Bahaya Pinjaman Online Bunga Berbunga

Tiap kali mendengar kejadian mengenai pinjaman online di lingkungan tempat tinggal maupun pertemanan, yang terdengar adalah nestapa. Duka, lara dan bencana.

Kasus pertama adalah di lingkungan tempat tinggal orang tua di Tambun Bekasi. Ada salah satu keluarga yang meminjam uang secara online ke Bank Emok.

Istilah bank emok sendiri berasal dari bahasa Sunda yang artinya ibu-ibu pemberi uang yang duduk bersimpuh dengan kedua kaki dilipat ke belakang. Istilah tersebut populer lantaran sistem transaksi yang dilakukan oleh bank emok dengan duduk secara lesehan di tempat tempat khusus seperti poskamling atau teras rumah warga.

Warga yang meminjam ini biasanya untuk berbagai macam keperluan hidup. Bisa untuk kebutuhan sehari-hari, untuk pendidikan (bayar sekolah anak), untuk modal usaha dan lain-lain. Ada kalanya menggunakan nama seolah-olah koperasi simpan pinjam.

Bagi sebagian warga, cara ini dianggap praktis karena prosesnya cepat dan tidak berbelit. Tidak seperti prosedur formal ke bank atau ke lembaga lain yang butuh prasyarat macam-macam. Masalahnya, pinjaman ini biasanya mengenakan bunga yang sangat tinggi. Mirip dengan pinjaman online berbasis aplikasi.

Banyak warga yang akhirnya terjebak dari hutang yang satu ke hutang yang lain. Tambah lama tambah menggunung. Dalam konteks salah satu keluarga di Tambun, pinjaman yang awalnya hanya 1-2 juta kemudian menggunung hingga mencapai lebih dari 150 juta rupiah.

Hutang sebesar itu membuat masalah buat siapa saja yang terkait. Debt collector datang silih berganti. Caci maki baik lewat lisan langsung maupun lewat telepon sudah tak terhitung jumlahnya. Kadang si peminjam sembunyi, yang jadi sasaran orang tua ataupun kerabatnya.

Rumah sampai terjual. Kebun dan tanah keluarga sampai terjual. Saudara terpaksa meminjam uang ke perusahaan untuk membantu melunasi hutang. Itupun tidak terbayar hingga menimbulkan masalah baru di perusahaan tempat bekerja.

Kisah kedua (yang juga kisah nyata karena saya dengar langsung) menimpa salah satu ibu yang bekerja di sekolah anak saya. Karena tiba-tiba kehilangan kepala keluarga (meninggal), ia harus menanggung beban penghidupan, pendidikan dan kesehatan anak-anaknya. Karena pendapatan yang terbatas, ia tergoda untuk menginstall aplikasi pinjaman online dan meminjam uang melalui aplikasi itu.

Pinjaman itu dianggap sebagai penolong. Hanya bermodalkan KTP dan uang pinjaman cair. Tapi nanti dulu, dibalik yang kelihatan mudah, ada bencana yang sudah menanti.

Pinjaman online itu biasanya ada biaya tersembunyi. Pinjam 1 juta, dapatnya tidak 1 juta. Ada potongan biaya layanan dan biaya lainnya. Kadang potongannya ini cukup besar. Kemudian bunga pinjaman biasanya hitungannya per hari. Dulu bunga pinjaman online kisaran 0.8% per hari. Katanya sekarang jadi 0.4% per hari. Kalau 0.8% per hari, 10 hari saja sudah 8%. 30 hari sudah 24%. Jarak 4 bulan, nilai bunga sudah hampir sama dengan pokok pinjaman.

Si ibu awalnya pinjam online sedikit dengan niat langsung dibayar setelah gajian. Niat tinggal niat, pinjaman kadang sudah lunas ditawari lagi dengan nilai yang lebih besar. Dengan embel-embel bahwa itu sebagai reward karena lunas tepat waktu. Makin lama makin besar hingga akhirnya tidak terbayarkan. Nilai total pinjamannya mencapai 60 juta rupiah dan ia kalut harus bagaimana membayar hutang sebesar itu.

Ia bercerita pada kepala sekolah dan kepala sekolah bercerita pada saya dan saya ikutan ngenes mendengarnya. Kalimat kasar debt collector via telepon, WA maupun datang langsung sudah sedemikian parah. Rekan-rekan kerja di kantor ikut tahu bahkan sampai yang jauh-jauhpun tahu karena deb collector pinjol menelpon list kontak yang ada di HP-nya.

Ia berkali-kali ganti nomor HP dan tambah mumet karena tidak punya solusi untuk melunasi hutang.

Banyak dari kita yang cenderung resisten pada jargon-jargon agama. Kalau dibilang soal bahayanya riba, jawabannya kadang, “Emangnya bisa apa minjem tanpa riba… Kalau gitu saya minjem 500 juta saya balikin 500 juta”.

Okelah saya tidak bahas sisi agama. Yang jelas, model pinjaman bunga berbunga (bunga majemuk) seperti pinjol ini jelas berbahaya. Lebih berbahaya lagi menyasar pada orang-orang kampung yang secara literasi finansial rata-rata rendah. Bahkan tidak hanya orang kampung kok. Banyak juga orang yang bekerja kantoran yang terlilit hutang dari model pinjaman bunga berbunga ini.

Kesulitan bagi kita-termasuk bagi saya-adalah kita tidak memiliki solusi permanen untuk hal itu. Karena kita juga keterbatasan. Kalau ada teman atau tetangga atau saudara yang mengalami masalah hutang pinjaman online, kita hanya bisa sekedar bersimpati dan menyesalinya. Kalaupun membantu, sebisanya kita membantu.

Kalau soal nasihat, kadang pelaku maupun korban pinjaman online ini punya berbagai macam jawaban untuk nasihat.

“Kamu sebaiknya menghindari pinjaman online, karena itu berbahaya dan bisa jadi masalah…”, misalnya dikasih saran seperti itu, nanti dijawab,

“Terus, kamu mau minjemin saya? Terus kalau saya nggak punya uang buat makan, kamu bisa bantu? Terus kalau saya nggak kerja dan nggak punya uang, kamu bisa bantu salurkan saya bekerja?”

Susah kan. Jadi saya menuliskan disini juga belum ada solusi. Tapi bahaya pinjaman online ini nyata. Sudah banyak contoh kejadiannya. Kalau tidak diatasi secara sistematis, bisa-bisa meledak jadi masalah sosial masyarakat yang lebih luas.

Saya pribadi baru bisa melakukan apa yang saya bisa di lingkup terbatas saya. Di lingkungan Excellent, Aktiva dan Zeze Zahra misalnya, saya mendorong pembentukan koperasi sekaligus membantu modal dasar koperasi, agar karyawan dan staff bisa meminjam ke koperasi jika membutuhkan biaya dadakan. Pinjaman itu tanpa bunga sama sekali dan tanpa biaya administrasi.

Dalam hal kecil, tiap kali ada pekerjaan di Zeze Zahra, saya berusaha melibatkan warga sekitar semaksimal mungkin, supaya ada pendapatan yang masuk dari pekerjaan tersebut. Kalau ada pendapatan, minimal bisa mengurangi kemungkinan niatan meminjam online.

Meski demikian, kunci utama tetap disisi personal masing-masing. Pahami bahayanya pinjaman online, berusaha agar bisa mendapatkan uang dengan cara yang berkah dan lebih memilih pilihan lain yang relatif tidak berbahaya.

Ada satu solusi lagi sebenarnya, yaitu mendorong pemerintah untuk lebih serius mengatasi dampak pinjaman online bunga berbunga, namun saya termasuk yang skeptis apakah hal ini bisa atau tidak. Kalaupun bisa, mungkin akan butuh waktu dan pressure dari banyak pihak. Sementara menunggu itu, lebih baik kita mengamankan diri kita, keluarga kita dan lingkungan sekitar kita.

Note : Image by Rilson S. Avelar from Pixabay

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.