Intermittent Fasting : Puasa Daud

Catatan : Sebenarnya saya malu dan sungkan menuliskan hal ini, karena hal seperti ini harusnya cukup untuk personal saja. Biasanya juga saya tulis sungkan tapi akhirnya saya tulis juga, hehehe…

Saya tuliskan disini sebagai catatan perjalanan saja, siapa tahu bisa bermanfaat bagi yang hendak melakukan hal yang sama.

*****

Pekan ini terhitung minggu kedua saya menjalani intermittent fasting. Kalau orang lain intermittent fasting biasanya 8 jam waktu makan dan 16 jam waktu berpuasa, saya mengambil cara yang termudah dan sudah ada contohnya saja, yaitu sehari puasa dan sehari tidak, alias puasa Daud.

Pertimbangan saya berpuasa sederhana saja. Pertama karena berat badan saya kadang berkisar di 80-an kg. Ini sudah melewati batas, karena saya biasanya di 75-an kg. Itupun sudah gempal, harusnya ideal di 70-an kg.

Pertimbangan kedua, karena alasan kesehatan. Kurang gerak, perut gendut, mudah lelah dan kadang terpapar sakit. Sekaligus niatan mengurangi konsumsi makanan yang tidak direkomendasikan, seperti makanan manis, asin, gorengan, es dan lain-lain.

Pertimbangan ketiga adalah supaya saya tidak menjadi budak makanan. Kata “budak” mungkin terdengar kasar. Mungkin bisa juga disebut hamba makanan. Karena dulu semasa kecil kurang makan, alam bawah sadar saya kadang mendorong saya untuk makan sepuas hati, apalagi jika bertemu makanan yang saya sukai.

Saya pernah menulis tentang keharusan kita mengerem segala sesuatu untuk kebaikan kita sendiri. Tulisannya ada disini : https://www.vavai.com/manusia-utama-mengurangi-makan…

Manusia utama itu adalah manusia yang bisa mengendalikan hawa nafsunya, dalam konteks tulisan ini adalah manusia yang bisa mengendalikan tidur, makan dan omongan.

Dulu saya berpikir, wah berat banget ya sehari puasa sehari nggak. Bisa-bisa laper jadinya.

Ternyata ya biasa saja. Kunci utama adalah di niat dan kepercayaan diri. Malu lah kalau sudah dewasa, puasanya kalah oleh makanan dan minuman.

Saya mulai dari Senin pekan lalu. Bangun sekitar jam 3-an, kemudian makan sahur. Setelah itu shalat Shubuh dan beraktivitas sebagaimana biasa. Berbuka puasa setelah maghrib.

Awal-awal saya makan sahur normal dengan nasi dan lauk. Belakangan saya tidak makan nasi, sahur dengan ubi atau pisang rebus. Kadang plus telur rebus, jagung rebus atau ikan atau ayam.

Buka puasa juga saya seperti itu. Tidak makan nasi, saya makan pisang dan ubi sebagai penggantinya. Kebetulan saya senang keduanya jadi bagi saya relatif tidak ada bedanya. Saya sering kok makan pisang rebus dengan ikan atau ayam goreng 🤭

Hari biasa saat tidak puasa, saya makan nasi 2x sehari, dengan porsi yang lebih sedikit. Saya juga berusaha tidak minum es, tidak makan fastfood, tidak makan mie, tidak minum minuman manis dan lainnya.

Apa hasilnya? Apakah lapar dan haus? Sejauh ini saya tidak terlalu merasakan lapar dan haus. Mungkin juga karena saya tetap sibuk mengantar Vivian sekolah, bekerja di Excellent dan juga mengerjakan tugas kuliah.

Diawal-awal sampai hampir 2 minggu ini yang utama terasa adalah ngantuk. Mungkin karena asupan gula berkurang drastis (dulu saya biasanya minum teh manis saat sarapan) sehingga tubuh menyeimbangkan diri.

Bisa juga saya ngantuk karena bangun lebih awal. Shubuh saat ini sekitar jam 4 pagi, sehingga makan sahur harus di jam 3 atau maksimal di jam 3.45.

Bagaimana dengan berat badan? Saya check masih up and down. Tapi kisarannya trend penurunan. Awal puasa di 79-an. Seminggu ini mondar-mandiri di 76-78. Tidak apa-apa, gradual. Saya baca di Atomic habits, salah satu tips agar berhasil itu adalah jangan menjadikan hal ini sebagai tujuan, melainkan jadikan sebagai lifestyle. Sebagai gaya hidup dan kebiasaaan.

Saya pernah ngobrol dengan salah satu staff IT perusahaan klien yang berlokasi di kawasan EJIP (East Jakarta Industrial Park). Ia menjalankan puasa Daud sejak lama. Saat saya tanya apakah tidak lapar dan haus, katanya tidak. Saat saya tanya alasan mengapa ia puasa, katanya ia pernah sakit yang hampir fatal dan sakitnya itu yang mendorong ia menjalankan puasa Daud.

Meski berpuasa, saya tetap mengimbanginya dengan olah raga. Minimal dalam bentuk treadmill. Saat hari puasa, saya melakukan treadmill di sore hari sekitar pkl 17. Treadmill saya lakukan sambil nonton Documentaries di Curisoity Stream, NatGeo atau NetFlix.

Saya juga membeli perangkat situp bench, supaya bisa mendorong latihan otot perut agar lebih kuat dan tidak mudah melar, hehehe…

Mau coba puasa Daud juga?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.