak air ??

Dulu saya menganggap hal tersebut sebagai siksaan. Karena teman-teman yang lain bisa bermain bola atau main perang-perangan sementara saya harus didapur memeras santan, memarut kelapa atau singkong dan memasak. Sekarang, life skill itu ternyata bermanfaat. Kalaupun satu saat saya merantau, ilmu kehidupan itu bisa menjadi sumber penghasilan/penghidupan dan bisa menjadi survival skill.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − seven =

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.