Excellent Insight Day #6 : Jangan Sekedar Menjadi Statistik di Dunia Kerja

Family & PersonalNo Comments

Satu hal yang selalu saya ingat setiap kali bekerja adalah agar kita tidak sekedar menjadi statistik di tempat kita bekerja. Entah itu bekerja di perusahaan atau lembaga ataupun organisasi. Statistik dalam arti bahwa kehadiran kita hanya sebagai penambah atau pengurang jumlah staff. Tidak ada pengaruh lain selain bahwa keberadaan kita hanya menjadi penanda jumlah pekerja.

Statistik dalam arti jika ada rencana pengurangan karyawan, nama kita ada di posisi atas list dan jika ada bonus prestasi, nama kita ada pada list paling bawah. Kita tidak memiliki prestasi yang membuat keberadaan kita diperhitungkan.

Mungkin kita bisa beralasan,

“Ah, saya sih orangnya low profile. Saya nggak perlu menonjolkan diri kalau saya mampu. Saya juga tidak perlu berpolitik atau menjilat atasan hanya sekedar untuk dianggap bagus dalam bekerja. Saya bekerja biasa saja karena hasilnya juga sama saja. Bekerja bagus gajinya sekian, bekerja jelek juga hasilnya sama”

Bekerja bagus dan sebaik-baiknya tidak ada relasi langsung dengan penghasilan. Memang benar bahwa bekerja bagus pada gilirannya membuka peluang peningkatan prestasi dan penghasilan, namun jangan lantas hal itu dijadikan dasar kita bekerja seadanya hanya karena reward yang diterima dianggap tidak seimbang.

Bekerja sebaik-baiknya itu bukan pilihan. Itu keharusan. Keharusan untuk berbuat sebaik-baiknya untuk kepuasan lahir maupun batin kita. Bukan pilihan bahwa orang bekerja boleh saja bermalas-malasan dan asal-asalan gara-gara perhitungan hasil akhir yang belum tentu sepadan.

Lantas, apa gunanya bekerja sebaik-baiknya jika kita tidak dihargai ditempat kerja? Jika hasil yang kita terima sama saja jika dibandingkan dengan orang lain yang bekerja asal-asalan? Tetap ada gunanya kok, karena berlian akan tetap bersinar meski terbenam didalam lumpur sekalipun. Tidak usah khawatir jika kita sudah bekerja sebaik-baiknya namun reward yang diterima belum sepadan karena yang mesti khawatir justru perusahaan/lembaga tempat kita bekerja.

Jika saya sudah bekerja sebaik-baiknya, punya expertise pada beberapa bidang dan memiliki kemampuan yang bisa “compete” dengan orang lain, mengapa saya harus khawatir tidak bisa mendapat posisi dan pekerjaan yang lebih baik ditempat lain?

Saat menjadi konsultan disalah satu BUMN saya sempat bekerjasama dengan beberapa staff yang memiliki kualifikasi bagus, mudah bekerja dalam team dan mau belajar memperbaiki kekurangannya. Sayangnya posisi dia saat itu masih dalam posisi tenaga kerja kontrak (PKWT, Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) yang secara posisi masih berbeda pendapatan dan fasilitas dibanding rekan lain dengan posisi tetap, meski secara pengetahuan dan kapabilitas ia lebih unggul dari yang lain.

Memperhatikan hal itu, saya berbicara lisan dan via email kepada atasannya, level EVP dalam perusahaan :

“Pak, selayaknya ada perhatian terhadap status dan jabatan si A, karena dia punya kualifikasi dan kapabilitas yang bagus. Sayang kalau dibiarkan dalam posisi sekarang. Kalau dalam waktu 2-3 bulan kedepan ia tidak ada perubahan posisi, jangan menyesal lho ya kalau saya merekrutnya untuk Excellent. Saya nggak mau menyesal terlambat merekrut orang-orang berkualitas yang punya potensi meningkatkan kemampuan Excellent”

Beberapa waktu kemudian, ada perubahan posisi yang lebih baik untuk staff tersebut. Ia sudah diangkat menjadi staff dengan status pegawai tetap. Tahun 2017, jabatannya adalah sudah berada di level manager.

Apakah hal tersebut terjadi karena komunikasi saya? Tentu saja belum tentu, karena apalah posisi saya ini :-D. Hanya saja, saya pasti akan melaksanakan “ancaman” saya untuk “membajak” yang bersangkutan jika atasannya tidak memperhatikan karier staff padahal staffnya punya kualifikasi bagus.

Saat saya dulu bekerja sebagai operator/buruh produksi diperusahaan di kawasan industri Jababeka, beberapa rekan kerja bilang pada saya, “Ngapain kamu kerja bagus, gaji juga sama saja kok”. “Ngapain kamu kerja bagus toh leader dan supervisor sudah ada posisinya”.

Ya iyalah, memang leader dan posisi diatas sudah ada yang mengisi. Saingan sayapun cukup berat untuk bisa naik keposisi tersebut karena ada banyak orang lain yang lebih rajin dan pintar dari saya. Ada kemungkinan butuh waktu bertahun-tahun jika saya berminat menjadi leader atau supervisor. Namun siapa sangka, tak butuh waktu terlalu lama bagi saya karena saya mendapat kesempatan menjadi supervisor di perusahaan lain

Tetap semangat, bekerja sebaik-baiknya untuk kualitas kehidupan kita. Ingat selalu, tidak perlu khawatir jika tempat kita bekerja belum memberikan reward yang sepadan, karena kita bisa memberi batas untuk kemudian jika perlu, kita bisa berprestasi di lingkungan baru. Jangan pernah membiarkan diri kita sekedar menjadi statistik di tempat kerja, menjadi pembenar peribahasa “Ada tidak menambah, tidak ada pun tidak mengurang”.

Artikel lain yang relevan :

  1. Pengalaman Sebagai Staff IT : Meningkatkan Rasa Percaya Diri
  2. Staff IT : Antara Karir, Sertifikasi, Biaya dan Kesempatan
  3. 5 Alasan Mengapa Staff IT Kurang Dihargai Staff Lain/Atasan Sendiri

About the author:

Masim Vavai Sugianto, Tinggal di Bekasi, Bekerja sebagai wirausahawan/Konsultan IT. Penganjur penggunaan sistem Linux dan aplikasi Open Source. Hobby Membaca, Hiking dan Avonturir. Mengembangkan PT. Excellent Infotama Kreasindo sebagai lembaga training dan IT consulting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Top