Manusia Utama : Mengurangi Makan Mengurangi Tidur

Saya membaca buku suluk Tambangraras dan banyak buku lainnya, terutama buku-buku terkait personal development. Salah satu nasihat yang disampaikan dalam buku tersebut agar kita bisa meningkatkan kualitas diri-menjadi manusia utama-adalah mengurangi makan mengurangi tidur.

Jika merujuk pada pesan-pesan ulama, sebenarnya ada 3 yang disarankan, yaitu mengurangi makan, mengurangi tidur dan mengurangi bicara. Kesemuanya tentu dimaksudkan agar kita tidak terjebak pada nafsu serakah, nafsu untuk bertindak sebebas-bebasnya dan kehrusan menjaga diri dari sikap atau tindakan berlebihan.

Masalahnya, makan itu memberikan kenikmatan. Tidur juga memberikan kenikmatan. Berapa banyak dari kita yang tidak puas-puas untuk makan dan minum, termasuk selalu mengantuk karena merasa kurang tidur.

Tiap kali membaca contoh sikap dan perilaku orang-orang yang utama, yang bisa mengatur dan mengendalikan dirinya, pasti kedua hal tersebut merupakan hal yang fundamental yang selalu dijalani. Dalam suluk Tambangraras misalnya dicontohkan bahwa Jayengresmi makan hanya sekepal biji kluwak, secuil dendeng lalu makan buah Siwalan (buah lontar) dan minum air nira. Bandingkan dengan saya yang kalau makan harus meracik banyak lauk, belum berhenti kalau belum kenyang. Ceritanya pernah saya tuliskan disini : Jangan Selalu Menuruti Semua Keinginan.

Tidak ada juga orang utama, yang membiasakan diri tidur bagaikan kerbau. Selalu merasa kurang tidur. Selalu merasa ngantuk. Orang utama adalah orang yang bisa melakukan manajemen pribadi dengan baik, yang bisa mengerem keinginan. Yang bisa menjadi tuan atas dirinya, bukan menjadi budak semua keinginan.

Dulu saya berpikir, mungkin nggak sih kalau kita memperbaiki diri, berusaha menjadi manusia utama tanpa harus mengerem keinginan makan dan keinginan tidur? Bisa nggak sih kita menjadi manusia utama tanpa harus berkorban atau harus tersiksa karena mengerem keinginan.

Jawabannya ya tidak bisa. Simply tidak mungkin. Simply bertolak belakang. Salah satu upaya menjadi manusia utama, menjadi manusia yang lebih baik adalah dengan melatih diri kita agar mau berkorban mengerem keinginan. Akan too good to be true jika kita bebas menuruti semua keinginan sekaligus ingin juga sukses menata pribadi kita agar lebih baik lagi.

Apa hubungan hal diatas dengan saya pribadi? Pemahaman diatas memberikan pembelajaran bagi saya agar mau dan mulai berusaha menjaga dan mengerem diri. Harus bisa mengerem keinginan makan semaunya sepuasnya, berusaha menyadar esensi makan itu untuk apa, tidur itu untuk apa, dan apakah saya benar memang lapar terus atau ngantuk terus ataukah itu semua hanya sekedar mindset saja?

Saya bisa memulai hal ini dengan hal sederhana, yaitu dengan cara mulai berpuasa. Misalnya puasa sunah di hari Senin dan Kamis. Kemudian mulai mengatur pola tidur, agar bisa melakukan manajemen istirahat dengan baik namun juga tidak berlebihan. Bagi orang lain, hal diatas mungkin bukan sesuatu yang sulit, namun bagi saya, saya harus mulai belajar menata hati dan keinginan, mulai mengerem dan belajar menahan diri.

You may also like

4 Comments

  1. Betul mas, dimulai dari puasa selanjutnya akan gampang ?
    Saya juga lagi belajar menata diri, antara lain yang menjadi kegalauan saya adalah waktu tidur yang selalu kurang dan nggak bisa ditambah lagi.

    Mungkin bisa nambah kalau waktu sehari itu lebih dari 24 jam ?

    Bagus mas tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.