Excellent Insight Day #19 : Membangun Wirausaha dengan Modal Seada-adanya

 

Jika mungkin satu saat berniat wirausaha, baik dengan pertimbangan meningkatkan pendapatan, sebagai petualangan baru maupun untuk coba-coba, salah satu hambatan yang umum dikeluhkan adalah soal modal usaha. Berikut adalah insight yang dirangkum dari pengalaman pribadi saat saya membangun usaha pertama kali. Selamat membaca.

Ini kisah nyata yang mungkin bisa bermanfaat bagi rekan-rekan yang hendak berwirausaha namun terkendala modal, pengalaman dan mungkin, segala-galanya :-D.

Wirausaha itu bisa dijalani dengan modal seada-adanya. Apa yang dipunya, itu yang dijadikan modal. Jika uang tidak ada, kepandaian bisa menjadi modal. Jika kepandaian pas-pasan, harta benda bisa menjadi modal. Pengalaman bisa dicari, kebiasaan bisa dijalani, kemampuan bisa dipelajari. Yang penting niat dan keberanian, termasuk keberanian untuk malu dan malu-malu-in, hehehe…

Saat saya mulai berwirausaha, saya tak punya harta benda. Ada sih tapi itu punya keluarga, bisa-bisa saya disepak keluar gara-gara ngabisin banda kalau sampai berani menggadaikan harta keluarga. Satu-satunya kemampuan yang saya miliki adalah mengajar private. Mengajar private itu termasuk murah dan mudah karena tidak butuh modal apa-apa, bahkan ruanganpun bisa pakai punya klien.

Yang susah itu mencari korban pertama untuk menjadi klien kita, hehehe… Kalau ada yang sulit mendapatkan klien, bisa kok kita menjadi pengajar ditempat kursus/private lain. Misalnya di tempat saya di Excellent. Uang yang masuk dari private bisa saya belikan komputer sebagai modal utama. Dari komputer kemudian berkembang ke lain-lainnya.

Ceritanya saya tulis di 2 artikel dibawah ini :

  1. Perjalanan Wirausaha : Dari Operator Produksi Hingga Bisnis Implementasi Sistem Server & Training
  2. Tuhan Maha Tahu Tapi Ia Menunggu

Saat saya hendak membuat badan hukum PT, saya tidak punya pengalaman dan pengetahuan apa-apa tentang PT. Saya browsing ke internet mencari tahu soal syarat-syarat pendirian PT. Saya tanya ke rekan-rekan yang lebih tahu soal seluk beluk badan hukum. Beda CV dan PT dan juga mengenai pajak.

Jika dianalogikan ke peribahasa, mungkin bisa dibilang saya membuat PT dengan modal dengkul. Saat membuat proposal pertama kali saya membuatnya demikian adanya. Saya ketawa kalau melihat proposal pertama saya. Pada bagian daftar klien, saya mencantumkan nama perusahaan-perusahaan tempat saya bekerja, supaya daftarnya tidak terlalu pendek. Coba, apa jadinya kalau di daftar klien hanya tertulis 1 klien saya. Mungkin calon klien akan berpikir, “Wah, ini sih belum teruji, bisa-bisa saya menjadi perusahaan ujicoba berikutnya”

Diawal saya mengerjakan segala-galanya. Saya belajar mendesain invoice, PO, kartu nama dan bahkan pola penulisan alamat di proposal. Saya juga ganti-ganti jabatan, karena toh secara prinsip saya jadi manajer, saya direktur dan saya juga office boy. Ada yang sempat komentar, “Mas, apa nggak keberatan jabatannya managing director?”, saya jawab ya saya terima komentarnya dengan baik. Pada kenyataannya posisi saya memang berganti-ganti Kan nggak apik juga kalau saya tulis jabatan saya “Office Boy” atau “Ordinary People”

Saya juga belajar soal potongan pajak PPN dan PPH. Saya terbata-bata waktu diterangkan bahwa payment yang ditransfer akan dipotong PPH sekian persen kalau saya punya NPWP dan dipotong PPH lebih rendah kalau punya NPWP. Rasanya kalau ada yang ngomong soal pajak, respon saya cuma satu dan sejenis : “inggih pak. Iya pak. Baik pak”. Respon yang khas karena saya nggak tahu apa-apa soal pajak. Kalaupun saya jawab, biasanya jawaban saya standar, “Pokoknya begini pak. Bagaimanapun pola perhitungannya, saya minta full amount. Saya minta ditransfer sekian”.

Ternyata ada istilah lagi, namanya gross up. Kalau mau uang yang ditransfer nilainya full amount-utuh tanpa ada potongan, di proposal dan invoice nilainya harus disesuaikan terlebih dahulu. Jadi belakangan saya lebih prefer langsung saya include biayanya sudah termasuk PPN dan PPH.

Ada banyak pengalaman konyol, mulai dari nyasar ke kantor klien, persiapan terburu-buru, kelabakan saat harus presentasi dan lain-lain. Saya pernah presentasi di depan bule. Dia ngomong bahasa Inggris, saya menjawab bahasa Indonesia. Anehnya, dia mengerti apa yang saya sampaikan, saya juga mengerti apa yang dia katakan. Ini karena saya bisa mendengar dan memahami pembicaraan namun gagap kalau disuruh conversation, hehehe…

Saat mengalami kesemua hal diatas, rasanya memalukan sekali. Tapi mau bagaimana, itu kenyataan. Hal terbaik yang bisa saya lakukan adalah belajar agar saya lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Saya percaya pada ucapan, “Apa yang tidak mematikan kita, akan mendewasakan kita”.

Referensi Artikel :

  1. Start small to go big: here are 35 profitable businesses you can start
  2. 8 Musts to Start Your Business With Little to No Capital

Action

Pernah punya keinginan untuk wirausaha namun merasa ragu untuk memulainya? Takut mengganggu pekerjaan? Takut mengganggu keuangan keluarga? Jika demikian, sebenarnya kita bisa memilih beberapa bidang usaha yang bisa dikerjakan sebagai pekerjaan sambilan disesuaikan dengan hobi, dengan modal sedikit saja atau bahkan tanpa modal. Menjadi reseller atau dropshipper atau partner misalnya, bisa menjadi contoh pilihan untuk memulai usaha.

Catatan :

Tulisan diatas merupakan bagian dari seri tulisan “Excellent Insight”. Saat ini kumpulan bukunya sudah diterbitkan dalam bentuk buku cetak maupun ebook.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.