Keluarga Miskin Banyak Anak

Beberapa hari yang lalu saya membaca status seorang rekan yang setengah sebel dan mempertanyakan peran pemerintah dalam membantu lingkup bisnisnya yang terkendala operasional karena pandemi Covid-19.

Karena menimpa sebagian besar aspek bisnis dan kehidupan, pandemi Covid-19 memang benar-benar menjadi tantangan besar bagi kehidupan sehari-hari. Namun, membaca keluhan rekan tersebut saya jadi teringat istilah diatas.

Keluarga Miskin Banyak Anak

Indonesia ini kalau dianalogikan mirip seperti itu. Keluarga miskin kurang mampu dan anaknya banyak. Tentu tantangan untuk survival jauh lebih besar dibandingkan keluarga berkecukupan dengan anak sedikit, meski tentu tidak menafikan soal rezeki di tangan yang maha kuasa.

Jika keluarga kita miskin sementara saudara-saudara kandung kita banyak, kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa berharap keistimewaan yang lebih. Berharap boleh, meminta juga boleh, tapi kalau keluarga harus memilih mana yang diprioritaskan, kita juga harus bisa memahaminya.

Jika keluarga kita miskin dan semua anak-anaknya harus dibantu, tentu harus diambil prioritas mana yang harus dibantu terlebih dahulu. Mungkin yang tidak punya makanan pokok yang harus diprioritaskan. Untuk saudara yang masih bisa makan, sementara waktu bisa berusaha sendiri mengatasi persoalan yang dialami.

Saya menulis seperti ini bukan tanpa dasar. Keluarga kami adalah keluarga besar dengan tingkat ekonomi biasa saja sebagaimana umumnya masyarakat Indonesia. Saat saya kecil, punya kamar sendiri merupakan mimpi. Kami harus tidur berbarengan, berlima dalam satu tempat tidur.

Saat salah satu saudara kandung sakit, maka ia yang mendapat keistimewaan makan lebih enak dibandingkan dengan yang lain. Yang lain cukup makan apa yang bisa dimakan. Mau tidak mau harus diterima dan harus disadari, tidak boleh mengeluh. Karena harus sadar kita miskin dan memang tidak ada pilihan.

Saat kami beranjak dewasa, kami yang sudah bisa bekerja mulai bekerja meringankan beban orang tua. Jika anak ada selusin, berkurangnya satu kebutuhan tentu cukup meringankan beban orang tua. Apalagi jika berkurangnya satu beban itu juga dibarengi dengan adanya penambahan pemasukan.

Dengan cara itulah kami bertahan dan berusaha mengatasi kekurangan yang ada.

Dan itulah yang ingin saya sampaikan ke rekan yang mengeluh karena situasi saat ini tidak bersahabat pada bisnis yang dijalani dan pemerintah seperti tidak punya upaya yang memadai untuk mengatasinya.

Harus menyadari bahwa Indonesia bukan negara kaya raya dan berkecukupan (meski dari buku pelajaran, sumber daya alamnya berlimpah, tapi itu lain konteks pembahasan) sedangkan rakyatnya banyak. Bahwa kita harus mendorong pemerintah untuk berbuat terbaik bagi rakyatnya memang benar dan harus, namun jangan menunggu sampai itu benar-benar terlaksana. Akan terlambat. Karena rakyat Indonesia banyak, pemerintah harus memilih mana yang harus mendapat prioritas lebih awal.

Berbeda dengan USA yang memberikan stimulus sampai 2 trilyun dollar (32 ribu trilyun rupiah dalam kurs 16 ribu) atau Jepang yang memberikan setengahnya, Indonesia baru mampu memberikan stimulus ratusan trilyun dan itupun harus dibagi-bagi kedalam berbagai sektor.

Sebagai bagian dari usaha kecil, saya tentu gemas dengan sikap dan penanganan pemerintah yang seharusnya bisa lebih baik lagi. Saya juga memaklumi, jika berbagai pilihan solusi sudah tertutup, dunia bisnis pantas meminta pada pemerintah untuk membantu mereka survive. Tapi ya itu tadi, apakah pemerintah bisa langsung memberikannya, akan kembali lagi pada judul tulisan.

Fokus utama tulisan ini adalah, jika kita masih memiliki pilihan untuk bertahan, jalankan pilihan itu. Jangan menunggu semuanya kembali normal. Karena pilihan itu bisa makan waktu lama dan kita tidak tahu seberapa lama kembali normal. Bahkan kita semua mungkin tidak akan bisa kembali ke situasi normal yang kita maksud sebelum pandemi terjadi. Mungkin nanti kita akan mengalami yang namanya new normal. Situasi normal baru yang kita anggap sebagai sesuatu yang biasa dan normal adanya.

Jika kita masih bisa berusaha, lakukan usaha itu. Jika kita masih bisa mencari nafkah dengan mengubah pola kebiasaan, lakukan itu. Jika kita bisa melakukan berbagai kegiatan positif, lakukan itu. Jika kita masih bersyukur memiliki penghasilan, makanan yang cukup dan kondisi yang memadai, kita bisa berempati dan bisa turut membantu saudara dan rekan lain yang situasinya tidak terlalu baik.

Mengutip twit Willson Cuaca co-founder East Ventures : “In startup world, this crisis separates the men from the boys”

Tetap semangat, karena pada akhirnya kita bertanggung jawab pada hidup kita. Susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.