Bisnis Daratan Bisnis Langitan : Nest Egg

Pernah ada yang bertanya pada saya, sebenarnya apa yang saya lakukan untuk membiayai hidup? What do you do for a living?

Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, pekerjaan utama saya berkaitan dengan IT. Membangun perusahaan kecil di tahun 2011 dengan nama PT. Excellent Infotama Kreasindo (https://www.excellent.co.id). Fokus utama Excellent adalah layanan IT mengenai mail server dan cloud.

Lantas, kok kadang ada posting soal saham, reksadana, pertanian dan peternakan?

Itu bagian dari ikhtiar sekaligus pembelajaran. Usaha yang dilakukan sebagai varian sekaligus agar ada kegiatan yang tetap bisa mengasah pemikiran dan gerak badan.

Soal saham dan reksadana misalnya. Saya mulai mempelajarinya di kisaran tahun 2013-2014. Saya belajar reksadana setelah membaca bukunya Ligwina Hananto, “Untuk Indonesia yang Kuat, 100 Langkah untuk tidak Miskin”. Coba, gimana nggak seneng, kamu cukup 100 langkah dan tidak miskin lagi, hehehe…

Buku itu memuat inspirasi apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki mental, pemikiran dan mekanisme keuangan kita agar bisa lebih baik. Agar bisa menjadi kelas menengah yang kuat dan pada akhirnya membuat Indonesia jadi kuat.

Mungkin ada beberapa tips yang tidak relevan jika diterapkan dengan kondisi saat ini karena buku itu sendiri diterbitkan pada tahun 2010. Beberapa waktu yang lalu-kisaran tahun 2014-juga ada berita terkait saran-saran yang diberikan (hint : Perencana Keuangan : Panen Mas), namun disisi saya pribadi, saya mendapat beberapa pencerahan setelah membaca buku itu.

Setelah belajar otodidak tentang reksadana, kemudian saya mulai belajar untuk investasi saham hingga terus berlanjut sampai sekarang.

Karena menyenangi kegiatan bertani dan beternak, saya juga mencoba usaha dibidang pertanian dan peternakan. Ada yang gagal dan ada yang berhasil. Lumrah karena ada yang kurang persiapan dan ada juga yang kurang memperhitungkan anggaran biaya dan estimasi pemasukan. Meski demikian, semuanya menjadi pengalaman yang baik dan menjadi pembelajaran untuk langkah selanjutnya.

Adakalanya kita terpaku pada satu hal saja. Itu bukan hal yang salah, karena berarti kita fokus pada satu hal tertentu. Meski demikian, membuka varian kegiatan lain juga tidak ada salahnya sepanjang bisa dikelola dengan baik dan tidak grusa-grusu.

Bagaimana caranya menyeimbangkan satu kegiatan dengan kegiatan yang lain? Seorang kawan di Bandung pernah punya pengalaman buruk mengenai owner perusahaan tempat ia bekerja. Owner perusahaan itu membangun usaha lain dengan modal dari perusahaan awal. Sayangnya, tindakannya itu tidak terkontrol karena perusahaan awal menjadi sapi perah untuk perusahaan yang sedang ia bangun.

Buruknya adalah, perusahaan yang dijadikan sapi perah menjadi berantakan pengelolaannya. Gaji karyawan kerap tertunda karena pendapatan tersedot untuk membiayai perusahaan baru. Akibatnya turn over karyawan menjadi tinggi dan hanya soal waktu hingga akhirnya perusahaan awal tersebut merana dan mati. Owner perusahaan beberapa kali mendapat penghargaan sebagai bisnisman sukses atau wirausahawan sukses, tapi ia mendapat penghargaan diatas puing-puing dan diatas kekecewaan para karyawan.

Di bidang pertanian, kita mendapat pembelajaran yang baik mengenai hal itu dengan melihat skema pencangkokan. Ada pohon buah yang bagus, dengan daun tumbuh subur, rimbun dan berbuah lebat. Karena sangat menarik, pemilik pohon mencangkok batang-batangnya. Jika hanya satu dua cangkokan sebenarnya tidak masalah. Ini analoginya membiayai perusahaan baru yang prospektif dengan sebagian kecil biaya dengan tetap memperhitungkan overhead cost dan keberlangsungan usaha perusahaan induk atau perusahaan awal.

Namun hal sebaliknya terjadi. Karena ingin mendapatkan hasil cepat, pohon buah itu dicangkok hingga puluhan posisi. akibatnya pohon buah itu jadi merana karena terlalu banyak pengeluaran (pendarahan usaha) sedangkan pemasukan sifatnya tetap atau malah berkurang. Akibatnya cangkokan yang diniatkan untuk memperluas kesuksesan malah berakibat matinya pohon induk.

Itu adalah 2 pembelajaran yang selalu saya ingat : pertama, jangan sukses diatas kekecewaan pihak lain, apalagi karyawan sendiri dan kedua, jangan mematikan usaha utama saat mengembangkan usaha pendukung.

Dari sisi pribadi, bagaimana sih proses agar kita bisa menyiasati kesulitan menjadi peluang? Bagaimana sih memulai usaha saat kita sedang bekerja? Bagaimana sih meningkatkan pendapatan sedangkan kita sendiri kesulitan memenuhi kehidupan sehari-hari?

Semuanya butuh proses dan tidak instant. Harus tekun dan tidak mudah menyerah. Berdasarkan pengalaman pribadi, berikut adalah langkah-langkah yang bisa menjadi awalan untuk memulainya :

  1. Melunasi Hutang

Sebelum bicara yang lain-lain, lunasi dulu hutang, apalagi jika hutang itu sudah cukup lama. Memang ada juga yang memulai usaha dengan cara berhutang, namun karena saya tipikal konservatif dan pernah merasakan bahayanya hutang, jauh lebih baik jika kita melunasi hutang terlebih dahulu.

Saya masih ingat, merasa dimudahkan dalam berusaha dan mendapat peluang usaha yang menarik setelah saya melunasi hutang rumah KPR di bank. Ceritanya bisa dibaca di blog saya dengan judul “Melunasi Hutang”.

Bagaimana kita bisa memulai usaha jika sarannya justru harus melunasi hutang, padahal tidak ada modal usaha? Prosesnya bagi saya memang demikian. Mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang kita lakukan, mengurangi dan melunasi hutang dan baru kemudian pelan-pelan menabung dan memulai usaha.

Sebagai contoh misalnya begini. Dulu saya bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji pas-pasan. Meski pas-pasan, saya berusaha untuk menabung. Sebagian untuk masa depan anak saya dan sebagian untuk tabungan saya dan isteri.

Dari gaji sekitar 3.5-4 juta rupiah saat itu, saya usahakan bisa menabung 1-1.5 juta rupiah per bulan. Apakah mudah? Tentu saja sulit, karena saya harus membayar cicilan rumah yang nilanya sekitar 2.5 juta rupiah per bulan.

Bagaimana caranya bisa ada sisa untuk biaya berangkat dan pulang kerja jika total pengeluaran saja sudah menghabiskan seluruh gaji? Jawabannya adalah memanfaatkan waktu luang saat hari libur.

Saya masih ingat, karena saya senang menulis dan pekerjaan saya dibidang IT, saya menulis artikel untuk majalah Infolinux (cc pak Rusmanto Maryanto) dan saya mendapat honor dari tulisan saya. Karena saya senang menulis, saya membuat blog dan melakukan monetisasi dalam bentuk Google Adsense. Saya menulis review (dulu setiap review bisa mendapat minimal 5$). Saya membuat target pencapaian penghasilan sampingan, misalnya di awal-awal saya berusaha mendapatkan 50-100 ribu rupiah.

Kecil sekali? Memang kecil, karena saya tipikal orang yang realistis. Tidak realistis jika saya langsung berasumsi dapat penghasilan besar dari kegiatan sampingan. Seiring waktu, saya bisa berusaha mendapatkan tambahan dan target itu bisa ditingkatkan.

Saya menulis artikel, membuat review, menulis blog, mengajar training dan freelance mengerjakan setup server. Semua dilakukan disela-sela waktu kerja. Harus aktif dan produktif. Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya. Kalau mau hidup senang ya harus usaha. Nggak bisa manja dan nggak bisa pingin yang mudah terus. Absurd.

Dari penghasilan tambahan itu saya bisa punya ruang gerak. Minimal misalnya untuk menabung saya tidak perlu mengambil dari uang gaji. Untuk membayar biaya internet saya tidak perlu pakai uang gaji.

Setelah punya ruang gerak, saya pisahkan pendapatan tambahan menjadi 2 bagian. Sebagian digunakan untuk mengurangi hutang dan sebagian lain digunakan untuk ide usaha.

Misalnya saya tiap bulan mendapat tambahan penghasilan 500 ribu sd 1 juta rupiah, itu saya gunakan untuk menyewa server. Saya bisa membuka layanan managed hosting. Jadi saya bisa membeli 1 buah VPS server yang kemudian saya sewakan ke beberapa orang. Mirip seperti kontrakan namun ini sifatnya online dan terkait IT.

Jadi dari penghasilan tambahan digunakan untuk menghasilkan penghasilan tambahan. Ini yang namanya nest egg. Penghasilan yang bisa menghasilkan.

Bagaimana jika saya bukan orang IT? Apakah bisa punya nest egg? Tetap bisa, karena tinggal disesuaikan saja.

Misalnya saya punya sisa uang 200-300 ribu rupiah dari gaji atau dari penghasilan lainnya. Uang itu saya gunakan untuk membeli ayam pitik atau ayam DOC (Day Old Chicken). Saya besarkan seperti membesarkan anak sendiri (ini mah iklan kecap hehehe). Nantinya ayam itu besar dan bisa menghasilkan daging atau telur.

Bagaimana jika ayamnya mati sebelum besar? Ya usaha menjaga kelangsungan hidup si ayam. Ini yang saya maksud sebagai pembelajaran. Jika gagal usaha ayam, bisa beralih ke usaha lain. Bagaimana jika saya tinggal di kontrakan atau di perumahan? Nggak bisa beternak ayam karena bau dan mengganggu sekitar. Ya beralih. No retreat no surrender. Jangan menyerah. Bisa browsing ke Tokopedia atau Bukalapak. Cari usaha dropshipper. Bisa jadi peluang usaha jualan tanpa modal besar.

  1. Berdoa untuk Perbaikan Kehidupan

Ini mungkin harusnya jadi point pertama. Berdoa untuk perbaikan kehidupan itu mudah, tapi kadang kita lupa melakukannya. Kadang kita merasa lebih tahu dari yang maha kuasa.

“Yah, mau gimana ya. Sepertinya hidup saya sudah sedemikian sulit dan nggak ada jalan keluar”. Lha, memangnya kita ini sang maha pencipta, kok jadi mendahului takdir?

Bosan hidup susah boleh saja. Merasa tidak ada jalan keluar juga sebenarnya kondisi yang masuk akal, tapi justru itu harusnya menjadi dorongan untuk berdoa demikian kebaikan diri dan keluarga kita.

Agak dilematis juga bagi saya jika menulis yang terkait dengan kepercayaan dan religi, karena nanti kesannya saya seperti ustadz, padahal saya masih orang kebanyakan pada umumnya, yang “al imanu yajidu wa yanqusu”, yang kadar imannya masih turun naik. Meski demikian, saya tidak menafikan hal tersebut karena bagi saya, setelah kita berusaha, tidak ada salahnya disertai dengan doa. Soal setuju atau tidak, saya serahkan pada masing-masing yang membaca tulisan ini.

Kadang saya juga membaca komentar, misalnya soal riba, soal “Gak mungkin lah jaman sekarang ini menghindari riba” atau “Gak mungkin lah jaman sekarang ini lurus-lurus saja”, ya iyalah namanya manusia kita nggak mungkin lurus-lurus saja, tapi kan juga adalah hal yang wajar kita belajar dan berusaha mengurangi kesalahan. Saya pribadi berprinsip, kalau tidak bisa sepenuhnya, minimal bisa mengurangi. Kalaupun tidak bisa 100%, minimal ada usaha kearah perbaikan.

  1. Mulai dari Hal Kecil dan Sederhana
    Seperti saya sampaikan diatas, saya termasuk tipikal yang menghargai proses dan tidak percaya hal instant kecuali mie instan 🙂

Saya tidak bisa punya usaha karena butuh modal. Ya pasti bisa, karena kan modal itu tidak mesti besar. Kalau modal tidak besar, kita bisa tergilas persaingan. Ya nggak lah, kan kita bisa menarget ceruk pasar yang nilai modal menjadi tidak relevan.

Modal kerja Excellent tidak sebesar perusahaan lain yang sudah well established, tapi kan saya bisa fokus pada pendekatan dan aspek personal.

Saya sebagai klien pingin berhubungan dengan perusahaan besar yang sudah menangani banyak perusahaan besar. Ya tidak apa-apa, tapi nanti bapak jadi salah satu klien diantara klien-klien mereka. Di kami, karena kami masih kecil, bapak selalu menjadi klien istimewa. Selalu menjadi prioritas.

Selalu ada nilai lebih yang bisa kita miliki dan kita jadikan nilai tambah.

GImana kalau mau usaha tani kecil-kecilan, kan harga tanah mahal. Ya iyalah, kalau mau usaha tani di perkotaan, modal untuk tanahnya pasti mahal. 1 meter persegi sudah jutaan, bahkan bisa belasan atau puluhan juta rupiah. Kenapa nggak coba sekalian beli tanah di kawasan Sudirman atau Glodok untuk menanam pisang, ya absurd dong ah.

Uang 10 juta rupiah mungkin hanya bisa mendapat tanah 1-2 meter persegi di kota, tapi bisa dapat tanah yang lebih luas di pedesaan.

Kalau dipedesaan, siapa yang mengurus? Pedesaan di Bekasi atau Karawang nggak terlalu jauh kok. Bisa dicapai kurang dari 2 jam.

Bagaimana kalau tertipu, beli tanah atau sawah yang suratnya tidak jelas? Ya berusaha agar lebih teliti dan waspada. Cari tahu dari orang yang lebih tahu. Check silang ke beberapa pihak.

Kalau nggak punya waktu untuk mondar-mandir, bagaimana? Cari orang yang bisa dipercaya untuk mengurusnya. Selalu ada jalan dan jawaban kalau kita mau berusaha.

Kok selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan? Dukun ya? Ya bukan lah. Kan diatas itu skenario. Kalau punya skenario, pasti punya jawaban dan solusi karena kan saya menulis berdasarkan pengalaman juga.

Ada cerita soal katak yang direbus air panas. Jika katak tersebut langsung kena air panas, dia akan reflek meloncat. Jika dia terkena air dingin, kemudian berubah jadi suam-suam kuku, hangat hingga akhirnya panas, katak tersebut bisa mati direbus air panas karena ia terlena dibelai air hangat.

Ceritanya terkesan sadis, siapa juga yang mau merebus katak. Moral story-nya adalah kita jangan jadi katak yang terlena oleh waktu dan keadaan. Saat hendak meloncat dari keadaan yang tidak menyenangkan, segalanya sudah terlambat dan tidak bisa diperbaiki.

Jangan membiarkan diri kita terlalu santai, padahal kita tahu situasinya berbahaya. Jangan menunggu segalanya terlalu terlambat.

  1. Membangun Nest Egg

Jangan berhenti untuk puas pada diri kita setelah kita mendapatkan pekerjaan yang menarik dan berpenghasilan besar. Jangan berhenti saat kita sudah bosan berusaha dan kehidupan masih begitu-begitu saja. Sempatkan untuk berhenti sejenak, merenung dan melakukan review internal.

Jika kita selama ini sudah cukup puas dengan penghasilan yang cukup besar, coba simulasikan seandainya penghasilan itu tiba-tiba berhenti. Apakah kita sudah punya jaring pengaman sosial pribadi? Apakah kita masih bisa memiliki pendapatan?

Perlahan mulai bangun nest egg. Penghasilan yang disimpan atau diinvestasikan yang bisa menghasilkan penghasilan lain.

Uang hasil honor tulisan bisa saya belikan bibit ayam petelur. Saat besar, ayam petelur itu menghasilkan telur sekaligus bisa menjadi pedaging saat afkir. Itu bentuk contoh nest egg sederhana.

Meski namanya nest egg tidak harus selalu berupa telur. Nest egg itu istilah saja.

A nest egg is a substantial sum of money or other assets that have been saved or invested for a specific purpose. … The term is believed to have been derived from poultry farmers’ tactic of placing eggs—both real and fake—in hens’ nests to induce them to lay more eggs, which meant more income for these farmers.

Saya punya gaji dari pekerjaan IT saya. Setelah dikurangi pengeluaran keluarga, saya punya sisa yang bisa ditabung atau diinvestasikan. Saya investasikan ke Obligasi pemerintah (ORI/Sukuk/SBR), saya bisa mendapat kupon penghasilan. Itu namanya nest egg.

Sisa uang saya investasikan disaham dan menghasilan dividen saham, itu namanya nest egg.

Iya, saya dapat dividen tapi hanya beberapa ribu atau puluh ribu saja. Tidak apa-apa, mulai dari hal kecil dan sederhana. Dividen itu didapatkan tanpa meninggalkan pekerjaan kita. Seiring penambahan jumlah saham, nilai dividen bisa semakin besar.

Saya mengumpulkan sisa penghasilan. Setelah cukup memadai, saya belikan tanah 50 atau 100 meter di kampung. Saya tanami pisang agar tidak terlalu repot bolak balik mengecek. Selama setahun, pisang berbuah beberapa kali. Kalau dirupiahkan menghasilkan sekian ratus ribu rupiah. Tidak apa-apa, karena itu dividen dari tanah atau lahan. Nilai tanah atau lahannya kan tetap.

Wah saya repot kalau harus mengurus ternak atau lahan pertanian. Cari opsi lain. Kan ada jenis investasi lain. Takut tertipu? Cari tahu, lakukan riset. Check silang.

Wah saya nggak percaya invest di Indonesia, banyak kasus fraud. Ya pelajari dengan baik, jangan silau pada keuntungan besar sesaat. Kalau riset kan butuh pengalaman? Nggak juga, kan judulnya saja riset, padahal yang dilakukan hanya searching di Google mengenai pengalaman orang lain.

Buka wawasan, buka pemikiran. Saat membaca, imbangi bacaan ringan kita dengan bacaan yang membuka wawasan dan memberi inspirasi. Jika membuka Youtube, imbangi video yang dilihat dengan video yang memberikan nilai manfaat wawasan selain hiburan semata. Saat menonton film, pilih film yang bisa memberikan nilai tambah, bukan sekedar film yang lewat sepintas saja.

Wah saya repot kalau harus mengerjakan hal ini hal itu. Kalau begitu, ya terima nasib saja jangan mengeluh, hehehe…

Karena kita punya tanggung jawab pada hidup dan penghidupan kita. Kita punya tanggung jawab untuk terus berusaha agar kita bisa memperbaiki kualitas kehidupan kita.

Jika kita hidup senang, kita juga yang akan menjalani dan menikmatinya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.