Bisnis Masa Pandemi : Bisnis IT Aman-Aman Saja?

Ada beberapa kawan bertanya kabar pada saya, “Bagaimana situasi wirausaha saat situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini?”

Saya jawab, “Alhamdulillah, selama ini berjalan dengan baik”. Kami memang sempat bekerja dari rumah saat periode Februari sampai dengan kisaran akhir Juni 2020, namun secara bertahap sebagian mulai masuk bekerja awal Juli 2020.

“Enak ya kalau bisnis IT, nggak kena pengaruh pandemi Corona. Beda dengan bisnis pabrikan, manufaktur, mall, makanan, sekolah, salon, fitness, pasar dan lain-lain…”

Nggak juga. Pandemi Corona ini pengaruhnya besar sekali pada bisnis dan hampir tidak ada lini bisnis yang tidak terpengaruh. Benar, beberapa bisnis IT malah maju pesat, misalnya Zoom online meeting, yang mengalami pertumbuhan dahsyat. Contoh lainnya seperti bisnis webinar Jagaters pak JTO Joko Intarto, yang banyak menerima peluang bisnis dimasa pandemi. Juga bisnis layanan data. Layanan internet dan lain-lain.

Meski demikian, secara keseluruhan semua bisnis terkena imbas, tidak terkecuali IT. Di Excellent, ada beberapa klien yang mengajukan permohonan penundaan pembayaran. Ada juga yang memilih untuk berhenti berlangganan atau memilih mengelola sendiri layanan yang awalnya dikelola oleh Excellent.

Belum lagi fluktuasi dollar ke rupiah. Bisnis training offline/tatap muka yang harus dihentikan.

Lantas, jika demikian, bagaimana bisa survive disaat kena imbas pandemi seperti sekarang?

Pandemi ini belum ada ujungnya. Jadi kalau dikatakan survive juga masih jauh akhirnya. Hanya saja, hidup harus tetap berjalan. Bisnis harus tetap bertahan.

Saat akhir Desember 2019 dan awal Januari 2020, saat mendengar soal kabar pandemi Corona di China, kami sempat membuat simulasi implikasinya ke Excellent. Pada periode Januari dan Februari 2020 saat Corona semakin mendekat, kami membuat simulasi yang lebih real terkait dampak terhadap pendapatan Excellent, kemungkinan pengeluaran, implikasi kesehatan, implikasi layanan hingga terhadap mekanisme kerja.

Jauh sebelum itu, sejak 2013-2014 sebagai perusahaan kecil kami menyadari kerentanan usaha kami. Itu sebabnya langkah dan target utama yang diprioritaskan saat itu adalah meningkatkan cadangan kas Excellent, agar bisa tetap bertahan saat situasi sulit. Saat itu, kami tidak tahu contoh bentuk tantangannya berupa pandemi penyakit. Kami membayangkan situasi krisis seperti 1998 dan 2008.

Apapun bentuknya, karena sadar ancaman itu nyata, kami menabung setiap kelebihan rupiah yang didapatkan. Setelah digunakan untuk operasional kegiatan dan gaji team, sebagian besar dimasukkan kedalam cadangan kas untuk dana emergency.

Karena saya berlatar belakang keluarga petani dan pedagang, saya mengilustrasikannya seperti menyimpan padi di lumbung untuk menghadapi situasi paceklik. Isi lumbung boleh ditambah tidak boleh dikurangi. Boleh diambil tapi harus ada pengganti.

Kami juga menyisihkan persentase untuk menambah dana emergency dari setiap proyek pekerjaan yang dilakukan. Saya masih ingat saat membuat RAB (Rencana Anggaran Biaya), ada porsi persentase untuk pendidikan team dan porsi untuk dana cadangan darurat. Meski nilainya hanya beberapa persen, nilai itu bisa menambah kas secara perlahan.

Dana emergency itu yang bisa membantu menyeimbangkan keadaan saat situasi ekonomi tidak terlalu baik. Disisi lain kami juga sadar, jika padi di lumbung terus menerus diambil, satu waktu akan habis juga. Jadi saat awal 2020, kami ngobrol-ngobrol mengenai skenario yang mungkin timbul dan antisipasinya.

Di Excellent kami diajarkan prinsip “Weruh sak durunge winarah”. Arti harfiahnya kira-kira “Tahu sebelum sesuatu terjadi”. Maksud sebenarnya adalah perkiraan situasi, kira-kira apa yang bisa dilakukan jika hal A atau B atau C terjadi.

Saat itu diputuskan beberapa hal, antara lain :

  1. Mempertahankan klien dan layanan yang ada
  2. Membuka peluang layanan baru
  3. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pendidikan team
  4. Mematuhi anjuran pemerintah terkait upaya mengatasi pandemi (protokol kesehatan, PSBB, WFH dan sejenisnya).

Jadi langkah pertama adalah mengamankan dan mempertahankan klien yang ada. Responnya harus diperbaiki dan ditingkatkan. Kualitasnya diperbaiki. Kalau klien ngomel ditelan saja :-), apalagi kalau klien benar dan kami yang salah. Harus sacrifice. Harus rela berkorban. Jika situasi memaksa untuk bekerja diluar waktu, itu diterima sebagai bagian dari pengorbanan mempertahankan sumber pendapatan.

Saat PSBB, denyut kegiatan ekonomi menurun. Semua team bekerja dari rumah. WFH. Saat seperti ini banyak waktu luang. Waktu luang itu digunakan untuk ngoprek. Untuk membuka peluang sales. Menghubungi klien-klien prospektif. Kami gunakan juga untuk belajar ilmu baru. Pengetahuan baru. Menulis artikel dan buku. Membuat aplikasi baru, terutama aplikasi berbasis Software as a Services (SaaS).

Sebagian besar kegiatan itu tidak perlu pertemuan fisik. Bisa dikoordinasikan secara online. Kami berusaha mengubah keterbatasan kegiatan online menjadi berkah. Jika dulu meeting harus ketemuan, sekarang klien sudah cukup terbiasa meeting online. Bisa menghemat biaya transportasi dan waktu.

Saat sebagian bisnis sedang idle, Excellent berlangganan beberapa paket training online, kemudian meminta team untuk mengambil paket tersebut. Kesempatan waktu luang kami manfaatkan untuk belajar hal-hal baru dan menarik yang selama ini tidak sempat dilakukan.

Kalau bicara mengeluh, tentu ada banyak alasan untuk mengeluh. Dan sudah cukup banyak yang mengeluh. Jadi lebih baik kami berusaha menyiasatinya. Dalam diam dan dalam senyap. Kadang saya saja yang gatal tangan menuliskannya di blog dan di FB.

Pandemi dan dampaknya terhadap bisnis itu hal nyata. Daripada menunggu segalanya berubah menjadi lebih baik, kami memilih untuk berusaha menyiasatinya dan mencari peluang untuk menjadikannya sebagai nilai tambah kekuatan.

Tentu prosesnya tidak mudah. Butuh pengorbanan. Klien yang pergi mungkin tetap ada, tapi yang datang juga ada. Jika dulu mungkin kami diam saja ada klien yang datang, saat ini jika perlu kami jemput bola.

Jika dulu kami cukup puas dengan hal standar, kedepannya kami berusaha agar klien tidak menyesal menggunakan layanan kami.

Situasi sulit juga bisa jadi blessing in disguise. Bisa mempererat kebersamaan dan kekeluargaan team. Bisa menjadi momen agar team bisa beristirahat lebih banyak dan lebih teratur yang pada gilirannya meningkatkan kualitas kesehatan mereka.

Saat pandemi, sebagian besar waktu pembayaran gaji dimajukan. Gaji utuh tidak dikurangi. Jika perlu ditambah agar bisa menjadi pemasukan tambahan untuk keluarga di rumah. THR dimajukan. Bahkan ada tunjangan baru berupa tunjangan investasi. Berarti pengeluaran tambahan? Iya, bukan hanya team yang diminta untuk berkorban. Excellent juga bisa berkorban agar teamnya selalu sehat dan bersemangat, karena banyak diantara mereka menjadi tumpuan pendapatan keluarga. Menjaga mereka pada hakikatnya menjaga Excellent juga. Menjaga kita semua.

Bisnis IT, sama halnya seperti bisnis lain, juga terdampak pandemi. Itu adalah kenyataan dan harus dihadapi. Tinggal bagaimana baiknya kita menyesuaikan, menyiasati dan mengatasi dampak negatifnya.

Saya selalu ingat salah satu bait syair Balada si Roy, yang menjadi favorit saya

Ya, akulah si pengembara
Terus bergerak ke cakrawala
Walau beribu kali tersungkur kenyataan
Jiwaku menolak kebuntuan jalan


Blue Ransel.

You may also like

1 Comment

  1. Semoga sukses terus bisnis bisnis nya mas Vavai. Bila pada masa sulit ini perusahaan kita bisa survive, kemungkinan akan menjadi perusahaan tangguh kelak ketika situasi sudah membaik 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.