Berpikir Rasional dan Tidak Ikut-Ikutan

Sudah satu minggu lebih saya mengantar puteri bungsu, Vivian Aulia Zahra ke sekolah. Bangun pukul 04.30, menyiapkan diri, beres-beres dan siap berangkat pada pukul 05.30.

Biasanya kami rutin berangkat dari rumah pada pukul 05.45.

Sampai di sekolah Vivian pukul 06.00 WIB. Mungkin karena masih pagi, jadi masih lancar perjalanannya. Berbeda halnya jika berangkat dari rumah pukul 06.30.

Kadang sampai di sekolah masih gelap, hehehe… Kalau kata orang Tambun (Betawi), “Sekolah getap emen ya, emeng-emeng udah sampe di sekolah, jangan-jangan security-nya masih kucek-kucek mata…”

Biasanya saya menemani Vivian hingga pukul 06.15 (Dia nggak langsung ke kelas karena masih kepagian) baru setelah itu berangkat ke markas Excellent Premier Serenity atau markas Aktiva Danita.

Perjalanan dari sekolah di kawasan Summarecon Mall Bekasi ke markas Excellent atau Aktiva ini yang menghabiskan waktu. Jalurnya macet sekali.

Dari sekolah Vivian saya keluar kawasan sekolah, sudah terkena macet baik di jalur keluar sekolah Al Azhar maupun melalui jalur masjid Al Azhar. Setelah lepas, saya kena macet lagi di dekat sekolah Penabur (BPK Penabur).

Lepas kemacetan di kawasan Summarecon, saya menuju jalan Perjuangan. Jalur ini padat sekali karena jalur dari berbagai perumahan ke arah kota Bekasi, Stasiun Bekasi maupun ke berbagai sekolah.

Lepas dari jalan perjuangan, saya mengarah ke jalan KH Agus Salim. Jalur ini merupakan jalur pendidikan. Ada SD Bekasi Jaya, SMPN 1 Bekasi, SMPN 3 Bekasi, SMPN 18 Bekasi, MTSN 1 Bekasi dan SMAN 1 Bekasi. Deretan sekolah-sekolah negeri favorit di Bekasi.

Jalur ini sangat macet di pagi hari, karena menjadi jalur anak-anak sekolah dan warga masyarakat yang menuju Proyek Bekasi, Stasiun maupun ke arah pusat kota Bekasi.

Saya bisa menghabiskan waktu 30-45 menit melintasi jalur ini dari sekolah Vivian ke markas Excellent.

Saat kemarin main ke kebun anggur Zeze Zahra di Tambun Bekasi, saya sempat berpikir, kok saya seperti orang linglung ya.

Kan tidak ada keharusan saya untuk pulang melintasi jalur macet itu, saat itu juga.

Kan tidak ada yang melarang saya untuk menunda melewati jalur padat itu dan baru pulang setelah suasana agak reda. Saya termasuk beruntung karena lokasi markas Excellent tidak terlalu jauh dan saya juga bisa bekerja secara remote. Sebelum ada trend WFH-pun, saya dan team Excellent sudah sering bekerja remote.

Kalau saya menunda sebentar, saya bisa mengurangi jumlah kendaraan yang lewat yang menambah kemacetan. Saya bisa mengurangi jumlah orang yang sewot dan sebel di pagi hari. Saya juga bisa menulis blog, ngaji, sarapan, atau baca artikel. Saya bisa lebih efisien dan efektif di pagi hari.

Saya bisa mampir ke masjid Al Azhar di kawasan sekolah atau bisa juga mampir ke area di sekitarnya, untuk cari sarapan. Untuk bersantai sejenak. Untuk lebih rileks.

Hasilnya mungkin baik buat saya pribadi maupun buat orang lain. Mungkin rekan-rekan yang lain tidak memiliki jam kerja dan mekanisme kerja yang fleksibel seperti yang saya lakukan dan karena itu saya bisa memilih untuk berpikir lebih jauh dan tidak ikut-ikutan.

Sekarang kalem dulu, bersantai dulu…

Update : Ternyata benar. Tadi saya mampir ke masjid Al Azhar Summarecon Bekasi, menunggu hingga sekitar pukul 07.30. Setelah itu meluncur ke markas Excellent dan hanya butuh waktu sekitar 10 menit, padahal biasanya bisa makan waktu 30-45 menit dengan jalur perjalanan yang sama

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.