Belajar Mengatur Waktu dan Usaha Meningkatkan Kualitas

Pertengahan bulan November ini terhitung 2.5 bulan saya menjalani perkuliahan di President University. 5 hari dalam seminggu, selepas maghrib saya menjalani perkuliahan.

Total ada 5 mata kuliah yang saya jalani :

Senin untuk mata kuliah Information Retrieval dengan dosen Ir. Rila Mandala, M.Eng., Ph.D.

Selasa mata kuliah Ubiquitous Computing dengan dosen Rusdianto Roestam MSc., PhD.

Rabu mata kuliah IT Forensics dengan dosen Cutifa Safitri, M.Sc., Ph.D.,

Kamis mata kuliah Research Methodology dengan dosen Prof. Dr. Ir. Wiranto Herry Utomo, M.Kom.

Jumat mata kuliah Business Intelligence dengan dosen Dr. Tjong Wan Sen, S. T., M. T.

Dosen-dosen yang mengajar memang sesuai dengan titel akademik yang disandang, semua qualified lecturer dan meski memiliki pendekatan pengajaran berbeda-beda, saya bisa belajar analisa sekaligus terapan dari tiap mata kuliah yang ada.

Semua kuliah dilakukan dalam bahasa Inggris, termasuk diskusi, tugas maupun paper dan thesis yang nantinya akan dibuat. Persiapan yang saya lakukan sebelum mengambil perkuliahan (mengikuti kursus speaking, latihan dan mengambil ujian TOEFL) sangat membantu adaptasi hal ini, meski ya tentu saja sebatas apa yang saya bisa.

Kegiatan perkuliahan ini tentu saja mengubah kebiasaan saya selama ini. Biasanya saya masih bisa bersantai di sore sampai malam hari, kali ini saya harus menyiapkan diri setiap sore. Apalagi saya ditunjuk menjadi captain (ketua kelas) untuk beberapa mata kuliah. Hal ini terjadi, mungkin karena saat pertemuan pertama di mata kuliah pak Rila, saya menjadi siswa yang hadir paling awal, hehehe…

Disela-sela kesibukan bekerja, saya berusaha membuat rutinitas belajar, selain tentunya mengerjakan tugas. Saya membuat jadwal rutin untuk tiap mata kuliah, minimal 1 hari sebelum kegiatan mata kuliah dilakukan. Misalnya untuk mata kuliah IT forensics di hari Rabu, paling lambat hari Selasa saya sudah mencoba mempelajari materi yang akan dibahas.

Kadang ada tugas yang butuh waktu khusus untuk mengerjakannya, misalnya untuk pembuatan paper di mata kuliah Ubiquitous Computing dan Research Methodology. Belum lagi saya harus mempelajari Python dan Machine Learning sebagai dasar bagi saya mengikuti mata kuliah Business Intelligence. Hal ini ditambah dengan proyek pribadi rutinitas belajar bahasa Inggris dan menghapal beberapa ayat al qur’an setiap harinya.

Saya juga harus mengelola bisnis Excellent, Aktiva dan Zeze Zahra, sekaligus mengelola kebun dan rumah kabin.

Kadang bukan hanya teman atau saudara yang tanya, bahkan saya sendiri bertanya, ini apa benar saya menjerumuskan diri pada kesibukan bertubi-tubi. Apa yang membuat saya harus sedemikian sibuk padahal saya bisa saja bersantai mengerjakan hal-hal yang menyenangkan saja.

Tapi saya memilih untuk mencoba berbagai hal yang baik dan positif. Dalam hal pemilihan kuliah misalnya, saya memerlukan itu untuk mengupdate pemikiran saya, agar bisa bermanfaat dalam bisnis Excellent, Aktiva dan Zeze Zahra. Bahwa konsekuensinya saya harus belajar lebih keras karena sudah terlalu lama selesai kuliah, ya itu saya pandang sebagai konsekuensi logis yang harus saya pahami dan terima. Sesuatu yang memang harusnya saya jalani dan tidak mencari-cari keringanan atau penyesuaian.

Saya juga ingin memberikan contoh pada Zeze Vavai dan Vivian Aulia Zahra agar mereka mau terus mengupdate pengetahuan sekaligus berupaya sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dari orang tuanya tanpa harus melupakan keterampilan lain dalam kehidupan.

Menulis hal seperti ini di sosmed juga kadang membuat saya berpikir ini jatuhnya jadi pencitraan. Menyebut nama kampus, menuliskan apa-apa yang saya kerjakan, bisa jadi itu malah membuat saya menampilkan hal yang kelihatannya keren-keren saja. Padahal niat saya menuliskan ini memang murni sebagai berbagi pengalaman, bahwa semestinya kita tidak berhenti belajar meski usia kita terus bertambah, dan pembelajaran itu tidak harus formal karena bisa saja kita belajar dalam bentuk lain.

Saya memilih pembelajaran formal di kampus karena memang dulu saya tidak punya kesempatan itu. Saya dulu tidak memiliki peluang untuk bisa menempuh pendidikan di tempat yang bergengsi atau di kampus perguruan tinggi negeri atau di kampus dengan berbagai fasilitas yang memadai. Saya tidak menyesali apa yang sudah saya jalani namun saya juga berusaha untuk bisa mengambil peluang untuk meningkatkan level pendidikan dan pengetahuan saat kesempatan itu ada.

Kadang ada yang bilang bahwa pendidikan formal itu tidak penting karena yang penting itu adalah kemampuan. Seperti selalu dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya, bagi saya pendidikan formal sama pentingnya dengan kemampuan. 2 hal itu bukan dikotomi dan harus dipilih salah satu, karena bagi saya akan keren sekali jika pendidikan formal bisa berjalan seiring dengan kemampuan yang sama baiknya.

Saya belum tahu kedepan apakah saya bisa bisa menjalani pendidikan dengan lancar, bisa menjalani usaha dengan lancar, bisa menata kehidupan dengan baik, karena ya tentunya kita tidak pernah tahu masa depan kita. Yang bisa saya lakukan adalah mempersiapkan dan menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Proses yang dijalani saja sudah merupakan pembelajaran yang baik dan itu harapannya bisa bermanfaat bukan hanya bagi saya pribadi maupun keluarga, melainkan juga buat usaha yang dijalani, untuk lingkungan dan untuk masyarakat banyak.

Note : Image by Pok Rie from Pixabay


Also published on Medium.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 2 =

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.