Excellent Insight Day #21 : Pertimbangan Berwirausaha

Insight kali ini masih terkait dengan wirausaha. Jika kemarin soal mindset pekerjaan keren dan soal tips wirausaha dengan modal seada-adanya, insight kali ini membahas mengenai pola pikir kita terkait pendapatan yang terbatas dan pengeluaran yang terus meningkat, berikut upaya mengatasinya.

Selamat membaca.

Saat saya berwirausaha, alasan saya sebenarnya sangat sederhana, yaitu saya sudah bingung mau berhemat seperti apa lagi?  

Saat masih bekerja baik di Cikarang maupun di Tanjung Priok, saya sering membaca artikel-artikel dan buku perencanaan keuangan Safir Senduk. Salah satu ide yang disampaikan adalah agar menabung diawal menerima gaji/pendapatan, bukan dari sisa gajian.  

Misalnya jika selama ini gaji dipecah-pecah sesuai porsi kebutuhan dan baru sisanya (kalau ada sisa, Zzzzzz… ) ditabungkan, maka seharusnya situasinya dibalik. Kita sudah harus memiliki plot/pos tabungan sebesar katakanlah 15-20% dari gaji bulanan. Setelah dikurangi pos untuk tabungan, barulah sisanya dipecah-pecah untuk kebutuhan bulanan.  

Saya mengikuti saran yang bagus tersebut. Hasilnya saya “Modyar” mengatur keuangan (maafkan kalimatnya pakai kata yang kasar), hehehe…

Saran dari Safir Senduk ini bagus, namun jadi membuat saya kalut karena mau disisihkan diawal maupun diakhir, teteup saja gaji ya segitu-gitunya.  

Bisa menjamin tabungan namun saya harus berdiet ketat agar gaji bisa mencukupi, padahal saya belum lama menikah dan saat itu baru punya anak 1. Kumaha kitu solusina?  

Solusinya ada di saran keuangan berikutnya, yaitu : “Jika Sudah Berhemat Semaksimal Mungkin Namun Masih Selalu Bingung Mengatur Keuangan, Maka Yang Dilakukan Bukan Berhemat Lebih Jauh Lagi Melainkan : TINGKATKAN PENDAPATAN

Mau dihemat apalagi kalau memang sudah demikian kebutuhan dasar alias kebutuhan hidup minimumnya? Mau hemat apalagi jika kebutuhan essensial kita memang sudah sebatas itu? Kalau kita memaksakan diri untuk semakin berhemat bisa jadi kualitas hidup minimal kita malah jadi tergerus.  

Bagaimana caranya meningkatkan pendapatan? Berarti saya mesti mencari sumber-sumber pendapatan ditengah kekurangan dan keterbatasan saya. Saya tidak punya modal, saya tidak punya tabungan besar. Jadi pilihan saya terbatas sekali. Tapi badan saya Alhamdulillah sehat. Otak saya cerdas (yaelah, malah belagu, hehehe…) dan saya nggak jelek-jelek amat (lha apa hubungannya ya, emangnya mau jual diri, hehehe… ).  

Bagaimana caranya meningkatkan pendapatan? Berarti saya mesti mencari sumber-sumber pendapatan ditengah kekurangan dan keterbatasan saya. Saya tidak punya modal, saya tidak punya tabungan besar. Jadi pilihan saya terbatas sekali. Tapi badan saya Alhamdulillah sehat. Otak saya cerdas (yaelah, malah belagu, hehehe…) dan saya nggak jelek-jelek amat (lha apa hubungannya ya, emangnya mau jual diri, hehehe… ).  

Daripada saya tambah pusing memikirkan kebutuhan hidup dan kekurangan anggaran, lebih baik saya maju satu langkah, yaitu melakukan analisa kira-kira apa yang bisa saya lakukan untuk menambah pendapatan.

Kedengerannya sih keren : melakukan analisa, padahal yang saya lakukan adalah ngalamun sambil mencoret-coret kertas, kadang ngomong sendiri sampai isteri saya mungkin heran jangan-jangan suaminya mulai stress mikirin anggaran rumah tangga, hehehe…  

Awalnya saya pikir pilihan saya paling hanya 1-2 saja, apa pula yang bisa menghasilkan pendapatan tambahan kalau saya tidak punya modal usaha? Ternyata tidak juga.   Berikut ini beberapa pilihan yang pernah terlintas dibenak saya saat melakukan analisa sederhana diatas :

  1. Menyediakan layanan private/kursus/training
  2. Menulis artikel untuk majalah atau koran, termasuk cerita anak di majalah Bobo atau di sisipan koran Kompas
  3. Membuat program komputer. Gini-gini saya mantan programmer yang bisalah membuat program kecil-kecil
  4. Menjual cabe, bawang dan bumbu dapur di pasar
  5. Freelancer di sekolah-sekolah (misalnya mengajar materi eskul)
  6. Membuat buku terkait kapabilitas saya
  7. Berjualan masakan atau kue di bazaar atau dipinggir jalan

Betul kan, ternyata peluangnya ada beberapa. Bisa dicoba salah satu dari beberapa pilihan yang ada dan lihat apakah kira-kira berjalan sesuai harapan atau tidak.

Sebagai salah satu bagian dari upaya diatas, saya membiasakan diri untuk menulis blog secara rutin. Otomatis saya jadi belajar banyak. Karena belajar, saya bisa membuat tutorial materi baru yang saya kirimkan ke majalah, salah satunya adalah majalah Infolinux. Honornya bisa dipakai untuk menambah buffer anggaran rumah tangga.

Saya juga membuatkan blog untuk orang lain, termasuk jasa jual-beli domain, hosting dan website. Saya menjadi reseller hosting. Saya juga sempat membuat program aplikasi yang dipakai di sekolah-sekolah dan beberapa perusahaan.

Dari sekian banyak kegiatan, akhirnya mengerucut pada kegiatan training dan setup server yang kemudian bermuara pada terbentuknya PT. Excellent Infotama Kreasindo. Tanpa sadar, saya yang awalnya termasuk anti untuk wirausaha (saya satu-satunya di keluarga yang anti usaha dan awalnya kerja dari satu pabrik/perusahaan ke perusahaan lain) ternyata malah kerasan berwirausaha. Jika dihitung dari tahun 2011 saja, saat ini saya menginjak masa 9 tahun berwirausaha. Meski proses wirausaha saya masih kanak-kanak jika dipandang dari sisi lama waktunya, minimal saya menikmati kegiatan wirausaha yang saya jalani.

Jika ditanya apakah sejak awal saya berniat wirausaha? Tidak juga. Saya hanya menjalani apa yang menurut saya baik untuk dijalani, berusaha memperbaiki langkah-langkah yang salah dan kurang baik dan kemudian menangkap peluang yang muncul yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Jika sudah berusaha sebaik-baiknya, tidak usah khawatir pada hasil akhir yang akan kita terima.

Referensi Artikel :

  1. 8 Great Entrepreneurial Success Stories
  2. 40 Indonesian startup founders you should know

Action :

Jika anda berniat pensiun di usia 60 tahun (atau malah 55 tahun?), coba kurangi usia itu dengan usia saat ini dan renungkan, apakah kita masih punya cukup waktu untuk terus bekerja, menabung dan menjamin masa depan kita? Jika kita masih khawatir dengan masa depan kita, sempatkan untuk melihat peluang atau inspirasi tambahan pendapatan yang mungkin bisa kita dapatkan. Jangan merasa nyaman dan aman padahal kita tahu rasa aman itu palsu.

Jangan menunggu sampai usia pensiun dan menyadari segalanya sudah sangat terlambat.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.