Keberanian

OpiniNo Comments

Jika kita sedang mencari peluang pekerjaan baru, apa yang terbayang dan apa yang kita lakukan jika ada peluang namun syarat-syaratnya tidak 100% meet dengan apa yang kita miliki?

Misalnya, ada syarat minimal pengalaman 2 tahun sedangkan kita baru 1 tahun

Atau syaratnya “From Reputable University” sedangkan kampus kita kampus yang rasanya “kurang reputable”

Atau syarat lainnya adalah “Good in English”

Apakah kita langsung menyerah, melanjutkan hidup kita sebagaimana mestinya atau kita berusaha melakukan upaya sampai kemudian tidak ada pilihan lain karena peluangnya terhenti?

Jika saya diposisi yang sama, jawaban saya adalah : Saya akan perjuangkan sampai dititik dimana tidak dapat lagi saya perjuangkan.

Jika syaratnya prinsipil misalnya syaratnya Female sedangkan saya laki-laki alias Male, mungkin saya menyerah karena nggak mungkin operasi ganti jenis :-P

Kalau syaratnya usia max 25 tahun sedangkan saya 40 tahun, mungkin saya menyerah. Tapi kalau usia saya 26 tahun, saya mungkin akan tetap mencobanya. Toh selisihnya tidak terlalu jauh, jadi masih memungkinkan untuk dicoba.

Saat saya pertama dulu melamar pekerjaan sebagai staff IT, syarat yang diminta adalah menguasai C++ Builder. Saya tetap nekat melamar pekerjaan dengan basis pengetahuan Visual Basic.

Pemikiran saya sederhana, jika memang ada peluang, satu-satunya kerugian saya adalah saya kehilangan waktu untuk mengejar sesuatu yang ternyata gagal saya dapatkan. Namun saya akan memilih itu daripada saya tidak pernah mencobanya padahal peluang itu ada.

Jika kita menyerah hanya karena “from reputable university”, berarti kita sendiri memang tidak PD pada kampus kita. Jika orang lain menganggap kampus kita tidak reputable, itu urusan dia sendiri. Jika perlu, kehadiran dan keberadaan kita yang turut mengangkat reputasi kampus kita.

Jika kita menyerah hanya gara-gara bahasa Inggris, lantas apakah kita hendak membiarkan ketidakmampuan kita terus menerus? Apakah tidak ada upaya bagi kita untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan peluang perbaikan kualitas kehidupan kita? Apakah kita tidak bisa kursus atau belajar online agar kekurangan itu bisa kita perbaiki secara bertahap?

Terkait rencana rekrutmen staff untuk Excellent, syarat-syarat yang dicantumkan di https://excellent.urbanhire.com memang digunakan karena ada pertimbangan-pertimbangan. Salah satu pertimbangan utama adalah mengeliminasi person-person yang tidak memiliki keberanian untuk mencoba.

sumber gambar : https://pixabay.com/en/animal-gorilla-ape-primate-3346192/

Karena sifat pekerjaan di Excellent, saya akan membutuhkan team yang berani untuk mencoba apapun sepanjang itu positif. Saya tahu, mengisi formulir dan melengkapi requirement itu butuh kemauan namun memang itu yang saya perlukan. Kalau kita langsung menyerah karena capek mengetik requirementnya, bagaimana jika nanti saya minta membuat dokumen yang diperlukan oleh klien yang belum pernah dibuat sebelumnya?

Jika takut mencoba, bagaimana jika nanti saya kirim keluar negeri pertama kali, untuk memberikan services layanan Excellent pada klien di luar Indonesia? Teman-teman di IDN dan banyak teman lain sudah biasa kok, masya team Excellent takut-takut untuk menjalani sesuatu yang positif?

Saya masih ingat dulu ada siswi SMKN yang melamar untuk PKL di Excellent. Syarat utama PKL di Excellent untuk SMK adalah jurusan TKJ (Teknik Komputer & Jaringan) namun dia berasal dari jurusan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak). Dia mendebat saya saat saya bilang bahwa saya hanya terima siswa SMK TKJ. Dia berargumen mengenai peluang dia.

Dia satu-satunya siswa SMK yang mengirimkan surat permohonan PKL, 1 tahun sebelum waktunya dia PKL. Dan sampai dengan saat ini, dia satu-satunya anak SMK jurusan non TKJ yang diterima di Excellent.

Saya sering bilang ke team Excellent, “Lakukan apa saja, perjuangkan apa saja, sepanjang itu positif dan untuk kebaikan. Jika kita berhasil, itu buah dari usaha kita, namun jika kita gagal, itu adalah biaya pembelajaran yang akan mendewasakan kita”.

Ingat selalu, hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

About the author:

Masim Vavai Sugianto, Tinggal di Bekasi, Bekerja sebagai wirausahawan/Konsultan IT. Penganjur penggunaan sistem Linux dan aplikasi Open Source. Hobby Membaca, Hiking dan Avonturir. Mengembangkan PT. Excellent Infotama Kreasindo sebagai lembaga training dan IT consulting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Top