Excellent Insight Day #3 : Memberi Batas

Jika kita pernah mencoba menelusuri pengalaman hidup, mungkin kita akan menjumpai beberapa kesulitan hidup yang kita alami ternyata bermula dari sikap kita yang tidak tegas dan tidak memberi batas yang jelas.

Apa yang dimaksud dengan memberi batas ? Frasa “memberi batas’ yang saya maksud sebenarnya erat terkait dengan cara pandang seseorang dalam menyikapi hidup dan dalam mengatur kehidupannya.

Berapa banyak orang yang berat menjalani hari-harinya hanya karena dia tidak memberi batas. Berapa banyak orang yang bertahun-tahun hidup dalam dilema karena tidak memberi batas. Menyesal berkepanjangan karena tidak memberi batas. Menunggu tanpa kepastian karena tidak memberi batas. Tersiksa dan menjadi korban karena tidak memberi batas.

Jika hidup kita ini milik kita, lantas mengapa kita membiarkan diri kita disandera oleh keadaan dan oleh situasi yang secara tak sengaja kita ciptakan sendiri ?

Jika anda anda korban kekerasan dalam rumah tangga, baik anda sebagai wanita korban ataupun laki-laki korban (ada juga lho. Jangan anggap semua korban KDRT itu hanya wanita), mengapa anda tidak memberi batas toleransi yang dapat diterima untuk kemudian anda berkata tidak ? Apakah terlalu takut untuk memberi batas ? Apakah terlalu takut sengsara dalam hidup lantas membiarkan diri disengsarakan tanpa batas ?

Saya membenci pelaku KDRT tapi saya juga sebal pada korban yang tidak memberi batas toleransi perlakuan yang bisa diterima. Jika sering kena tampar, beri batasan berapa kali ditampar untuk kemudian memutuskan untuk melawan. Jangan menunggu dibunuh atau disiksa sehingga merana seumur hidup untuk kemudian menyesal sendiri atau disesali banyak orang.

Saya sering trenyuh mendengar pembantu rumah tangga atau TKW Indonesia disiksa oleh majikan yang tak berperikemanusiaan hingga sukar terbayangkan bagaimana perlakuannya. Selain karena majikan yang miring otaknya, hal ini juga bisa dipicu karena korban tidak memberi batas perlakuan wajar yang bisa diterima. Berilah batasan, ingat selalu bahwa hidup kita adalah milik kita. Bekerja pada orang lain tidak berarti kita menggadaikan hidup kita.

Apakah memberi batas hanya terbatas pada sesuatu yang menyiksa secara fisik ? Tentu saja tidak.

Pernahkah anda merasa jengkel karena menunggu teman yang janjian namun tak kunjung tiba ? Berilah batas waktu yang wajar yang bisa anda terima untuk menunggunya. Jika setelah itu tak ada perkembangan, lepaskan janji itu. Tak usah merasa bersalah karena kita sudah memberi batas waktu yang wajar. Dalam hidup, adakalnya kita harus memilih. Daripada menunggu tanpa kepastian dan kemudian berakhir dengan rasa jengkel lebih baik kita beri batas waktu dan kemudian menentukan keputusan berikutnya dengan ringan.

Sebelum saya menggunakan prinsip “memberi batas”, saya sering tersandera jika janji bertemu dengan teman atau dengan orang lain. Berjam-jam saya menunggu untuk kemudian jengkel dan sebal karena rekan saya ingkar janji atau sangat terlambat untuk datang sesuai janji. Sekarang saya bisa dengan leluasa menentukan batasan yang bisa saya sesuaikan sendiri. Adakalanya saya menentukan batas waktu, jika 30 menit ditunggu tidak datang, saya tinggalkan. Jika 3 kali konfirmasi terlambat tapi masih belum datang-datang, saya tinggalkan.

Batasan waktu yang ditentukan fleksibel sesuai dengan pertimbangan kita. Tak usah cemas bahwa orang yang janjian akan marah karena kita tinggalkan setelah batas waktu terlewati. Anda mau disandera oleh orang lain atau menjalani hidup sesuai dengan pertimbangan anda, itu intinya.

Ingat baik-baik bahwa memberi batas yang saya sarankan dan saya maksudkan tidak dalam bentuk mengajak konflik dengan orang lain. Point dari yang saya maksudkan adalah bahwa kita bisa menentukan batasan-batasan tertentu untuk hal-hal yang selama ini menjadi sumber kejengkelan, stress berkepanjangan, dilema tak berkeputusan dan derita tiada akhir yang kita alami. Jika kita bisa berkomitmen, orang lain akan menghargai kita. Percayalah.

Selama pengalaman saya menerapkan prinsip “memberi batas”, hampir tak ada konflik yang aneh-aneh terkait dengan prinsip ini.

Prinsip memberi batas bisa diterapkan pada hampir semua persoalan hidup sehari-hari. PDKT sudah lama tapi tak mendapat respon, tentukan saja batas waktu sampai kapan anda harus menunggu. Ajakan menikah tak disambut, beri saja batasan waktu. Interview perusahaan sudah lama tapi tak mendapat konfirmasi dan menunggu tanpa kepastian kerja, tentukan saja batas waktunya. Dipanggil interview sejak pagi tapi hingga siang belum ada tindak lanjut, tentukan saja batas waktu sampai kapan anda bertahan. (eits, ini bukan pengalaman pribadi, kali aza ada yang begitu )

Anda menjadi korban intimidasi, tentukan berapa kali anda harus diintimidasi untuk kemudian berbalik menolaknya. Tidak betah kerja karena gaji tidak sesuai, tentukan saja batasan gaji yang ingin dicapai dan kapan waktu yang diinginkan. Anda sering dilecehkan, diejek dan dihinakan, berilah batasan yang bisa anda terima.
Jangan biarkan anda terombang-ambing dalam dilema dan ketidakpastian. Ingatlah, hidup kita adalah milik kita. Susah senang, kita juga yang menjalaninya…
Referensi bacaan menarik :

  1. Rehat Sejenak untuk Hasil yang Lebih Baik
  2. Saying No
  3. 10 Guilt-Free Strategies for Saying No

Action :

Jangan merasa bersalah (do not feeling guilty) jika kita menolak melakukan sesuatu jika memang hal itu kita anggap benar.

Jangan katakan “Ya jika ingin berkata tidak”.

Berikan batas jika kita mengharapkan sesuatu/menunggu sesuatu/melakukan sesuatu.

Sayangi diri sendiri, jangan buat diri sendiri menderita hanya karena ingin membuat senang orang lain. Membuat orang lain senang tidak harus membuat diri sendiri menderita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.