(Akhirnya) Bisa Vaksinasi Covid-19

Setelah gagal vaksinasi covid-19 pada hari Rabu, 7 Juli 2021 yang baru lalu, hari Jumat 9 Juli 2021 saya mencoba lagi upaya vaksinasinya.

Sebenarnya tujuan awal adalah mengantar dan mendampingi keponakan yang rencananya vaksin pada hari Jumat, 9 Juli 2021. Mereka tinggal di kecamatan Tambun Kabupaten Bekasi. Karena vaksinasi dilakukan di Transpark Juanda kota Bekasi, saya minta mereka berkumpul di Duren Jaya, dekat rumah saya, yang lokasinya lebih dekat dari Transpark Juanda. Jadi mereka bisa beristirahat dulu, tidak terlalu cape sebelum mengikuti vaksinasi.

Daripada sekedar mengantar dan mendampingi, saya sekalian menyiapkan berkas jika seandainya bisa melakukan vaksinasi ulang. Dengan niatan tersebut dan juga memperhatikan komentar dari seorang rekan di posting sebelumnya yang menyarankan beberapa tips terkait persiapan vaksinasi, saya melakukan beberapa hal terkait persiapan tersebut, antara lain :

  1. Tidur lebih awal. Ini tidak 100% bisa saya lakukan, karena kebetulan semalam (Kamis, 8 Juli 2021) ada jadwal Kajian Rutin Kitab Fi Dhilalil Qur’an & Gelombang Cinta KH Buya Syakur Yasin yang selesai pada pkl. 12 malam. Jadi saya baru tidur menjelang pukul 01.00 WIB
  2. Tidur cukup. Meski saya tidur menjelang pukul 01.00 WIB, alhamdulillah tidurnya cukup, karena saya bangun menjelang shubuh, setelah itu tidur lagi selepas shubuh karena niatan cukup istirahat agar tensinya tidak terlalu tinggi
  3. Minum obat tensi menjelang tidur, dengan harapan agar tensi relatif normal dan andaikan masih tinggi, mungkin bisa dipush paginya hehehe…
  4. Konsultasi ke dokter penyakit dalam atau internis, terkait tingginya tensi dan prasyarat vaksinasi. Hasil konsultasi dengan dokter penyakit dalam itu saya screenshot, sebagai bagian dari persiapan nego seandainya saya masih tidak diperbolehkan vaksinasi. Bukan berarti saya ngotot harus vaksinasi, melainkan sebagai second opinion bagi petugas screening jika seandainya saya terkendala tensi

Pukul 08.00 WIB kami bertiga meluncur ke Transpark Juanda Bekasi. Perjalanan lancar, tidak sampai 10 menit. Saya juga pasrah, andaikan tidak boleh vaksin ya tidak apa-apa. Benar yang disampaikan mas Asep Sopyan di posting sebelumnya, “Terserah gusti Allah, bisa vaksin atau tidak, insya Allah itu yang paling baik bagi saya”.

Tiap mendengar kajian KH Buya Syakur Yasin, selalu disampaikan agar kita mau mengikuti takdir dan keputusan Allah dengan hati ikhlas. Silakan berusaha sebaik mungkin, setelah itu pasrahkan hasilnya. Benar juga, dengan prinsip begitu kita tidak terlalu kecewa jika ada sesuatu yang hasilnya tidak sesuai keinginan.

Dalam konteks vaksinasi misalnya, tujuan saya harusnya diluruskan. Saya ini pingin vaksinasi atau pingin sehat. Tentunya kan kepingin sehat. Kalau doanya kepingin sehat dan ternyata vaksinasi harus ditunda, berarti memang itu baiknya ditunda supaya tetap sehat, daripada tetap dipaksakan tapi hasilnya malah nggak bagus.

Jadi sampai di Transpark dan bicara dengan petugas screening, saya tidak punya pretensi apakah bisa diperbolehkan atau tidak. Saya hanya menyampaikan bahwa jadwal saya harusnya Rabu 7 Juli 2021 namun saat itu ditunda dengan pertimbangan tensi yang tinggi. Awalnya persetujuan untuk saya sempat terhambat karena khawatir jumlah vaksin tidak mencukupi karena stocknya hanya untuk jadwal hari Jumat ini. Setelah petugasnya berdiskusi dengan atasan, akhirnya saya diperbolehkan ke meja screening dengan mengikuti jalur pendaftaran internal.

Di meja screening, saya memilih petugas yang kelihatannya cukup ramah. Darimana bisa tahu? Ya tebak-tebak saja, ini sebagai bagian dari ikhtiar supaya kalaupun ada beberapa hal yang harus dinegosiasikan, prosesnya nggak terlalu repot.

Pengecekan pertama, katanya tensi saya 190. Wakakakaw. Kok makin kacau tensinya. Saya ditanya apakah ada yg dikhawatirkan, apakah saya takut jarum suntik, apakah saya stress dan lain-lain dan saya jawab tidak semua. Petugasnya kemudian mengecek ulang, hasilnya tensi saya diangka 160-an. Saya berdiskusi dengan petugas, dengan melampirkan konsultasi saya dengan dokter spesialis penyakit dalam. Keputusannya, saya diminta istirahat dulu sekitar 15 menit, nanti baru dicheck lagi.

Saya menerima sarannya. Jadi saya bergeser ke sofa dan disana sudah banyak calon peserta vaksinasi yang juga diminta istirahat, karena tensinya tinggi. Karena prinsipnya sudah pasrah dan apapun hasilnya saya terima, saya rileks saja. Saya sempat mengecek tensi (saya bawa alat ukur tensi), hasilnya 150an. Ya sudah saya mencoba bersantai, membuka laptop mengecek pekerjaan sambil mendengarkan shalawat Nariyah.

Saya berusaha rileks dan bersikap sesantai mungkin. Saat asyik bekerja dan mengecek email, tiba-tiba ada petugas yang memanggil nama saya. Saya langsung buru-buru membereskan laptop kemudian kembali ke petugas screening awal.

Setelah mengecek ulang, akhirnya petugas screening memberikan approval pada saya untuk bisa diberikan vaksinasi. Alhamdulillah. Saya berterima kasih padanya, kemudian beranjak ke deretan meja vaksinasi.

Proses vaksinasinya berjalan singkat, mungkin hanya beberapa detik saja. Saat ditanya, “Sakit pak?”, saya bilang, “Nggak pak. Malah lebih sakit kalau diambil darah”.

Setelah vaksinasi, saya diarahkan oleh petugas ke tempat observasi sekaligus mengambil surat keterangan vaksinasi. Beberapa peserta vaksinasi ada yang berfoto-foto disini, namun saya langsung duduk di kursi, menunggu surat keterangan saya dicetak. Tak sampai 5 menit menunggu, surat keterangan vaksin sudah selesai dan saya dijadwalkan vaksinasi kedua pada tanggal 8 Agustus 2021.

Keponakan saya yang mengikuti vaksinasi juga ternyata sudah selesai. Mereka malah lancar sekali tanpa kendala, karena tensinya juga normal 120an. Menjelang pukul 09.30 WIB kami sudah meluncur pulang. Terima kasih CT Corp dan para petugas kesehatan untuk peran sertanya membantu proses vaksinasi dan untuk pelayanan para staff dan petugas yang sigap.

You may also like

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.