<?xml version="1.0" encoding="utf-8" ?>

<rss version="2.0" 
   xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
   xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
   xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
   xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
   xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
   xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
   >
<channel>
    <title>Blog Vavai - Belajar</title>
    <link>http://www.vavai.com/blog/</link>
    <description>a Small Stuff for My Private Interest</description>
    <dc:language>en</dc:language>
    <generator>Serendipity 1.2.1 - http://www.s9y.org/</generator>
    
    

<item>
    <title>Logical Fallacy Part I</title>
    <link>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/883-Logical-Fallacy-Part-I.html</link>
            <category>Belajar</category>
            <category>Personal</category>
    
    <comments>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/883-Logical-Fallacy-Part-I.html#comments</comments>
    <wfw:comment>http://www.vavai.com/blog/wfwcomment.php?cid=883</wfw:comment>

    <slash:comments>1</slash:comments>
    <wfw:commentRss>http://www.vavai.com/blog/rss.php?version=2.0&amp;type=comments&amp;cid=883</wfw:commentRss>
    

    <author>nospam@example.com (Muhammad Rivai Andargini)</author>
    <content:encoded>
    &lt;img vspace=&quot;5&quot; hspace=&quot;5&quot; border=&quot;0&quot; align=&quot;left&quot; alt=&quot;logical fallacies&quot; src=&quot;http://www.vavai.com/blog/uploads/logical-fallacy.jpg&quot; /&gt;Saya sering mendengar orang melakukan execuse atas suatu perbuatan dengan membandingkannya pada hal lain yang tidak relevan namun dianggap dapat dijadikan sebagai alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;quot;Wajar dong dia meletakkan batang besi di rel kereta api agar kereta api terguling dan dia mendapat barang-barang dari penumpang kereta yang celaka, karena jaman sekarang ini ekonomi susah dan pemerintah seharusnya bertanggung jawab mengatasi kemiskinan&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;quot;Kenapa koruptor yang cuma sekian puluh juta sementara yang ratusan miliar atau triliun tidak diburu...&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 3 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;quot;Kenapa harus mengurusi pornografi di TV, padahal ada lebih banyak kasus yang lebih porno. Kenapa nggak mengurusi anggota dewan yang kelihatan suci tapi ternyata ada yang selingkuh dan juga menjadi aktor film porno di handphone ?&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 4 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&amp;quot;Korupsi terjadi karena masalah sistem pemerintahan. Siapapun yang menjabat pasti akan terindikasi dan tergoda untuk korupsi karena sistemnya bobrok. Bukan salah mereka korupsi karena sistem sendiri membuka peluang untuk korupsi. Perbaiki sistem terlebih dahulu baru gembar-gembor korupsi&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan-ungkapan diatas sekilas terlihat benar padahal mengandung logika yang salah. Ungkapan yang disampaikan memiliki asumsi bahwa penanganan suatu masalah merupakan satu hal terpisah. Jika kita berpendapat A, seolah-olah kita hanya berpendapat A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bilang bahwa koruptor, meski hanya korupsi sekian puluh juta dihukum, logika diatas akan mengasumsikan bahwa kita hanya terfokus pada korupsi sekian puluh juta dan menafikan korupsi lain yang lebih besar, padahal maksudnya, jika yang kecil saja diberantas, apalagi yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 3 juga biasa menjadi sumber perdebatan. Pembatasan pornografi dibenturkan dengan kasus amoral yang lain konteks seolah-olah jika kita mendukung pembatasan pornografi akan membiarkan perbuatan amoral dilain konteks. Pernah ada seorang artis yang cenderung berpenampilan mesum yang berkata bahwa dia akan berhenti berbuat demikian jika seluruh pejabat sudah benar moralnya. Lha opo tumon. Tanpa bertanyapun semua orang tahu bahwa itu hal yang tidak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk contoh 4, korupsi dianggap sebagai masalah sistem. Perbaikan sistem merupakan operasi jangka panjang. Mungkin butuh puluhan tahun menjadikan sistem di Indonesia mampu mengeliminir peluang korupsi. Apa kita harus menunggu puluhan tahun untuk memberantasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya saya jadi teringat petuah lama, &amp;quot;Perjalanan 1000 mil (li, km, etc) dimulai dari langkah pertama&amp;quot;. Kalau kita tidak memulainya sekarang, lantas kapan lagi dong ah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Catatan yang mengalir dikepala saat menunggu proses kompilasi program &lt;img src=&quot;http://www.vavai.com/blog/templates/default/img/emoticons/smile.png&quot; alt=&quot;:-)&quot; style=&quot;display: inline; vertical-align: bottom;&quot; class=&quot;emoticon&quot; /&gt; . CMIIW. 
    </content:encoded>

    <pubDate>Fri, 14 Nov 2008 02:53:00 -0600</pubDate>
    <guid isPermaLink="false">http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/883-guid.html</guid>
    
</item>
<item>
    <title>Ruang Kantor : Antara Privacy dan Kinerja</title>
    <link>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/855-Ruang-Kantor-Antara-Privacy-dan-Kinerja.html</link>
            <category>Belajar</category>
            <category>Personal</category>
            <category>Work Stuff</category>
    
    <comments>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/855-Ruang-Kantor-Antara-Privacy-dan-Kinerja.html#comments</comments>
    <wfw:comment>http://www.vavai.com/blog/wfwcomment.php?cid=855</wfw:comment>

    <slash:comments>2</slash:comments>
    <wfw:commentRss>http://www.vavai.com/blog/rss.php?version=2.0&amp;type=comments&amp;cid=855</wfw:commentRss>
    

    <author>nospam@example.com (Muhammad Rivai Andargini)</author>
    <content:encoded>
    &lt;img hspace=&quot;5&quot; border=&quot;0&quot; align=&quot;left&quot; vspace=&quot;5&quot; src=&quot;http://www.vavai.com/uploads/privacy.jpg&quot; style=&quot;max-width: 800px; float: left; margin-top: 10px; margin-bottom: 10px; margin-right: 10px;&quot; alt=&quot;privacy&quot; /&gt;Salah satu request yang paling sering diajukan oleh staff IT ditempat saya adalah adanya ruangan khusus untuk bagian IT. Dengan jumlah personil sebanyak 8 orang termasuk saya, penggabungan bagian IT dengan bagian lain (HRD, GA dan operasional) dalam satu ruang terbuka dianggap kurang nyaman dan menyebabkan penurunan kinerja. Sulit berkonsentrasi jika suasana berisik akibat adanya bagian lain yang ada dalam 1 ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini benar ? Dulu saya beranggapan demikian. Adanya ruang khusus untuk bagian IT mutlak diperlukan agar bisa berkonsentrasi penuh. Selain itu, privacy lebih terjaga karena tidak tercampur dengan bagian lain. Syukur-syukur jika saya memiliki ruangan tersendiri yang terpisah dengan staff IT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata anggapan itu tidak sepenuhnya benar, meski mungkin dalam beberapa kasus memang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor lama di Cikarang, saya memiliki satu ruangan khusus untuk IT dan satu ruangan khusus untuk saya sendiri. Dengan ruangan selebar 4X4 M, saya cukup lapang untuk menempatkan berbagai barang. Privacy saya terjaga karena meja kerja saya menghadap pintu masuk dan dibelakang saya adalah kaca. Ruang kantor saya ada dilantai 2 sehingga kaca dibelakang saya tidak mungkin digunakan untuk melihat kedalam ruangan kecuali ada Spiderman yang sedang memanjat. Dari ruang kantor ini saya bisa melihat suasana lantai pabrik, termasuk proses pengerjaan barang-barang produksi mulai dari Raw Material (barang mentah), WIP (Work in Process atau Barang Setengah Jadi) hingga Finished Goods (barang jadi ). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/855-Ruang-Kantor-Antara-Privacy-dan-Kinerja.html#extended&quot;&gt;Continue reading &quot;Ruang Kantor : Antara Privacy dan Kinerja&quot;&lt;/a&gt;
    </content:encoded>

    <pubDate>Sun, 19 Oct 2008 15:27:30 -0500</pubDate>
    <guid isPermaLink="false">http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/855-guid.html</guid>
    
</item>
<item>
    <title>Jangan Menyesali dan Meratapi Kekurangan Hidup</title>
    <link>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/833-Jangan-Menyesali-dan-Meratapi-Kekurangan-Hidup.html</link>
            <category>Belajar</category>
            <category>Personal</category>
    
    <comments>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/833-Jangan-Menyesali-dan-Meratapi-Kekurangan-Hidup.html#comments</comments>
    <wfw:comment>http://www.vavai.com/blog/wfwcomment.php?cid=833</wfw:comment>

    <slash:comments>2</slash:comments>
    <wfw:commentRss>http://www.vavai.com/blog/rss.php?version=2.0&amp;type=comments&amp;cid=833</wfw:commentRss>
    

    <author>nospam@example.com (Muhammad Rivai Andargini)</author>
    <content:encoded>
    &lt;img vspace=&quot;5&quot; hspace=&quot;5&quot; border=&quot;0&quot; align=&quot;left&quot; style=&quot;max-width: 800px; float: left; margin-top: 10px; margin-bottom: 10px; margin-right: 10px;&quot; src=&quot;http://www.vavai.com/uploads/asa.jpg&quot; alt=&quot;leaf-asa kehidupan&quot; /&gt;Judul awal tulisan ini sebenarnya &amp;quot;Jangan Pasrah pada Kekurangan Hidup&amp;quot; namun pada saat hendak posting saya mengubahnya menjadi kalimat yang lebih tegas dan lebih &lt;i&gt;eye catching&lt;/i&gt; &lt;img src=&quot;http://www.vavai.com/blog/templates/default/img/emoticons/wink.png&quot; alt=&quot;;-)&quot; style=&quot;display: inline; vertical-align: bottom;&quot; class=&quot;emoticon&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan hidup itu banyak macamnya. Bisa lahiriah bisa batiniah. Bisa sejak lahir bisa juga karena keadaan. Apapun sebabnya, tak pantas dan tak guna kita meratapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda lahir dalam kondisi difabel (ada fungsi tubuh yang tidak dapat digunakan seperti umumnya orang lain), tak usah menyesali kondisi tersebut. Jangan juga menjadi rendah diri karena diperolok sebagai orang cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martabat manusia bukan pada sikap lahiriah semata. Orang yang memperolok kondisi difabel anda semestinya dikasihani karena dia hanya bisa menang dengan cara memperolok sesuatu diluar kuasa kita. Dia tak punya power dan alasan yang lebih real untuk bisa mengalahkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah menunggu uluran tangan dan rasa kasihan orang lain. Buktikan bahwa kita mampu hidup dan menghidupi orang lain. Menyesali kondisi yang sudah ada hanya akan meruntuhkan semangat dan membuat hidup kita lebih sulit untuk dijalani.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/833-Jangan-Menyesali-dan-Meratapi-Kekurangan-Hidup.html#extended&quot;&gt;Continue reading &quot;Jangan Menyesali dan Meratapi Kekurangan Hidup&quot;&lt;/a&gt;
    </content:encoded>

    <pubDate>Sun, 21 Sep 2008 09:38:19 -0500</pubDate>
    <guid isPermaLink="false">http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/833-guid.html</guid>
    
</item>
<item>
    <title>Mau Sukses ? Jangan Selalu Menuruti Setiap Keinginan !</title>
    <link>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/827-Mau-Sukses-Jangan-Selalu-Menuruti-Setiap-Keinginan-!.html</link>
            <category>Belajar</category>
            <category>Personal</category>
    
    <comments>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/827-Mau-Sukses-Jangan-Selalu-Menuruti-Setiap-Keinginan-!.html#comments</comments>
    <wfw:comment>http://www.vavai.com/blog/wfwcomment.php?cid=827</wfw:comment>

    <slash:comments>6</slash:comments>
    <wfw:commentRss>http://www.vavai.com/blog/rss.php?version=2.0&amp;type=comments&amp;cid=827</wfw:commentRss>
    

    <author>nospam@example.com (Muhammad Rivai Andargini)</author>
    <content:encoded>
    &lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;img vspace=&quot;5&quot; hspace=&quot;5&quot; border=&quot;0&quot; align=&quot;left&quot; style=&quot;max-width: 800px; float: left; margin-top: 10px; margin-bottom: 10px; margin-right: 10px;&quot; src=&quot;http://www.vavai.com/blog/uploads/successful-life.jpg&quot; alt=&quot;sucessful life&quot; /&gt;Dulu waktu saya masih kecil dan tinggal di Tambun-Bekasi, saya merasa bahwa orang hidup itu dibatasi oleh kemampuan. Dibatasi oleh harta benda dan kekayaan yang dimiliki. Kalau dia mau makan enak, dia harus punya uang banyak. Kalau dia mau sekolah tinggi, dia harus punya uang banyak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa sebal mengapa saya harus bangun pagi sedangkan teman saya yang lain bisa tidur hingga siang menjelang. Mengapa saya harus berbagi makanan sedangkan orang lain bisa makan berlebih. Mengapa saya harus menunggu lebaran untuk memiliki baju baru sedangkan orang lain bisa kapan saja, tiap ada waktu dan tiap dia mau bisa punya baju baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya senang sekali pada nasi rames yang dijual oleh restoran di dekat Pasar Tambun. Restoran itu pemiliknya keturunan Tionghoa. Disamping restorannya ada toko besar juga milik keturunan Tionghoa. Saya menulis soal keturunan disini bukan soal SARA karena anak pemilik toko itu teman saya. Gadis manis yang sekolah di SMPN 1 Tambun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal nasi rames itu, saya mesti menunggu ada acara tertentu baru orang tua saya membelikannya. Salah satu acara yang saya ingat adalah waktu saya sunat. Kata orang sunat itu sakitnya seperti digigit semut, ternyata bohong (hahaha...). Namanya anggota badan diiris (keiris atau teriris, sunatnya sama Bengkong atau dukun sunat) ya sakit dong ya. Untuk menghibur agar saya tidak menangis waktu sunat, orang tua saya membelikan nasi rames yang enak sekali. Nasinya putih, lembut dan pulen dengan lauk daging sapi. &lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/827-Mau-Sukses-Jangan-Selalu-Menuruti-Setiap-Keinginan-!.html#extended&quot;&gt;Continue reading &quot;Mau Sukses ? Jangan Selalu Menuruti Setiap Keinginan !&quot;&lt;/a&gt;
    </content:encoded>

    <pubDate>Thu, 18 Sep 2008 08:04:59 -0500</pubDate>
    <guid isPermaLink="false">http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/827-guid.html</guid>
    
</item>
<item>
    <title>Jangan Takut Menghadapi Hidup</title>
    <link>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/798-Jangan-Takut-Menghadapi-Hidup.html</link>
            <category>Belajar</category>
            <category>Personal</category>
    
    <comments>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/798-Jangan-Takut-Menghadapi-Hidup.html#comments</comments>
    <wfw:comment>http://www.vavai.com/blog/wfwcomment.php?cid=798</wfw:comment>

    <slash:comments>9</slash:comments>
    <wfw:commentRss>http://www.vavai.com/blog/rss.php?version=2.0&amp;type=comments&amp;cid=798</wfw:commentRss>
    

    <author>nospam@example.com (Muhammad Rivai Andargini)</author>
    <content:encoded>
    Artikel ini saya dedikasikan untuk Amat Bahar, bocah TK berumur 6 tahun yang tewas digantung bapaknya sendiri di Pekalongan, hanya karena bapaknya tak kuat menghadapi kemiskinan dan melakukannya atas dasar tuntutan ilmu hitam mencari kekayaan. Berita dari &lt;a href=&quot;http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=42994&amp;amp;ik=2&quot;&gt;Pos Kota&lt;/a&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi sekarang ini memang sulit. Uang sulit dicari. Biaya hidup bertambah sementara pendapatan malah tetap dan cenderung menyusut nilainya. Sebentar lagi Lebaran dan mungkin akan semakin banyak orang yang gelap mata menghalalkan segala cara untuk merayakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sulit, tidak semestinya kita sebagai manusia harus kalah pada hidup. Tidak selayaknya kita menyerah pada kesulitan hidup. Tiap orang punya kesulitan hidup masing-masing. Orang miskin merasa sulit karena tidak punya uang berlebih. Sudah berusaha dan bekerja keras namun tetap miskin. Iri pada orang kaya yang semakin kaya. Berusaha sedikit menghasilkan kekayaan, sementara si miskin sudah matimatian membanting tulang namun tetap hidup kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sangka orang yang kaya harta tidak memiliki kesulitan. Banyak orang kaya yang memiliki kesulitan hidup karena terjerat hutang, karena dapat musibah kebakaran, karena tiba-tiba keluarganya tersangkut kasus korupsi, karena sakit, karena kecelakaan dan ada banyak kesulitan hidup yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan hidup itu soal persepsi, soal cara pandang kita dalam menyikapi hidup. Jika kita memandang hidup kita ini sulit, dunia akan menjadi sempit. Akal jadi pendek dan kemampuan akan terbatas. Berusaha ini salah, berusaha itu salah. Keluar dari satu kesulitan malah menuai kesulitan disisi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubahlah cara pandang itu. Jangan iri hati pada orang lain karena iri itu sumber bencana dan sumber penyakit. Jika orang lain senang dan makmur, kita boleh kepingin tapi janganlah iri dan dengki. Doakan agar orang tersebut mendapat berkah dari kesenangan dan kemakmurannya dan semoga kita mendapat kebahagiaan dengan bentuk dan cara kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah merasa miskin dalam hidup. Jika anda sekarang hidup dari hutang yang satu ke hutang yang lain, dari tagihan kartu kredit yang satu ke kartu kredit yang lain, janganlah pernah putus asa dalam upaya menyikapi kesulitan hidup. Jika anda sekarang merasa miskin semiskin-miskinnya, inilah saat anda untuk memantul, untuk berbalik. Jika anda sudah merasa berada pada dasar kemiskinan karena harta anda hanya cukup (atau bahkan kurang) membayar hutang yang ada, inilah saat bagi anda untuk bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan merasa segala upaya yang sudah pernah anda lakukan sebagai sesuatu yang sia-sia. Pengalaman adalah harta yang tak pernah hilang. Jika anda pernah ditipu orang lain dalam usaha sehingga usaha anda bangkrut dan anda terlilit hutang piutang dan dikejar debt collector, jadikan pengalaman itu sebagai penguat. Hambatan yang tidak membuat anda mati adalah penguat vitalitas anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah menyesali setiap usaha untuk kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Gagal sekali itu soal biasa. Gagal berkali-kali juga bukan sesuatu yang luar biasa. Ingatlah selalu, bisa jadi gagal yang ada merupakan cara anda menghargai keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita memiliki kepandaian dan kemampuan, jika kita yakin pada kemampuan diri sendiri, mengapa kita harus takut tidak bisa mencari makan. Belajarlah dari binatang liar, mereka tidak tahu apakah dapat atau tidak makan siang hari ini namun mereka akan selalu berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang sampai mati dalam usahanya mempertahankan hidup. Jika itu yang terjadi, matilah dalam keadaan yang terhormat. Matilah dalam senyum karena kita sudah berusaha semaksimal mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keluarga berantakan, mengapa harus menghabiskan hari-hari untuk menyesalinya. Orang yang sukses dari keluarga baik-baik, terawat dan terjamin tidaklah istimewa. Jika anda sukses meski dari keluarga berantakan, orang akan melihat bahwa anda memang sukses karena kemampuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangkan gengsi jika anda merasa gengsi itu menghalangi anda menikmati hidup. Saya jauh lebih menghargai ibu-ibu bakul sayur yang bangun jam 3 pagi untuk belanja dan menjajakan sayur dipasar, meski hasil dan keuntungannya hanya sekian ribu atau sekian puluh ribu rupiah. Ibu-ibu bakul sayur itu memiliki keberanian hidup, bahwa hidup ini harus diperjuangkan bukan sekedar disesali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda menyesal mengapa lahir sebagai orang miskin dan bukan sebagai cinderella, anda akan menjadi miskin segala-galanya. Jika anda menyesali kelahiran anda karena orang tua anda bukan orang terkenal atau orang tua anda hanya seorang buruh atau orang tua anda hanya pelacur, anda akan selalu kesulitan sepanjang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran adalah takdir dan ada rencana yang maha kuasa dibalik itu semua. Tak usah menyesali kelahiran, tak usah menyesali keadaan. Jika orang tua anda hanya sanggup menyekolahkan sampai SMA, itu adalah bekal yang baik untuk memulai hidup anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekarang anda menjadi pekerja kasar atau  sebagai buruh pabrik atau bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau menjadi TKW , berupayalah menimba ilmu dan pendidikan. Lebih baik capek diawal namun memetik hasil akhir yang manis diakhir. Jika anda merasa capek menjalaninya, ingatlah, bahkan untuk kesehatan dan kesenanganpun orang kadang mencari rasa capek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika uang disaku hanya tinggal beberapa rupiah, pandanglah bahwa itu menjadi kekayaan awal yang akan anda tingkatkan. Menjadi modal dasar yang akan membuat anda sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang salah kaprah soal prinsip &amp;quot;nrimo&amp;quot; dengan mengasosiasikannya sebagai sikap &amp;quot;nrimo apa adanya&amp;quot;. Sesungguhnya tidak demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita memiliki kesulitan hidup, lakukanlah segala upaya positif untuk menaklukannya. Lakukan upaya, jangan lupa berdoa dan diakhir, barulah kita nrimo atas sikap dan upaya kita. Jangan marah, jangan jengkel dan jangan mengecam jika hasil yang ada berbeda dengan hasil yang diinginkan. Mungkin ada skenario lain dari yang maha kuasa terhadap hasil yang anda dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah takut menghadapi kesulitan hidup. Tetaplah tersenyum apapun hasil dari usaha dan doa yang sudah dilakukan. Orang tidak akan menderita selama-lamanya jika dia mau berusaha dan berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berusaha atau tidak, susah senang kita juga yang menjalaninya. 
    </content:encoded>

    <pubDate>Tue, 12 Aug 2008 03:08:06 -0500</pubDate>
    <guid isPermaLink="false">http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/798-guid.html</guid>
    
</item>
<item>
    <title>How to Make openSUSE 11.0 GM Live USB</title>
    <link>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/761-How-to-Make-openSUSE-11.0-GM-Live-USB.html</link>
            <category>Belajar</category>
    
    <comments>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/761-How-to-Make-openSUSE-11.0-GM-Live-USB.html#comments</comments>
    <wfw:comment>http://www.vavai.com/blog/wfwcomment.php?cid=761</wfw:comment>

    <slash:comments>0</slash:comments>
    <wfw:commentRss>http://www.vavai.com/blog/rss.php?version=2.0&amp;type=comments&amp;cid=761</wfw:commentRss>
    

    <author>nospam@example.com (Vavai-Net)</author>
    <content:encoded>
    &lt;p&gt;PS : Sorry for any inconvenience with grammar. It&#039;s part of my Lesson &lt;img src=&quot;http://www.vavai.net/templates/default/img/emoticons/wink.png&quot; alt=&quot;;-)&quot; style=&quot;display: inline; vertical-align: bottom;&quot; class=&quot;emoticon&quot; /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;openSUSE 11.0 with &lt;a href=&quot;http://news.opensuse.org/2008/06/19/sneak-peeks-at-opensuse-110-a-plethora-of-improvements/&quot;&gt;tons of  impovement&lt;/a&gt; has been &lt;a href=&quot;http://news.opensuse.org/2008/06/19/announcing-opensuse-110-gm/&quot;&gt;announced&lt;/a&gt; on June 19, 2008. Since then it was a busiest day for me : setting up a local mirror providing iso image for openSUSE fans in Indonesia, arrange openSUSE 11.0 release party and preparing &lt;a href=&quot;http://www.opensuse.or.id/&quot;&gt;Indonesian openSUSE community&lt;/a&gt; regular meeting on Saturday, June 21, 2008. We have planned all of these since last month but I must updated the planning with latest news and preparation.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Beside the planning, I also read some comments that noticed me with problem regarding &lt;a href=&quot;http://lizards.opensuse.org/2008/05/31/making-opensuse-110-liveusb-the-easiest-and-fastest-way/&quot;&gt;openSUSE LiveUSB tutorial&lt;/a&gt;. The tutorial used openSUSE 11.0 RC1 and the modified initrd as noticed on the tutorial doesn?t fit with the GM version.&lt;/p&gt;&lt;a href=&quot;http://lizards.opensuse.org/2008/06/20/how-to-makeopensuse-110-gm-version-live-usb/&quot;&gt;Continue Reading &amp;quot;How to Make openSUSE 11.0 GM Live USB&amp;quot;&lt;/a&gt; 
    </content:encoded>

    <pubDate>Fri, 20 Jun 2008 13:03:38 -0500</pubDate>
    <guid isPermaLink="false">http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/761-guid.html</guid>
    
</item>
<item>
    <title>Jangan Menyesali Kerja Keras</title>
    <link>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/746-Jangan-Menyesali-Kerja-Keras.html</link>
            <category>Belajar</category>
            <category>Personal</category>
    
    <comments>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/746-Jangan-Menyesali-Kerja-Keras.html#comments</comments>
    <wfw:comment>http://www.vavai.com/blog/wfwcomment.php?cid=746</wfw:comment>

    <slash:comments>17</slash:comments>
    <wfw:commentRss>http://www.vavai.com/blog/rss.php?version=2.0&amp;type=comments&amp;cid=746</wfw:commentRss>
    

    <author>nospam@example.com (Muhammad Rivai Andargini)</author>
    <content:encoded>
    Bukan sekali dua saya mendengar rekan yang berkata dengan lesu, &amp;quot;Haduh, sudah capek-capek mengerjakan ini dan itu hasilnya nggak berubah. Sudah berusaha datang tepat waktu, kerja rajin dan penuh antusias tapi nyatanya gaji nggak naik dan beban kerja bertambah...&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, waktu SMA di SMAN 2 Bekasi, rekan sebangku saya &lt;i&gt;misuh-misuh&lt;/i&gt; (menggerutu-vai) sehabis ujian Sejarah, &amp;quot;Sial, sudah jungkir balik menghapal sejarah bangsa kuno Sumeria dan Mesir kuno malah nggak ada yang keluar. Yang dihapali nggak keluar, yang nggak hapal malah keluar...&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya tersenyum mendengarnya. Bukannya menghibur, saya biasanya tambah mengompori dia supaya tambah menyesal, hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukannya tidak pernah mengalami hal yang sama : menghapal untuk ujian ternyata yang keluar bertolak belakang; Berusaha kerja keras tapi hasil yang didapat jauh dari yang diinginkan; Menulis artikel di blog dengan antusias dan penuh harapan menuai banyak komentar (halah) ternyata hanya ada 1-2 komentar, kadang malah tidak ada sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya menyesal ? Dulu ya, tapi sekarang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya pernah menyesal tak terhingga saat gagal ujian masuk ke sebuah institusi. Tahu institusinya ? Ya itu, IPDN &lt;img src=&quot;http://www.vavai.com/blog/templates/default/img/emoticons/smile.png&quot; alt=&quot;:-)&quot; style=&quot;display: inline; vertical-align: bottom;&quot; class=&quot;emoticon&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyesal karena sudah berusaha semaksimal mungkin mempersiapkan diri, termasuk olah raga keras dan belajar dengan semangat namun ternyata masih gagal juga. Saya pernah pulang dari Bandung dengan tatapan mata kosong, syahdu tanpa semangat. Menatap butir-butir hujan di kaca Bus Primajasa namun dengan tatap mata &lt;i&gt;hopeless&lt;/i&gt; sejak dari Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh waktu beberapa lama agar saya bisa kembali semangat dan tidak menyesali kegagalan saya masuk IPDN. Mungkin kalau jadi masuk IPDN saya bisa menjadi korban pukulan, hehehe... Sorry buat para alumni dan mahasiswa IPDN, saya bukan dendam pada kalian karena saya gagal masuk IPDN &lt;img src=&quot;http://www.vavai.com/blog/templates/default/img/emoticons/smile.png&quot; alt=&quot;:-)&quot; style=&quot;display: inline; vertical-align: bottom;&quot; class=&quot;emoticon&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kuliah, saya juga pernah terpuruk gara-gara cinta saya ditolak. Wuah, kok  buka kartu disini &lt;img src=&quot;http://www.vavai.com/blog/templates/default/img/emoticons/laugh.png&quot; alt=&quot;:-D&quot; style=&quot;display: inline; vertical-align: bottom;&quot; class=&quot;emoticon&quot; /&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah dengan lesu menerima kenyataan bahwa gadis yang saya sukai bilang, &amp;quot;Maaf ya Vai...&amp;quot;. Gubrak. Saya pulang ke tempat kost tanpa ingat jalan pulang. Terasa melayang, tahu-tahu saya sampai ditempat kost. Saya menyesali diri saya karena sudah berusaha semampunya namun tetap gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya saya menyadari bahwa tak ada yang perlu saya sesali. Kesadaran ini datang tiba-tiba ketika saya berpikir ulang, &amp;quot;Masih bagus saya sudah berusaha, artinya saya tidak menyesal karena sudah mencobanya...&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sudah berusaha menghapal pelajaran namun ujiannya beda dengan materi yang kita hapalkan, tak usah marah dan jengkel. Masih bagus kita sudah hapalkan namun meleset daripada tidak menghapal sama sekali dan meleset semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah menyesal berusaha menjadi pekerja yang baik, karyawan yang baik, pegawai yang baik, staff yang baik, PNS yang baik, pedagang yang baik dan lain sebagainya karena itu artinya kita sudah mencoba sesuatu yang benar. Kalaupun masih belum mencapai tujuan yang diinginkan, itulah bagian dari pembelajaran. Siapa tahu kalau hasilnya diterima saat itu juga, efeknya kurang baik buat dimasa mendatang. Siapa yang tahu kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pointnya adalah berusahalah semaksimal mungkin, soal hasil tak menjadi masalah. Mungkin kita gagal disatu kejadian karena yang maha pencipta sudah menyiapkan hasil yang jauh lebih baik. Mungkin kita menerima hasil yang kurang sesuai dengan keinginan karena dengan hasil tersebut kita terhindar dari bencana yang sudah mengintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang perlu disesali jika kita sudah berusaha secara optimal semampu yang kita bisa. Siapa yang bersungguh-sungguh niscaya akan berhasil. Kalau tidak percaya, lakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan lihat hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menyesali apa yang sudah terjadi dan jangan menyesali kerja keras yang dilakukan. Banggalah untuk itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note : Gadis yang bilang, &amp;quot;Maaf ya Vai...&amp;quot; itu sekarang jadi my beloved wife &lt;img src=&quot;http://www.vavai.com/blog/templates/default/img/emoticons/laugh.png&quot; alt=&quot;:-D&quot; style=&quot;display: inline; vertical-align: bottom;&quot; class=&quot;emoticon&quot; /&gt; 
    </content:encoded>

    <pubDate>Mon, 02 Jun 2008 09:04:28 -0500</pubDate>
    <guid isPermaLink="false">http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/746-guid.html</guid>
    
</item>
<item>
    <title>Making openSUSE 11.0 LiveUSB : The Easiest (and Fastest) Way</title>
    <link>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/742-Making-openSUSE-11.0-LiveUSB-The-Easiest-and-Fastest-Way.html</link>
            <category>Belajar</category>
    
    <comments>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/742-Making-openSUSE-11.0-LiveUSB-The-Easiest-and-Fastest-Way.html#comments</comments>
    <wfw:comment>http://www.vavai.com/blog/wfwcomment.php?cid=742</wfw:comment>

    <slash:comments>1</slash:comments>
    <wfw:commentRss>http://www.vavai.com/blog/rss.php?version=2.0&amp;type=comments&amp;cid=742</wfw:commentRss>
    

    <author>nospam@example.com (Vavai-Net)</author>
    <content:encoded>
    &lt;div style=&#039;&#039;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.vavai.com/blog/uploads/liveusb-2.png&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.vavai.com/blog/uploads/liveusb-1.jpg&quot; alt=&quot;LiveUSB desktop&quot; height=&quot;333&quot; width=&quot;500&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In earlier post, I&#039;m writing &quot;&lt;a href=&quot;http://lizards.opensuse.org/2008/05/21/opensuse-liveusb-with-kiwi/&quot;&gt;How to build openSUSE LiveUSB with Kiwi&lt;/a&gt;&quot; tutorial guide and thinking how to get same results with more easier tips.  Another distro came with easy trick to make a bootable LiveUSB and I think openSUSE should be &lt;img src=&quot;http://www.vavai.net/templates/default/img/emoticons/wink.png&quot; alt=&quot;;-)&quot; style=&quot;display: inline; vertical-align: bottom;&quot; class=&quot;emoticon&quot; /&gt; . Kiwi is a great tools for making openSUSE liveUSB, QEMU Image, VMWare Image, XEN Image and LiveCD Image but it would not fit with any situation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&#039;ve search various topics and found some of them looks pretty interesting to try. After reviewing some tips, here is a tutorial guide to make openSUSE 11.0 LiveUSB with the easiest way :&lt;br /&gt;&lt;h3&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;BENEFIT&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tutorial can be used on Linux or Windows&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do not need to install openSUSE onto hard disk for making LiveUSB as it was with KIWI. Just download the LiveCD ISO image and a tools for make an extract of ISO content (7-zip on Windows and mount -o loop tips on Linux)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Can used FAT 32 file system for interoperability (marketing hype &lt;img src=&quot;http://www.vavai.net/templates/default/img/emoticons/wink.png&quot; alt=&quot;;-)&quot; style=&quot;display: inline; vertical-align: bottom;&quot; class=&quot;emoticon&quot; /&gt; ) and mobility of data. Flash disk could be accessing by various OS&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Simple, only need a few step&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fast process, required a few minutes for copying ISO image and initrd process&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;a href=&quot;http://lizards.opensuse.org/2008/05/31/making-opensuse-110-liveusb-the-easiest-and-fastest-way/#more-38&quot;&gt;Continue Reading &quot;Making openSUSE 11.0 LiveUSB : The Easiest (and Fastest) Way&quot;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt; 
    </content:encoded>

    <pubDate>Fri, 30 May 2008 23:47:55 -0500</pubDate>
    <guid isPermaLink="false">http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/742-guid.html</guid>
    
</item>
<item>
    <title>OpenSUSE 10.3 LiveUSB Installation Guide</title>
    <link>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/727-OpenSUSE-10.3-LiveUSB-Installation-Guide.html</link>
            <category>Belajar</category>
    
    <comments>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/727-OpenSUSE-10.3-LiveUSB-Installation-Guide.html#comments</comments>
    <wfw:comment>http://www.vavai.com/blog/wfwcomment.php?cid=727</wfw:comment>

    <slash:comments>0</slash:comments>
    <wfw:commentRss>http://www.vavai.com/blog/rss.php?version=2.0&amp;type=comments&amp;cid=727</wfw:commentRss>
    

    <author>nospam@example.com (Vavai-Net)</author>
    <content:encoded>
    &lt;div class=&quot;entry&quot;&gt;&lt;p&gt;&lt;a title=&quot;LiveUSB Sysinfo&quot; href=&quot;http://www.vavai.net/uploads/liveusb-sysinfo.png&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.vavai.net/uploads/liveusb-sysinfo-kecil.jpg&quot; alt=&quot;liveusb sysinfo&quot; height=&quot;372&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;As mentioned on &lt;a href=&quot;http://lizards.opensuse.org/2008/05/19/playing-with-opensuse-on-liveusb-stick/&quot;&gt;previous post&lt;/a&gt;, today I?m playing with LiveUSB creation. &lt;a href=&quot;http://en.opensuse.org/User:Coolo&quot;&gt;Coolo&lt;/a&gt;, our lovely (and busy &lt;img src=&quot;http://lizards.opensuse.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif&quot; alt=&quot;;-)&quot; class=&quot;wp-smiley&quot; /&gt; ) openSUSE project manager discard his experimental test of making LiveUSB due to various specific problem with the USB.&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;I released factory snapshots of USB and CD images - the USB shows just too many USB specific problems to be worthy, so I kind of decided to kill this idea again ;-( &lt;a href=&quot;http://lists.opensuse.org/opensuse-factory/2008-05/msg00455.html&quot;&gt;More?&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Before taking &lt;a href=&quot;http://klik.atekon.de/wiki/index.php/CustomizeSUSELive&quot;&gt;the tutorial&lt;/a&gt; mentioned by Luiz Fernando, I?m trying with &lt;a href=&quot;http://en.opensuse.org/Live_USB_stick&quot;&gt;KIWI LiveUSB stick tutorial&lt;/a&gt;. I?ve followed the tutorial last month but the process unfinished yet due to the complaining from KIWI that the image doesn?t fit on my 2 GB USB Flash Disk. At the moment, I was stopped the process and planned to continue after buying another bigger flash disk. I take this conclusion with the assumption KIWI need more than 2 GB of USB disk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Today I used same tutorial with another assumption &lt;img src=&quot;http://lizards.opensuse.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif&quot; alt=&quot;;-)&quot; class=&quot;wp-smiley&quot; /&gt; , probably the problem occurred due to the annoying bug with KIWI in earlier version, not with the size of USB disk. KIWI using same image used by LiveCD (about 700 MB), so, 2 GB of USB disk should be fit with the requirement of KIWI for building live USB stick.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;http://lizards.opensuse.org/2008/05/21/opensuse-liveusb-with-kiwi/#more-28&quot; class=&quot;more-link&quot;&gt;Continue Reading &quot;OpenSUSE 10.3 LiveUSB Installation Guide&quot;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; 
    </content:encoded>

    <pubDate>Tue, 20 May 2008 23:20:29 -0500</pubDate>
    <guid isPermaLink="false">http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/727-guid.html</guid>
    
</item>
<item>
    <title>Pelajaran Tentang Integritas Pribadi</title>
    <link>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/696-Pelajaran-Tentang-Integritas-Pribadi.html</link>
            <category>Belajar</category>
            <category>Personal</category>
    
    <comments>http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/696-Pelajaran-Tentang-Integritas-Pribadi.html#comments</comments>
    <wfw:comment>http://www.vavai.com/blog/wfwcomment.php?cid=696</wfw:comment>

    <slash:comments>10</slash:comments>
    <wfw:commentRss>http://www.vavai.com/blog/rss.php?version=2.0&amp;type=comments&amp;cid=696</wfw:commentRss>
    

    <author>nospam@example.com (Muhammad Rivai Andargini)</author>
    <content:encoded>
    &lt;img hspace=&quot;5&quot; border=&quot;0&quot; align=&quot;left&quot; vspace=&quot;5&quot; src=&quot;http://www.vavai.com/blog/uploads/Kolibri.jpg&quot; style=&quot;max-width: 800px; float: left; margin-top: 10px; margin-bottom: 10px; margin-right: 10px;&quot; alt=&quot;kolibri&quot; /&gt;Pekan ini ada pengalaman menarik seputar pentingnya integritas pribadi dan soal &amp;quot;Tidak usah takut tidak bisa hidup karena kita jujur...&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekali dua saya mendengar orang yang bicara, &amp;quot;Cari rezeki yang haram saja susah, apalagi yang halal&amp;quot;. Padahal, haram dan halal adalah pilihan feasible bukan hanya dari sisi agama namun juga untuk kebaikan kita semua. Jalan hancur, jembatan runtuh dan rusaknya fasilitas umum karena dibangun secara asal-asalan adalah contoh nyata bagaimana cara dan proses yang tidak baik menghasilkan produk yang buruk. Bukankah sudah menjadi rahasia umum jika biaya pembangunan di Indonesia lebih banyak yang terserap untuk biaya siluman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada integritas dan filosofi halal-haram, awal pekan ini saya dihubungi oleh 2 orang rekan &lt;a href=&quot;http://www.opensuse.or.id&quot;&gt;OpenSUSE-ID&lt;/a&gt; yang meminta saya membantu mereka melakukan setup sistem disebuah perusahaan di Cakung. Perusahaan ini sudah mendapat surat cinta dari Mabes Polri dan sekarang mereka sedang kalang kabut hendak melakukan migrasi. Meski jumlah komputer relatif kecil, hanya berkisar pada angka 60-an, biaya untuk lisensi software proprietary semacam Windows dan Microsoft Office akan membuat mereka mengeluarkan biaya berkali-kali lipat daripada solusi open source.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga agar proses migrasi ini berjalan mulus, pihak perusahaan menghubungi teman saya untuk proses konsultasi dan implementasi. Karena migrasi juga berkaitan dengan perubahan sistem Visual FoxPro agar bisa berjalan (atau di migrasi ke Java) di Linux, si teman meminta saya membantunya karena latar belakang saya yang bertahun-tahun menjadi programmer FoxPro dan Visual Basic. (Bertahun-tahun bukan jaminan jadi programmer jempolan, hehehe... Cuma menang lama sahaja..) &lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/696-Pelajaran-Tentang-Integritas-Pribadi.html#extended&quot;&gt;Continue reading &quot;Pelajaran Tentang Integritas Pribadi&quot;&lt;/a&gt;
    </content:encoded>

    <pubDate>Fri, 25 Apr 2008 22:39:15 -0500</pubDate>
    <guid isPermaLink="false">http://www.vavai.com/blog/index.php?/archives/696-guid.html</guid>
    
</item>

</channel>
</rss>