Excellent Insight Day #15 : Jangan Pernah Menyerah pada Keadaan & Kekurangan Hidup

Insight kali ini masih soal mindset untuk jangan mudah menyerah dan berani memperjuangkan impian kita. Selamat membaca

Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel Sidney Sheldon, judulnya “Garis Darah” atau “Bloodline”. Ternyata novel ini sudah pernah saya baca beberapa tahun yang lalu. Ini memang sekedar novel suspense tapi ada beberapa hal menarik seputar cerita tokoh didalamnya.

Salah satu tokoh utama misalnya, diceritakan ia berasal kampung. Ndeso. Awalnya cita-citanya tidak muluk. Ia hanya ingin bisa naik posisi, punya uang dan bisa menarik hati salah satu wanita yang diam-diam dia sukai. Ternyata dia malah ditertawakan. Dia kecewa namun berusaha mengatasinya. Ia belajar memperbaiki kualitas diri. Ambil kuliah malam untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus meningkatkan posisi pekerjaan. Ia juga berhemat agar bisa membeli pakaian yang bagus. Berhemat agar bisa makan di resto bagus supaya nggak kuper. Menyempatkan diri main ke museum atau pameran seni supaya punya bahan pembicaraaan dan pengetahuan jika diajak bicara oleh seseorang dengan level yang lebih tinggi.

Saat akhirnya si gadis yang dia sukai mau menerimanya, dia sudah memiliki keinginan yang lebih tinggi lagi…

Hal seperti ini buat saya sangat menarik. Berapa banyak dari kita yang bekerja tidak sesuai dengan hati dan keinginan, namun juga tidak berusaha untuk memperbaikinya. Berapa banyak dari kita yang mengeluhkan pekerjaan yang kita jalani, sementara tindakan yang kita lakukan hanya mengeluhkannya tanpa berusaha keluar dari lingkaran setan yang membelenggu kita.

Bukankah contoh yang saya sebutkan diatas cukup realistis dan masuk akal untuk dijalani? Pekerjaaan kita bolehlah pekerjaan kasar, namun jika kita tidak ingin seumur hidup kita bekerja kasar, kita mesti mau berusaha meningkatkan kualitas pengetahuan kita. Cobalah ambil kuliah, kursus atau kegiatan kelas malam. Meski gaji minim, cobalah berusaha berhemat untuk bisa membeli baju dengan kualitas baik, agar kita bisa melamar pekerjaan baru dengan tampilan kita yang lebih baik.

Belajar berpakaian dengan rapi. Bedakan pakaian untuk slonong boy dengan baju formal. Jangan melulu menganggap kaus merupakan pakaian segala tempat, situasi dan cuaca. Biasakan berkemeja dengan rapi, meski pekerjaan yang kita jalani mungkin bukan pekerjaan yang mengharuskan kita untuk selalu rapi. Tentu kita perhatikan tepat gunanya, intinya adalah jangan karena pekerjaan lantas kita bersikap masa bodo pada kerapian dan kepantasan dalam berpakaian.

Meski kelihatan sepele, kebiasaan berpakaian rapi akan melekat dan menjadi attitude kita. Jangan menunggu pekerjaan kita berubah menjadi lebih baik baru kita berusaha memperbaiki cara kita berpakaian.

Tidak usah menyesali keadaaan. Tidak usah menyesali kondisi dan kekurangan hidup. Cukuplah kepahitan hidup menjadi pembelajaran dan pengalaman kita agar tidak perlu terulang pada anak dan cucu kita. Tidak apa-apa kita sengsara dan hidup serba kekurangan selama kita berusaha meningkatkan kualitas kehidupan kita.

Jangan terlena. Jangan membiarkan diri kita dibuai rasa nyaman yang semu, tahu-tahu kita menyesali masa-masa yang telah lewat. Cari cara meningkatkan kualitas diri kita, baik yang membutuhkan biaya maupun yang tidak memerlukan biaya. Jika kita tidak memiliki dana untuk membeli buku-buku bagus, tidak ada salahnya kita main ke perpustakaan atau toko buku bekas agar kita bisa upgrade pengetahuan kita. Bahkan dengan teknologi yang ada sekarang, kita bisa dengan mudah membaca ebook yang sebagian gratis dan sebagian lagi bisa kita beli dengan budget yang lebih murah.

Tidak apa-apa kita terpaksa kurang tidur karena harus kuliah atau kursus dimalam hari. Tidak apa-apa kita terpaksa makan seadanya atau makan secara sederhana selama kita berusaha menghemat pengeluaran agar bisa membeli suatu keperluan. Jangan malu. Jangan juga merasa rendah diri. Mengapa harus malu dan rendah diri jika kita berusaha meningkatkan taraf hidup dan kualitas kehidupan kita?

Jangan menunggu kesempatan datang. Buka peluang agar kesempatan perbaikan datang. Jika peluang itu datang, kita sudah siap meraihnya.

Ingat baik-baik, orang yang berhasil karena semua lingkungan dan keadaaan yang mendukung bukanlah hal yang istimewa. Jika kita berhasil mengatasi masalah ditengah kekurangan hidup dan keadaan yang kurang mendukung, baru itu luar biasa. Jangan biarkan diri kita sengsara, karena sengsara saat kita dewasa bukanlah takdir. Lahir miskin itu takdir namun meninggal miskin merupakan kebodohan…

Hidup kita milik kita, susah senang kita juga yang menjalaninya

Referensi Artikel :

  1. Persisten
  2. Are You Poor Or living in Poverty? This Story Will Make You Smile & Motivate

Action :

Jika punya cita-cita atau keinginan, tuliskan saja cita-cita atau keinginan itu, meski kelihatannya mustahil sekalipun. Saya pernah menulis ingin punya tanah sekian ratus meter meski untuk makan sehari-hari saja susah. Saya pernah menulis ingin punya rumah sederhana tipe 36 meski tabunganpun tidak punya. Saya pernah bercita-cita bisa berkurban, bisa punya tabungan sekian rupiah meski saat saya menuliskannya, itu hil yang mustahal.

Ternyata, apa yang saya tuliskan itu, perlahan-lahan bisa terwujudkan. Cobalah tuliskan apa yang diinginkan dan review beberapa waktu mendatang.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.