Excellent Insight Day #30: Berusaha Sampai Akhir

Akhirnya sampai juga di hari ke-30 Excellent Insight. Sebagai penutup untuk seri tulisan insight ini, saya memilih tulisan untuk jangan pernah menyerah berusaha sebelum semua pilihan tertutup. Tulisan ini sebagai pengingat, jangan sampai kita langsung memilih untuk kalah sebelum berjuang, padahal masih ada pilihan lain yang belum dilakukan.

Selamat membaca…

Bekerja sebagai freelancer di awal dan kemudian menjalani proses wirausaha, saya pernah beberapa kali bertemu situasi yang mengharuskan saya mengambil keputusan sulit, terutama untuk menyiasati beberapa kekurangan dan keterbatasan yang ada.

Saat Excellent masih bayi dan masih tahap-tahap awal pertumbuhan, saya harus deal dengan team mengenai penggajian. Saya bahkan terpaksa melepas beberapa peluang dengan nilai proyek cukup besar karena khawatir tidak sanggup mengelolanya. Ibarat makanan, saya khawatir jika proyek itu terlalu sulit untuk ditelan dan bisa membuat saya megap-megap kehabisan nafas.

Saya masih ingat di tahun 2011 pernah ada peluang tender proyek dengan nilai 4-5 Milyar di sebuah bank nasional. Padahal saat itu team Excellent hanya 3 orang, nomor telepon masih telepon rumah markas DJ dan kadang yang mengangkat telepon adalah Zeze Vavai yang usianya baru 5 tahun. Saat team Excellent diundang untuk Aanwijzing, saya harus mencari di Google arti kata Aanwijzing…

Saat pendaftaran Aanwijzing, staff saya ditanya nomor telepon kantor dan dia gelagepan, karena nggak hapal. Bayangkan, ini perusahaan tender milyaran dan staff perusahaan nggak ingat no telp kantor, hehehe…

Saya berjuang kesana kemari mencari modal untuk membiayai proyek itu, karena peluang untuk menang cukup besar dan secara teknis kami mampu mengerjakannya. Saya berusaha semaksimal mungkin sampai akhirnya menyadari bahwa Excellent ibarat ikan kecil hanya sanggup makan pakan kecil. Proyek itu terlalu besar dan saya harus merelakannya daripada Excellent menjadi seperti balon, membesar tiba-tiba kemudian meletus dan habis semua.

Setahun berikutnya ada lagi proyek senilai 1.4 Milyar di salah satu kementerian. Excellent yang membantu membuatkan requirementnya. Excellent juga yang menginisiasi proyek awal dan implementasinya. Saat akhirnya meluncur jadi tender, saya usahakan semaksimal mungkin. Dengan nilai 1.4 M, potensi keuntungan bisa ratusan juta rupiah namun modalnya juga bisa 1 M. Setelah berusaha kesana kemari penuh perjuangan, akhirnya saya terpaksa melepas proyek itu karena meski berpotensi meraih keuntungan cukup besar, resikonya juga cukup besar. Daripada saya makan tak enak tidur tak nyenyak, saya memilih untuk mengalah dan memperkuat diri sampai akhirnya cukup kuat untuk meraih peluang berikutnya.

Ada beberapa prinsip dasar di Excellent yang tetap kami jaga meski dalam situasi sulit, antara lain :

  1. Jangan Pernah Menunda Gaji
    Excellent memang pernah delay dalam memberikan gaji, terutama diawal-awal pertumbuhan, namun kemudian saya berusaha semaksimal mungkin agar hal ini tidak terjadi lagi. Saya lebih memilih untuk tidak menerima gaji saya daripada menunda gaji untuk staff saya. Bagaimana mungkin saya meminta staff saya bekerja secara optimal jika saya menahan-nahan hak mereka.
  2. Jangan Menunda Pembayaran Hutang
    Pembayaran hutang adalah kewajiban. Saya memilih untuk memiliki sedikit simpanan daripada menunda kewajiban pembayaran hutang. Saya memilih untuk menunda investasi karena investasi bisa dilakukan kapan saja namun pembayaran hutang harus dilakukan pada kesempatan pertama
  3. Menjaga Kepercayaan dan Reputasi
    Saya memilih untuk mengorbankan biaya atau keuntungan daripada mengorbankan reputasi Excellent. Korban potensi keuntungan masih bisa dicari penggantinya namun rusaknya reputasi akan butuh waktu lama sekali untuk proses recoverynya.

Beberapa waktu yang lalu Excellent menerima peluang bagus, sekaligus juga tantangan bagus. Bagi perusahaan besar dengan modal kuat, ini mungkin soal sepele namun sebagai perusahaan kecil seperti Excellent, peluang ini merupakan peluang yang harus dikelola dengan baik.

Pada saat itu, Excellent menerima order pekerjaan dari salah satu perusahaan swasta dengan nilai omset (ingat ya, omset, bukan keuntungan, hehehe…) sekitar 400 juta rupiah. Disusul dengan pekerjaan tender disalah satu lembaga dengan nilai sekitar 135% dari nilai tersebut, dan di pertengahan bulan berikutnya ada pekerjaan tender lain dengan nilai sekitar 65% dari nilai diatas.

Kembali ke alinea awal, bagi perusahaan dengan nilai kapital besar, hal ini tidak seberapa, namun bagi saya pribadi yang biasanya berurusan dengan hal-hal receh, saya sempat bingung. Bingung justru saat menerima project , bukan saat nggak ada project zzzzz….

Saya sempat berpikir, untuk membiayai pekerjaan diatas, saya mungkin perlu berhubungan dengan pihak perbankan. Mengambil kredit, baik dengan agunan maupun tanpa agunan. Jika tanpa agunan, nilai bunganya cukup besar. Saya hitung-hitung bisa 2–3%, per bulan. Besar sekali …

Hal lain yang merisaukan saya adalah soal riba. Saya sebenarnya masih relatif awam dalam hal agama. Saya juga masih berhubungan dengan beberapa layanan perbankan atau layanan lain yang mungkin mengandung aspek tersebut. Meski demikian, saya ingin secara bertahap sedapat mungkin menghindari layanan riba dan mengurangi yang sudah ada sehingga sampai tahapan menghindarinya.

Karena sebelumnya sebagian tabungan saya alihkan dalam bentuk investasi tanah, hal ini membuat saya berpikir : “jangan-jangan kali ini saya terpaksa mengalah”.

Saya sempat menghubungi beberapa layanan perbankan baik konvensional maupun syariah sekedar ingin tahu syarat dan ketentuannya jika saya terpaksa meminjam ke bank.

Meski demikian, saya belum menyerah. Saya percaya Allah maha kaya. Meski bagi saya merupakan urusan besar, bagi yang maha kuasa mungkin ini urusan kecil. Jadi saya berdoa supaya ada alternatif pembiayaan yang lebih mudah dan memenuhi kaidah.

Diluar doa, saya juga mereview beberapa outstanding invoice maupun invoice overdue. Siapa tahu saya bisa mendapatkan tambahan dana sehingga andaikan meminjam uang, jumlahnya bisa seminimal mungkin. Saya juga menyempatkan diri bernegosiasi dengan pihak prinsipal, apakah memungkinkan jika kami diberi masa terms of payment yang lebih longgar. Kesempatan saya bertemu dengan pihak prinsipal di suatu event juga saya gunakan untuk berdiskusi mengenai hal ini.

Meski kelihatannya agak mustahil dan sulit, ternyata ada jalan keluarnya. Awal bulan berikutnya, beberapa pembayaran invoice masuk. Bahkan ada klien yang lama tidak ada kabar berita tiba-tiba minta bertemu, deal pada suatu kerjasama dan langsung bayar cash ditempat. Setelah dikalkulasikan, seluruh biaya yang saya perlukan untuk membiayai pekerjaan awal bisa sepenuhnya tersedia, tanpa perlu berhubungan dengan pihak bank dan tanpa perlu menyekolahkan sertifikat asset-asset saya . Semua bisa ditutup dengan penerimaan normal yang ada, bahkan tanpa perlu menyentuh alokasi dana stand by untuk keperluan operasional Excellent.

Pembiayaan untuk pekerjaan kedua juga mendapat jalan keluar dalam bentuk kelonggaran masa terms of payment hingga 2 bulan, cukup waktu hingga saya selesai mengerjakan pekerjaan dan melakukan penagihannya.

Pekerjaan tender terakhir juga diberikan jalan keluar, karena tiba-tiba panitia lelang membuat penyesuaian waktu sehingga saya punya keleluasaan untuk menyelesaikan pekerjaan pertama dan kedua sekaligus menyiapkan pembiayaan kerjanya.

Jangan pernah menyerah sebelum berusaha semaksimal mungkin.

Referensi Artikel :

  1. Tidak Semua Project Harus Diambil
  2. Liem Swie Ling : Bank untuk Menyimpan Uang

Action :

Ini adalah insight hari ke-30 atau insight terakhir dari seri 30 Days Excellent Insight. Jika ada beberapa insight yang terlewatkan untuk dibaca, sempatkan untuk membacanya. Sempatkan juga membaca link yang direferensikan karena saya memilih link tersebut dengan hati-hati dan membacanya terlebih dahulu.

Terakhir, sempatkan membaca ini : Menunggu dan Mencari Pembenaran… Mungkin ada manfaatnya sebagai bacaan insight penutup.

CATATAN :

Tulisan diatas merupakan bagian dari seri tulisan “Excellent Insight”. Saat ini kumpulan bukunya sudah diterbitkan dalam bentuk buku cetak maupun ebook.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.