Excellent Insight Day #28: Minder Secara Intelektual

Insight ini terkait dengan perasaan rendah diri (inferiority complex, bukan rendah hati ya. Rendah hati = santun, rendah diri = minder). Saya sarikan dari pengalaman pribadi. Semoga bermanfaat dan selamat membaca.

Pernah mengalami rasa minder? Buat saya, rasa minder sering menerpa, terutama jika saya berada di tempat yang rasanya asing dan saya mesti menyesuaikan diri secara cepat. Ada orang-orang yang sejak lahir mudah menyesuaikan diri dan mungkin heran dengan apa yang saya alami. Sayangnya, tidak semua orang seperti itu dan saya salah satu diantara mereka yang sering minder tanpa alasan…

Minder secara intelektual adalah rasa minder yang timbul jika berhadapan dengan seseorang atau kelompok yang jauh lebih tahu tentang segala hal daripada saya. Beberapa tahun yang lalu (lama amat ya :-D), rasa minder ini sering menerpa jika saya mengikuti seminar atau pelatihan. Saya minder secara intelektual jika berhadapan dengan seseorang yang fasih berbicara tentang teknologi Linux. Minder jika berhadapan pada geek .NET, pada ahli PHP, pada programmer Java, pada semua yang memiliki pengetahuan diatas saya. Saya minder pada orang yang bisa cas-cis-cus bahasa Inggris. Minder pada orang yang memiliki pengalaman luas, sudah pernah ke berbagai tempat didalam dan luar negeri. Saya minder pada orang-orang yang punya kesempatan memiliki pendidikan lebih tinggi, berasal dari keluarga yang berkecukupan atau memiliki latar belakang yang keren.

Awalnya kesemua hal ini membuat saya mengkeret dan menyembunyikan diri dalam kepompong seraya menghibur diri. Sejalan dengan waktu, dengan akses dan pergaulan serta kesenangan membaca yang tidak pernah pudar, rasa minder tersebut terkikis secara perlahan. Jika sebelumnya saya hanya ‘bengong’ mendengarkan ceramah seseorang mengenai IT, sekarang paling tidak saya bisa mengikutinya. Jika disadari, sebenarnya apa sih yang membuat orang lain istimewa dalam kecepatan pemahaman suatu teknologi baru? Memang sih ada orang jenius yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap hal baru, namun secara umum semestinya kita juga mampu menghadapi dan mengikutinya.

Apa yang membatasi seseorang untuk bisa menguasai ilmu dan teknologi? Biasanya, batasannya adalah diri sendiri. Diri sendiri yang membuat penghalang, diri sendiri yang menutup akses dan diri sendiri yang mempersulit keadaan. Jika kita mau berusaha, saya yakin tak ada yang sulit untuk dicoba.

Mungkin banyak dari kita yang kaget saat mendengar ada yang menang kompetisi tertentu. Ada yang menang kompetisi coding, networking, matematika, bicara didepan umum dan lain-lain. Ada yang mendapat rangking bagus dalam kelas atau kegiatan yang kita ikuti. Mereka semua menang dan mendapat prestasi sementara kita sendiri belum pernah mendapatkannya. Lantas, giliran kita kapan dong?

Bagi yang senang membaca buku tentu pernah mendengar kisah tentang Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu, tiga pemersatu Jepang (Three Japan Unifiers). Kemudian membaca buku Musashi, menarik membaca bagaimana Musashi merasa masa untuk terkenal sudah lewat karena sudah diisi oleh sosok Nobunaga, Hideyoshi dan Ieyasu. Ternyata, Musashi sama terkenalnya seperti ketiga jenderal pemersatu Jepang tersebut, meski dalam lingkup yang berbeda, yakni sebagai ahli seni pedang. Ternyata, setiap masa memiliki tokohnya sendiri.

Apakah kita merasa terlambat lahir sehingga kita tidak bisa menjadi Linus Torvalds atau menjadi Bill Gates ? Mengapa kita tidak tahu teknologi tertentu sebelum orang lain menguasainya? Mengapa kita tidak paham sesuatu sebelum orang lain memahaminya? mengapa orang lain bisa dan kita tidak?

Apakah kita tidak mampu menjadi diri kita sendiri, yang memiliki kemampuan dan kejeniusan yang khas? Saya masih ingat cerita kartun Doraemon, Nobita selalu kesal pada diri sendiri karena dia selalu kalah pandai dari temannya, Dekisugi (yang dia cemburu-i karena sering diajak belajar oleh Shizuka), kalah kaya dari Suneo dan kalah kuat dari Giant. Padahal dari sekian tokoh tersebut, Nobita adalah sosok yang lebih manusiawi, sosok yang sebenarnya khas. Nobita mungkin tidak sepandai Dekisugi namun Nobita supel. Nobita tidak sekuat Giant tapi dia juga tidak senakal Giant. Nobita tidak sekaya Suneo tapi dia juga tidak selicik Suneo…

Kembali ke masalah awal, apakah sekarang saya tidak merasa minder secara intelektual? Sebenarnya masih, namun tidak lagi terlalu mengganggu seperti dulu. Alih-alih menghindarinya (menghindar dari ketidakmampuan), saya justru meresponnya dengan cara menghadapi langsung. Jika diminta melakukan sesuatu yang belum bisa, saya akan berusaha belajar untuk bisa. Tidak tahu batasi cukup sekali saja. Coba baca kembali Insight hari ke-9…

Contoh mudahnya, dulu membawa sepeda motor pakai kopling saja saya ‘ajrut-ajrutan’ namun jika dihadapi langsung, ternyata mudah saja (Malu mengakuinya sebenarnya, tapi itu toh masa lalu :-D). Jika diminta membuat aplikasi dengan C++, saya masih ingat pengalaman Mas Romi Satria Wahono yang menyanggupi pembuatan aplikasi meski belum tahu sama sekali secara coding namun tetap berhasil membuatnya. Jika diminta melakukan sesuatu yang belum kita kuasai, percayalah, itu adalah kesempatan terbaik bagi kita untuk belajar.

Jika berkaca pada pengalaman orang yang sukses, kadangkala kesuksesan bisa diraih bukan hanya soal kesempatan, namun juga kecerdasan dan keberanian. Seringkali, kesempatan muncul jika kita berani mengambilnya.

Pengalaman Tantowi Yahya bisa menjadi masukan. Ketika hampir ditolak panitia sebuah festival musik country di Amerika Serikat, ia nekat mendesak panitia. “Nama saya harus masuk karena akan berguna buat Anda kelak,” katanya ke panitia penyelenggara setempat. “Kalau ditanya siapa penyanyi country Indonesia,” lanjutnya, “pasti nama saya yang bakal disebut!” ujar Tantowi percaya diri. Banyak kesuksesan yang dijemput melalui keberanian berbumbu kenekatan seperti pengalaman Tantowi Yahya. Dalam skala kecil, saya pernah sukses mendapatkan suatu proyek karena secara nekat berani menjawab tantangan yang diminta.

Saya sering bilang ke teman-teman mahasiswa, yang sulit dari mencari kerja adalah jika diterima bekerja. Banyak rekan saya-mahasiswa ataupun bukan-yang takut untuk melamar suatu posisi pekerjaan. Alasannya beragam, yang utama, mereka takut nggak bisa. Saya sering bilang, “Kalau melamar kerja sih nggak usah takut. Yang perlu ditakutkan justru kalau diterima. Kalau baru melamar kan masih tentatif, belum tentu diterima. kalau sudah diterima baru deh kalut buat mempersiapkan diri…”. Ucapan saya ini untuk mendorong keberanian untuk mencoba. Bukan hanya sekedar saran, paling tidak, jejak itu sudah pernah saya alami :-).

Mary Kay Ash, pendiri Mary Kay cosmetics belum bisa menyetir mobil saat mulai berbisnis. Oleh mentornya, Mary Kay Ash diminta menyetir saat pulang, ditengah kesibukan jam pulang kantor. Bisa bayangkan ya…

Jadi, kalau ada kesempatan, rebut saja. Soal hasil urusan nanti. Jadikan keberanian dan sikap nekat sebagai upaya kita meningkatkan kemampuan…

Minder secara intelektual ? Nggak lha ya…

Referensi Artikel :

  1. Get Rid of an Inferiority Complex (with Pictures)

Action :

Ini merupakan insight ke-28. Karena bukan merupakan proyek kejar setoran, santai saja. Tidak perlu tergesa-gesa membaca dan menyelesaikannya. Referensi artikel yang ada bukan keharusan untuk dibaca. Saya memang memilihkannya untuk dijadikan referensi karena saya mendapat manfaat saat membacanya.

Action juga bukan merupakan tugas yang wajib dilaksanakan. Kalem saja. Tidak perlu merasa harus melakukan ini dan itu yang malah membuat insight ini jadi pekerjaan tambahan.

Jika memiliki rasa minder/inferior, apapun penyebabnya, cobalah untuk berusaha deal dengan kekhawatiran yang melanda diri sendiri. Jangan memendamnya terus menerus. Kita tidak sendiri di dunia ini karena banyak orang yang minder atau merasa inferior. Bedanya, ada orang yang berhasil mengatasinya dan ada juga yang harus mengalaminya sepanjang hidup. Coba baca ulang tips dalam referensi artikel, ada beberapa yang mudah kita lakukan untuk kebaikan kita sendiri. Sempatkan juga membaca insight hari ke-9 sebagai salah satu tipsnya.

CATATAN :

Tulisan diatas merupakan bagian dari seri tulisan “Excellent Insight”. Saat ini kumpulan bukunya sudah diterbitkan dalam bentuk buku cetak maupun ebook.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.