Belajar Hal Baru yang Mendorong Pembelajaran Lebih Jauh

Apa jadinya kalau sudah kelamaan kuliah terus melanjutkan kuliah. Yang terjadi ada 2 kemungkinan. Pertama, mabuk pelajaran dan akhirnya menyerah. Kemungkinan kedua, menerima tantangan itu dan belajar lebih banyak lagi.

Itu yang saya alami setelah hampir 2 bulan menjalani perkuliahan. Ada beberapa materi kuliah yang merupakan hal baru bagi saya dan saya harus berkejaran dengan penguasaan materi dasar untuk bisa mengikutinya.

Sebagai contoh adalah mata kuliah Business Intelligence. Ini adalah mata kuliah terkait dengan data dan statistik. Terkait dengan pattern. Dosen saya adalah Dr. Tjong Wan Sen, S. T., M. T.

Pada pertemuan pertama, beliau sudah bicara soal data dan cara membaca pattern. Dan itu sudah menjadi sinyal warning bagi saya bahwa saya harus mengejar banyak hal baru sekaligus mencoba menguasainya dalam waktu singkat.

Dari mata kuliah business intelligence ini saya dapat banyak hal baru. Ada kaitan dengan Jupyter Notebook. Untuk basis ilmunya harus mengejar materi mengenai Machine Learning. Ini kemudian membawa saya ke Google Collab. Ke UCI (UC Irvine) dataset. Kemudian ke Kaggle. Ke Tableau. Ke Rapidminer sampai akhirnya berujung ke introduction to Python Programming.

Bayangkan kuliah untuk business intelligence tapi harus belajar dalam waktu singkat mengenai istilah diatas sekaligus penguasaan materinya. Judulnya adalah serabutan dan berujung pada 2 pilihan diawal tulisan ini, menyerah atau menerima tantangan itu. Dan saya menerima tantangan itu sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dan saya tidak menyesali pilihan itu, karena kehidupan jadi lebih berwarna 😀

Saya jadi belajar Python programming. Saya juga berusaha membuat coding dengan Google Collab. Saya install anaconda berikut dengan kawan-kawannya di komputer di rumah. Saya juga mendaftar lisensi student untuk Tableau dan untuk Rapidminer. Saya membeli buku paket. Mengambil kursus di coursera dan udemy sampai mendengarkan kuliah online Youtube dari mas Muhammad Fachrie disela-sela perjalanan antar jemput Vivian dari sekolah.

Kalau ada yang bertanya, apa yang harus dilakukan kalau kita merasa kehidupan kita membosankan, rutinitas kantor terasa membosankan? Coba saja ambil kuliah atau ambil kursus intensif. Pasti rutinitas membosankan itu akan buyar.

Saya tidak katakan bahwa kuliah menjadi satu-satunya solusi. Yang lebih penting sebenarnya live skill. Survival skill. Kalau selama ini kamu tipe orang yang serius, yang pekerjaannya monoton, mengapa tidak mencoba mengambil kursus yang lain daripada yang lain.

Kalau kita bekerja sebagai karyawan pabrik, memangnya apa yang menghalangi kita untuk kursus menjadi investor saham? Apa yang menghalangi kita untuk kursus mengenai finansial?

Mengapa kita tidak mencoba mencari ide usaha atau ide hobi baru? Memelihara jenis ayam tertentu. Menanam jenis tanaman tertentu? Atau melanjutkan niatan pembelajaran secara online dari luar negeri?

Kalau kita selalu merasa kemampuan bahasa tertinggal, apa yang menghalangi kita untuk mencoba mengambil kursus TOEFL. Kursus live speaking? Kursus apapun yang bisa meningkatkan value kita.

Memang sih semua ada biaya, tapi biaya juga bisa kita ukur. Kalau kita mengeluarkan uang untuk biaya kursus, itu bukan uang yang keluar percuma. Itu biaya untuk investasi kemampuan diri kita. Supaya nanti kedepannya kita bisa menghasilkan value atau pendapatan melebihi investasi yang sudah kita keluarkan.

Diantara mahasiswa kelas saya, mungkin banyak anak-anak lulusan baru yang lebih capable dibandingkan saya. Banyak yang pintar sekali membuat presentasi, bicara diskusi di kelas full bahasa Inggris. Argumentasi dengan dosen. Membuat paper, membuat tugas dan disiplin menyelesaikannya.

Itu sedikit banyak mendorong saya untuk belajar seperti mereka. Belajar memperbaiki diri, belajar menata diri, belajar disiplin dan konsisten menyelesaikan tugas. Pada akhirnya, kesemuanya itu saya harapkan bisa menjadi manfaat bukan hanya untuk pribadi saya dan keluarga, melainkan juga untuk perusahaan tempat saya bekerja dan untuk lingkup yang lebih luas di masyarakat.


Also published on Medium.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × one =

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.