FIRE, Pensiun Dini dan Upaya Membangun Asset Produktif

Sekitar tahun 2007 atau 2008, seorang rekan blogger menuliskan resolusi awal tahunnya : Di tahun tersebut ia ingin punya tabungan Rp. 100 juta. Wah, nilai yang cukup besar bagi saya, yang saat itu masih kerepotan untuk menabung Rp. 500-750 ribu per bulan.

Saya ingat saat itu baru punya 1 putera, Zeze Vavai. Untuk Zeze Vavai saya membuat tabungan pendidikan di Bank Niaga sebesar Rp. 250 ribu/bulan dan tabungan mapan untuk saya berdua dengan isteri Rp. 500 ribu/bulan. Tak lama kemudian saya mulai mencari-cari rumah, salah satunya dapat rumah lokasi bagus di dekat kantor isteri, Grand Meuthia Kirana. Harga rumahnya paling murah 750 juta, dan mata saya kliyengan padahal baru lihat brosur saja :-). Saat itu saya pikir harganya 75 juta, ternyata itu nilai pajaknya saja, 10% dari harga rumah. Terlanjur malu sudah datang, saya tanya lagi apakah ada tipe lain. Ternyata ada. Saya diberikan brosur tipe rumah lain, dengan harga 1.5 miliar dan 2 miliar. Saya jadi tambah kliyengan, hehehe…

Ketika akhirnya membeli rumah yang kemudian menjadi markas Excellent DJ sekaligus home sweet home, nilai cicilannya 1.9 juta per bulan di tahun pertama dan kemudian naik menjadi sekitar 2.5-2.6 juta per bulan di tahun kedua dan seterusnya. Dengan gaji dikisaran 4-5 juta per bulan saat itu, saya hampir tidak bisa bernafas dengan leluasa karena biaya hidup mengejar-ngejar setiap bulan…

Tahun lalu seorang rekan di Facebook menuliskan semacam resolusi bahwa dalam beberapa waktu mendatang, harapannya mereka masuk dalam list orang terkaya di Indonesia. Ini lebih luar biasa lagi buat saya, meski setelah saya pikir-pikir mungkin saja. Berbeda dengan masa lalu dimana sebagian besar orang kaya berasal dari keturunan orang kaya atau punya channel orang kaya, saat ini potensi menjadi kaya bisa bersumber dari kepandaian dibidang IT.

Beberapa hari belakangan saya banyak membaca mengenai konsep FIRE. Sudah lama beredar di dunia luar (luar negeri) namun saya baru beberapa waktu ini mendengar dan menyadari jalur yang bisa saya tempuh ini.

FIRE secara sederhana merupakan pemendekan dari istilah Financial Independence Retirement Early atau Pensiun Dini Bebas Finansial. Artinya, kondisi dimana seseorang bisa pensiun lebih awal tanpa harus khawatir pada kebutuhan finansialnya.

SKEMA 4%

Bagaimana seseorang disebut FIRE? Seseorang masuk kaidah bebas finansial jika hasil dari asset aktif atau investasinya bisa membiayai kehidupannya sendiri. Cara termudah adalah menggunakan skema 4%.

Skema 4% artinya, total biaya hidup setahun secara nilai hanya 4% dari asset produktif yang dimiliki. Misalnya biaya hidup kita per bulan hanya 1 juta rupiah, setahun 12 juta. Jika X adalah nilai asset produktif dan 4% dari X adalah 12 juta, maka X adalah 12 juta X 25 = 300 juta. Coba saja 4% dikalikan 300 juta, dapat deh 12 juta 🙂

Siapa yang bisa hidup dengan nilai 1 juta rupiah per bulan? Bisa kok, dikampung-kampung masih bisa. Tapi anggaplah itu tidak mungkin, tinggal disesuaikan saja.

Misalnya biaya hidup per bulan adalah 10 juta, maka biaya hidup setahun 120 juta. Nilai asset produktif yang dimiliki adalah 25 * 120 juta = 3 miliar.

Skema 4% atau 4% rule ini bukan sembarang angka, karena merupakan berdasarkan paper yang disusun oleh professor keuangan pada Trinity University sehingga 4% rule kerapkali disebut sebagai Trinity Study. Sebagaimana layaknya jurnal ilmiah, tentu banyak pro kontra mengenai akurasinya, namun study 4% rule ini juga didasarkan pada data historis yang cukup panjang dan cukup menunjang akurasi study-nya.

Bagaimana jika suatu waktu nilai saham anjlok? Bagaimana jika kebutuhan hidup semakin meningkat? Bukankah bisa terjadi potensi masalah saat asset yang ada tidak mampu membiayai kebutuhan hidup lagi?

Nilai saham memang bisa anjlok dalam suatu periode tertentu, namun tentu saja bisa recover atau naik kembali diperiode lainnya. Jika kebutuhan hidup meningkat, biasanya akan dibarengi dengan nilai intrinsik suatu modal. Misalnya dulu jaman saya SD tahun 1983-1989, saya hanya dibekali uang 100 rupiah untuk sekolah dan sudah mendapat jajan yang cukup beragam. Orang tua saya berpenghasilan dibawah Rp. 100 ribu dan bisa membiayai keluarga.

Saat sekarang uang jajan anak SD meningkat pesat, nilai harga barang naik tinggi, secara prinsip nilai penghasilan atau asset juga semakin tinggi. Jadi secara value sebenarnya ada kesinambungan ikatan antara nilai kebutuhan hidup dengan nilai asset produktif yang dimiliki.

Jika asset produktif yang dimaksud berupa saham, asset tersebut memberikan keuntungan berupa dividen. Memang tidak semua saham memberikan dividen setiap tahun, karena itu kita bisa menyeleksi saham mana yang memberikan return dividen terbaik. Asset produktif juga tidak harus satu jenis, misalnya hanya saham saja sehingga saat bursa saham anjlok yang ada kita malah stress dan kaget. Asset produktif bisa dalam bentuk properti, modal yang ditempatkan dalam usaha, tanah yang ditanami sayuran atau buah yang bisa dijual, lahan pertanian yang disewakan, rumah yang dikontrakkan dan lain-lain.

Bagaimana jika modal usaha ternyata bangkrut, lahan pertanian kena hama, rumah yang dikontrakkan ditinggal kabur penyewanya dan lain-lain? Kalau berpikir resiko, semua pasti ada resikonya. Uang ditaruh diasuransi ternyata asuransinya kolaps. Uang ditaruh ditanah ternyata dimakan rayap, emas dicuri orang, semua pasti ada resikonya, tinggal usaha kita menyesuaikan proteksi dan menyebarkan alokasinya.

MEMBANGUN ASSET

Salah satu yang membuat saya skeptis saat membaca seseorang yang menulis tentang tema pensiun dini seperti ini adalah karena memandang situasi diri sendiri yang jauh dari kata cukup. Jadi kecenderungannya akan berkomentar :

  • Gimana bicara pensiun dini, kalau untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja susah
  • Gimana bicara pensiun dini, kalau saat ini saja belum bekerja
  • Gimana mau bicara soal investasi saham, banyak kabar soal orang bunuh diri karena rugi disaham
  • Menurut saya hal diatas hanya bagus seperti bicara tukang obat atau orang lagi prospek MLM, karena kenyataannya pasti tidak begitu

Jadi kecenderungannya menolak, tanpa berusaha memahami dan menyelami maksud dan tujuannya.

Jika saya mengacu pada pengalaman pribadi, saat orang masih bicara kebutuhan perut, pasti susah bicara soal aspek yang lebih luas. Karena kebutuhan utama masih belum terpenuhi. Namun disini ada bedanya. Bedanya adalah, meski kita masih berusaha memenuhi kebutuhan utama, tidak ada salahnya kita memikirkan mengenai rencana kedepannya. Tidak sekedar berhenti berpikir dan hanya menghabiskan waktu untuk meratapi kekurangan dan nasib kita.

Saat gaji saya habis-habisan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, pikiran saya tetap saya pergunakan untuk bisa keluar dari situasi itu. Saya tetap banyak membaca buku untuk membuka wawasan. Karena tidak sanggup membeli buku baru, saya membaca buku diperpustakaan. Saya memilih buku loak didepan Ramayana Bekasi. Saya membaca artikel di internet. Wawasan yang didapat bisa membuat saya banyak alternatif untuk keluar dari kesulitan.

Saya berusaha mengembangkan kapabilitas. Membaca literatur. Memperkuat kemampuan dan pendidikan. Itu membuka peluang mendapat penghasilan tambahan dari mengajar training atau memberikan layanan setup sistem komputerisasi. Penghasilan yang didapat memberikan saya ruang untuk bernafas lebih lega, berpikir lebih santai. Sebagian uang digunakan untuk menambah alokasi kebutuhan hidup, sebagian lagi diinvestasi kembali untuk investasi.

Saya mengambil kursus, agar memiliki kemampuan dan pemahaman yang lebih baik. Saya membeli perangkat komputer yang lebih kuat, agar lebih mudah dalam memberikan pengajaran. Saya mulai membeli buku baru maupun ebook, agar tidak terlalu tertinggal dari perkembangan teknologi.

Mekanisme diatas terus saya duplikasi, sampai akhirnya saya bisa meningkatkan alokasi uang untuk ditabung bagi pendidikan Zeze Vavai dan Vivian dan untuk masa depan keluarga, tanpa harus mengambil alokasi gaji.

Saya membaca banyak buku, artikel dan tulisan tentang keuangan. Saya baca soal reksadana. Soal investasi saham. Soal peer to peer lending. Soal baik buruknya masing-masing mekanisme. Soal dasar hukumnya dalam agama Islam. Saya berusaha mencari tahu secara detail semua aspeknya agar tidak sekedar mengekor apa kata orang tanpa tahu seluk beluknya secara mendetail.

Secara bertahap sedikit demi sedikit saya bisa menyisihkan sebagian alokasi keuangan untuk keperluan investasi. Untuk keperluan investasi yang saya belum ketahui, saya mulai dengan nilai kecil untuk pembelajaran. Saya tambahkan dari pendapatan insidentil, misalnya penghasilan dari Google Adsense atau penghasilan dari iklan blog lainnya, itu saya jadikan sebagai modal investasi. Penghasilan sesekali sebagai pembicara, itu saya masukkan sebagai investasi. Uang dari penjualan buku dan ebook, itu saya masukkan ke investasi setelah dikurangi biaya pencetakan. Andaikanpun merugi, paling tidak mental saya bisa berkata, “Yaaaah, easy come easy go…”. Bukan sok kaya, karena mental itu terbentuk berdasarkan pemikiran bahwa uangnya bukan dari penghasilan utama dan kerugian yang mungkin terjadi merupakan biaya pembelajaran.

Setelah mulai bisa membangun asset, secara bertahap proses berikutnya adalah memilih asset produktif dan mulai memperhitungkan lama waktu untuk bisa mencapai level asset FIRE. Karena tulisan ini terlalu panjang, saya akan coba tuliskan dalam tulisan lain secara terpisah dalam seri FIRE.


Also published on Medium.

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − 10 =

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.