(Gagal) Vaksinasi Covid

Hari Rabu, 7 Juli 2021 saya seharusnya mengikuti kegiatan vaksinasi covid yang diselenggarakan oleh CT Corp. Saya mendaftar secara online pada website Detik.com dan kebagian jadwal pada hari Rabu, 7 Juli 2021 pukul 10.00 WIB.

Untuk vaksinasi ini, setiap orang bisa mendaftarkan hingga 4 peserta, jadi saya mendaftarkan isteri saya Dear Rey, adik ipar Nuraini Rofikoh dan keponakan saya Mardiah, selain tentunya saya sendiri.

Malam sebelumnya saya tidur sebagaimana biasa. Setelah mengikuti pengajian online KH Buya Syakur Yasin yang selesai pukul 22.00 WIB, saya langsung tidur setelah terlebih dahulu minum obat tensi amlodipine 5 mg. Saya biasanya minum Norvask namun kebetulan Norvasknya habis dan saya pesan via Halodoc masih belum datang.

Tidur pukul 22.00 WIB, saya bangun jam 3 pagi, kemudian mandi dan shalat Shubuh. Selepas shalat Shubuh saya bersantai diatap rumah, membaca artikel sambil menyiram tanaman diatap.

Jam 7 pagi pagi saya mengantar Dear Rey ke kantor untuk absen, kemudian kembali ke rumah dan berangkat untuk vaksin ke Transpark Juanda Bekasi menjelang pukul 09.00 WIB.

Sampai di Transpark suasana relatif sepi. Ada petugas yang mengarahkan untuk screening awal. Setelah itu ada pemeriksaan oleh petugas kesehatan. Disinilah timbul masalah dan kesialan bagi saya. Saya kebagian di kursi pertama, petugas pertama dan saya lihat bangku pertama ini selalu terisi (sampai terisi 2 orang), padahal kursi di petugas lain relatif lowong. Karena diarahkan oleh petugas kesitu, ya sudah saya duduk disitu.

Saat mengukur tensi, sudah ada gelagat tidak enak. Katanya tensi saya 170 sekian. Padahal sebelum berangkat saya sempat mengukur tensi 140-an. Saya memang punya riwayat hipertensi tapi nggak sampai 170 juga angkanya. Akhirnya saya dicheck sekali lagi. Dapatlah angka 154. Saya sudah menawar pada petugas, 154 bolehlah langsung vaksin, karena saya baca peraturan Kemenkes dan WHO yang baru, tensi dibawah 180 boleh divaksin dengan memperhatikan beberapa ketentuan.

Ukuran tensi saya saat hendak berangkat vaksinasi

Petugasnya bersikeras agar saya menunggu sekitar 15 menit. Ya sudah, saya ikuti anjurannya menunggu 15 menit, meski ya saya skeptis akan berubah. Yang ada bukannya relaks, saya malah sebel karena tahu hasilnya nggak sesuai harapan.

Benar saja, setelah 15 menit menunggu, saya sempat bertanya pada petugas yg lain, bisa nggak saya dicheck di meja yg lain. Tapi katanya tidak bisa, harus dimeja awal tadi. Terpaksa saya kembali ke meja awal, setelah dicheck hasilnya tensi saya 174 dan diminta vaksinasinya ditunda.

Halah. Sial. Saya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan saya. Percuma saya sudah mendaftar dan menunggu cukup lama, mempersiapkan diri ternyata masih gagal juga. Untunglah Dear Rey, mbak Nur dan keponakan saya Mardiah berjalan lancar dan bisa mengikuti vaksinasi.

Akhirnya agenda saya vaksinasi hari ini gagal total. Saya kembali pulang dengan rasa sebal dan kecewa.

Sampai di rumah, setelah pikir-pikir, ya mungkin itu jalan dan takdirnya. Saya nggak dikasih vaksin hari ini mungkin untuk kebaikan saya juga. Meski saya kepingin vaksin sesegera mungkin, kalau hasil screeningnya seperti itu mau gimana lagi. Petugasnya juga mungkin nggak mau ambil resiko, jadi keputusannya balik lagi pada saya.

Mungkin saya harus lebih sering berpuasa, mengurangi konsumsi yang bisa meningkatkan tensi dan berupaya agar tensi normal, baik hendak vaksinasi maupun tidak. Mungkin saya akan coba alternatif lain untuk vaksinasi.

You may also like

3 Comments

  1. Mungkin juga tidurnya bisa diatur supaya lebih sore, mas. Kan untuk satu hari saja, sebelum vaksin. Saya juga sempat “tertunda” karena tensi tinggi. Tapi saat istirahat 15 menit, saya justru menggunakannya untuk membuat tubuh dan pikiran serelaks mungkin. Saya malah pasrah, terserah Gusti Allah, hari ini jadi vaksin atau tidak. Jadinya malah tenang, hehe.

  2. @Asep Sopyan,

    Siap mas, iya, saya akan mengikuti sarannya. Rencana untuk berikutnya saya akan siapkan lebih baik, tidur lebih awal dan lebih cukup, jika perlu selepas shalat shubuh tidur lagi.

    Kalimat “terserah gusti Allah” bener banget. Seharusnya saya juga menempatkannya dalam posisi itu. Kan jadi vaksin atau tidak ya terserah takdir yang dikasih gusti Allah, kalau saya sudah coba dan usahakan ternyata hasilnya nggak jadi vaksin, mungkin baiknya memang demikian, misalnya ditunda dulu untuk kebaikan saya sendiri.

    Terima kasih remindernya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.