Kebiasaan Menunda Pekerjaan

Pekerjaaan apa yang ringan untuk dikerjakan? Jawabannya : pekerjaan yang tidak dilakukan, hehehe…

Apa salah satu benefit saat saya memutuskan untuk mengambil kuliah lagi? Benefitnya adalah “recharging the spirit” dan mengurangi kebiasaan menunda pekerjaan.

Tiap mata kuliah yang saya jalani hampir selalu ada tugas yang harus diselesaikan. Baik itu tugas pribadi maupun tugas kelompok. Tugas ini juga bukan sekedar tugas copy-paste, karena sebagian besar adalah tugas analisa dan ada kegiatan presentasi. Jadi sudah pasti tugasnya tidak bisa asal-asalan.

Ada juga tugas kelompok. Sebagian anggota kelompok mungkin ada yang pasif. Ada juga anggota kelompok yang hilang tidak tentu rimbanya dan baru muncul saat sudah waktunya mengumpulkan tugas. Untung saja anggota kelompok saya baik-baik semua dan aktif sekali.

2 orang anggota kelompok saya perempuan lulusan Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) dan bekerja di Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Lulusan S1 tahun 2019. Satu orang lagi laki-laki bekerja di perusahaan swasta di Cikarang. Ia mirip saya, sudah cukup lama kuliah S1-nya. Sedangkan satu orang anggota kelompok terakhir, perempuan juga, tinggal di Batam, lulusan milenial. Ia biasanya menjadi juru bicara kelompok karena pintar presentasi dan suaranya mirip native speaker, hehehe…

Bekerja dengan anggota kelompok seperti ini, yang aktif menyelesaikan tugas dan saling mendukung jika ada hal-hal kurang dipahami, sangat membantu saya dalam mengimbangi tugas-tugas yang diberikan. Dalam kelompok, saya dan mas Irfan termasuk yang dituakan. Satu karena memang usia, dua karena kami berdua laki-laki yang termasuk senior dalam hal lulusan (meski termasuk junior dalam kemampuan) ditambah lagi posisi saya sebagai captain kelas untuk beberapa mata kuliah.

Tugas yang baru saja kami lakukan adalah membuat paper untuk mata kuliah Ubiquitous Computing. Pembuatan paper ini sebenarnya tugas kelompok untuk mid semester, karena nantinya tiap mahasiswa diminta membuat paper individu.

Kami mulai membuat draft judul dan abstrak terkait Internet of Things (IoT) device menggunakan arduino sampai kemudian melakukan transisi menggunakan Machine Learning untuk pengolahan dataset hasil sensor arduino. Setelah itu mulai membagi tugas siapa mengerjakan apa. Karena kebiasaan menunda sampai limit waktu, akhirnya saya yang paling telat menuntaskan pekerjaan. Hal ini menjadi pembelajaran sekaligus pendorong agar saya tidak menjadi bottleneck pekerjaan kelompok.

Saya bercerita hal ini pada Vivian Aulia Zahra, puteri bungsu saya, sekaligus berpesan agar ia tidak seperti saya yang kerap menunda penyelesaian pekerjaan sampai limit waktu. Saya katakan bahwa hal itu kadang memicu masalah yang tidak perlu, karena pekerjaan yang saya lakukan jadi terburu-buru dan kualitasnya tidak sesuai dengan yang saya harapkan.

Pernah dalam mata kuliah Research Methodology, saya menunda merapikan abstrak dan introduction paper. Ini memang bukan kesalahan saya mutlak, karena bersamaan dengan kesibukan pekerjaan di kantor. Akhirnya saya baru punya waktu luang siang menjelang sore. Saat sore hendak submit revisi, ternyata mati listrik karena hujan lebat. Saya check batere ipad saya tinggal 25%, meski ada cadangan laptop dengan batere masih 80%. Saya sempat kalut karena harus cari-cari power bank berukuran besar yang biasa saya pakai ke rumah kabin Zeze Zahra.

Jadi pesan moralnya, jangan membiasakan diri menunda pekerjaan karena kita tidak pernah tahu kemungkinan yang bisa terjadi saat mendekati limit waktu 🙂


Also published on Medium.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 2 =

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.