Makan Saat Tidak Lapar

Saat dulu masih kecil, makanan termasuk kebutuhan yang mahal, jadi makanan enak merupakan suatu keistimewaan. Sederhananya, makan telur saja bisa sebulan sekali, apalagi ayam goreng atau daging, mungkin lebih jarang sekali. Dulu suka berseloroh kalau makan daging kemungkinannya hanya dua, yaitu saat Idul Adha dan Idul Fitri 🙂

Image by cattalin from Pixabay

Seiring dengan perkembangan jaman dan juga dengan adanya pendapatan karena sudah bekerja, apa yang dulu sulit didapat kini jauh lebih mudah didapatkan. Kapan saja mau makan ikan atau ayam atau daging sudah jauh lebih mudah. Mungkin anak sekarang banyak yang nggak percaya kalau diceritakan makan ayam belum tentu sebulan sekali.

Masalahnya, kini makan bisa terasa tidak senikmat dulu. Karena dulu makan enak suatu keistimewaan, prosesnya benar-benar dihayati. Bisa jadi makan nasi dulu baru daging atau ayamnya belakangan. Kalau sekarang, lauk daging, ayam dan ikan bisa ada disaat bersamaan. Kerapkali kita makan disaat kita nggak kepingin. Makan hanya karena sudah waktunya makan. Makan karena memang jadwal makan, meski perut tidak lapar.

Apa yang salah dari hal ini? Secara prinsip tidak ada yang salah. Makanan juga makanan kita. Uang juga uang kita. Mau apa saja terserah kita.

Tapi kalau kita terlalu sering makan saat tidak lapar, makan saat tidak kepingin, ada kemungkinan kita sudah mencapai level berkecukupan dan sudah waktunya berbagi.

Saya pernah main ke rumah para lansia yang tidak memiliki pendapatan untuk menopang hidupnya. Yang untuk makan hari ini atau besok tergantung pemberian orang lain. Bagi mereka, beras 5-10 liter sangat berharga. Beras 5 liter kalau dirupiahkan mungkin hanya 50 ribu rupiah tapi itu bisa menopang makanan seorang lansia atau keluarga yang kurang mampu selama beberapa hari.

Daripada makanan yang kita makan saat tidak lapar hanya menjadi lemak yang kurang baik untuk kesehatan, mungkin budgetnya bisa kita belokkan menjadi donasi untuk pihak lain yang kurang mampu. Ada distribusi dan pemerataan keadilan sosial. Jumlahnya tidak harus banyak, sesuaikan saja dengan kemampuan kita.

Mungkin, makanan yang kita makan akan terasa lebih nikmat dari apa yang sudah kita lakukan untuk berbagi. Rasa lapar kita bisa berubah jadi rasa kenyang karena kita menyadari apa yang sudah kita dapatkan patut kita syukuri.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.