Belajar Menjadi Orang Tua : Jangan Mengikat Sayap Anak-Anak Kita

Pernah melihat lomba menggambar dan mewarnai di mall-mall? Siapa yang lebih heboh? Anak-anak atau orang tuanya?

Seharusnya yang heboh adalah anak-anaknya, yang berusaha menggambar dan mewarnai sebaik mungkin. Tapi kenyataannya, yang lebih heboh adalah orang tuanya. Sebagian bahkan bukan sekedar bicara, tapi juga mengomentari pekerjaan yang dilakukan anaknya. Sebagian lagi ikutan menghapus, memberi warna dan menuntun anaknya melakukan apa yang menurut orang tuanya lebih baik.

Tanda sayang pada anak? Kelihatannya iya, padahal pada hakikatnya, tindakan itu sama halnya dengan mengikat sayap-sayap anaknya. Anaknya tidak bisa melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, yaitu belajar untuk melakukan sesuatu sesuai keinginan. Belajar “terbang” mencari pengalaman sebagai bekal kehidupan.

Kejadian yang mirip banyak terjadi pada kegiatan yang lain. Bisa dalam bentuk kegiatan menari. Bisa dalam bentuk kegiatan di sekolah. Bisa dalam bentuk kegiatan apapun. Bahkan sekedar mengisi PR anak-anak di sekolah, ada sebagian orang tua yang turun tangan mengisikannya…

Saya juga sama. Sebagai orang tua, saya sedih jika anak tidak mendapat juara. Saya sedih jika anak kalah bersaing. Jika anak kalah lomba renang. Jika anak tidak terpilih dalam suatu kegiatan. Jika anak hanya anak buah dan bukan pemimpin. Jika anak menjadi pembawa alat musik kecil hampir tak terlihat dibandingkan menjadi mayoret di klub drum band.

Tapi saya juga harus belajar. Sedih boleh tapi jangan lantas membuat kita tidak realistis. Kita harus menyadari bahwa keinginan boleh sempurna, tapi jika sudah diusahakan sebaik-baiknya, yang penting adalah proses, bukan hasil akhir. Orang tua juga harus belajar mengelola emosi dan keinginannya, bukan sekedar memaksakan keinginan padahal anaknya sendiri woles saja menerimanya.

Belajar mengelola keinginan bukan lantas membiarkan anak semau-maunya. Jangan selalu mengambil sesuatu sebagai bentuk hitam-putih. Kalau nggak begini maka begitu. Kita memang tidak menjadi diktator yang mengontrol tiap aspek kehidupan anak, namun kita bisa menjadi pendorong, pemberi arahan dan jalur pada anak. Kita cukup memberikan clue, tidak mengunci si anak. Kita boleh mengajari cara, bukan lantas mengisikan PR-nya mentah-mentah. Biarkan si anak belajar mengatasi kesulitan, bukan kita sendiri yang memuluskan jalurnya dari awal hingga akhir.

Kita mungkin takut, jika anak-anak kita mengalami hal yang tidak menyenangkan. Siapa juga yang tidak takut. Namun jangan lantas hal tersebut membuat kita memasukkan anak-anak kita kedalam sangkar perlindungan semu. Jangan lantas membuat kita menghalangi semua aktivitasnya hanya gara-gara kita terlalu paranoid. Berikan kesempatan pada anak untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupannya kelak, bukan kehidupan yang kita jalani.

Coba saja review kehidupan kita sendiri. Jika kita lihat kebelakang, mungkin kita merasa dulu orang tua kita lebih banyak memberi kebebasan pada kita. Karena memang situasinya demikian. Karena memang suasananya wajar demikian. Kita sekolah lebih jauh, karena sekolah yang bagus lokasinya jauh dari rumah. Jika dipikir dengan situasi sekarang, apa orang tua kita nggak khawatir anak-anaknya sekolah terlalu jauh?

Orang tua saya mungkin tidak memahami pola pendidikan yang baik sebagaimana yang ada dalam buku teks atau seminar-seminar. Jika merujuk pada latar belakang, seharusnya saya dididik sebagai petani dan pedagang sesuai latar belakang orang tua saya. Namun yang dilakukan orang tua saya hanya memberikan jalur saja. Saya diberikan jalur untuk bersekolah, dengan harapan kehidupan kami bisa lebih mudah nantinya jika memiliki pengetahuan. Bentuknya memang tidak langsung, tidak dalam bentuk yang terlihat jelas saat itu namun bekal pengetahuan tersebut membuat anak-anaknya memiliki peluang dan pilihan yang lebih banyak dalam menjalani kehidupan.

Ingat selalu, yang menjalani kehidupan nanti adalah anak kita sendiri. Jika kita diberikan anugerah usia panjang, mungkin kita bisa mendampingi anak-anak kita namun dari sisi teori, besar kemungkinan anak memiliki harapan hidup lebih panjang dibandingkan orang tuanya. Jika kita sudah tiada, anak-anak akan tetap menjalani dan meneruskan kehidupannya. Jika kita sudah memberikan bekal kehidupannya-dunia maupun akhirat, finansial maupun spiritual, itu adalah sebaik-baik bekalnya dalam menjalani kehidupan.

Artikel Relevan : Anak-Anak Kita Bukanlah Burung Dara yang Diikat Sayapnya

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.