Jangan Bekiya-kiya

Beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan team di PT Aktiva Kreasi Investama. Manajer Product Development dan staffnya. Kami berdiskusi mengenai detail pekerjaan masing-masing team dan salah satunya bicara mengenai front-end developer yang tidak mau mengambil training terkait materi dibidang front-end developer.

Saya tanya alasannya, mengapa kok tidak mau, padahal biaya trainingnya ditanggung oleh perusahaan.

Alasannya, karena dia lebih berminat menjadi tester saja. Menjadi application tester, yang melakukan ujicoba sistem sebelum kemudian dirilis.

Saya tidak secara langsung mengkritisi keputusan itu. Saya bercerita padanya mengenai sebuah cerita. Sebuah analogi.

Cerita ini mengenai keluarga kecil yang memiliki rumah sederhana. Terdiri dari ayah, ibu dan dua anak. Karena pendapatan keluarga tidak terlalu besar, mereka tidak punya asisten rumah tangga.

Jika lantai kotor, siapa yang diminta menyapu lantai? Siapa yang diminta mengepel lantai. Siapa yang diminta memasak? Siapa yang diminta membersihkan kamar? Siapa yang diminta mencuci? Siapa yang diminta menggosok (setrika) pakaian? Siapa dan siapa yang diminta melakukan pekerjaan di rumah?

Apakah semuanya diserahkan pada ibu? Bagaimana jika ibunya juga kerja?

Kalau kita dalam kondisi masih merintis, hidup sederhana, pendapatan masih cukupan, tidak bisa berlebih untuk mendapatkan berbagai kenyamanan, siapa yang harus melakukan itu semua?

Jawabannya sudah pasti : semua anggota keluarga. Masing-masing berbagi tugas. Bisa saja ibu melakukan beberapa kegiatan. Ayah melakukan hal yang sama. Anak-anaknya membantu membereskan tempat tidur, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai. Semua anggota keluarga bahu-membahu. Semua harus menyadari tanggung jawabnya masing-masing.

Enyak (ibu saya) sering bilang, “Jangan Bekiya-Kiya”. Itu bahasa Betawi yang artinya, jangan banyak berdebat. Jangan mempermasalahkan berbagai hal. Jangan saling tuding, “Ini harusnya kamu yang kerjakan, kan saya mah adik. Kan saya masih kecil”.

Jangan mengeluh, ”Kan saya sebagai anak harusnya mengisi waktu dengan belajar dan bermain…”. Ya itu kalau kamu dari keluarga yang memiliki privilege. Masih lumayan hanya sekedar membantu pekerjaan rumah tangga. Banyak dari kita (termasuk saya saat masih kecil) justru harus membantu mencari nafkah, bekerja saat masih usia sekolah.

Kalau kamu sebagai staff front-developer hanya ingin menjadi application tester saja, lantas siapa yang disuruh mengerjakan tugas front-end developer? Siapa yang diminta melakukan pekerjaan lainnya.

Hire orang baru? Kan analoginya tadi, keluarga bahagia sejahtera meski sederhana. Apakah keluarga dengan pendapatan pas-pasan memiliki privilege untuk mempekerjakan asisten rumah tangga? Jika perusahaan masih dalam fase rintisan dan kamu hanya mau mengerjakan pekerjaan yang spesifik saja, lantas siapa yang harus mengerjakan pekerjaan lainnya? Jika semua serba diatasi dengan mempekerjakan karyawan baru, apakah pendapatannya bisa menutup biaya gaji dan operasional?

Pada perusahaan yang sudah well established, posisi-posisi tertentu memang diisi spesialisasi sampai tingkatan detail, namun untuk perusahaan yang masih kecil, banyak posisi yang harus dirangkap.

Saat kita masih muda dan baru pertama kerja, jadikan rangkap pekerjaan ini sebagai pengalaman dan sebagai media belajar, sepanjang rangkap pekerjaan itu masuk akal dan tidak menjadi beban berlebih. Rezeki tidak akan kemana. Jika kita menguasai berbagai pekerjaan, adalah soal waktu bagi kita untuk promosi ke jabatan yang lebih tinggi jika kesempatannya ada dan perusahaan semakin besar.

Foto : Team Excellent (PT Excellent Infotama Kreasindo) saat menempati markas Excellent Emerald Spring, sekitar tahun 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.