Logical Fallacy Part I • Friday, November 14. 2008
Saya sering mendengar orang melakukan execuse atas suatu perbuatan dengan membandingkannya pada hal lain yang tidak relevan namun dianggap dapat dijadikan sebagai alasan.Contoh 1 :
"Wajar dong dia meletakkan batang besi di rel kereta api agar kereta api terguling dan dia mendapat barang-barang dari penumpang kereta yang celaka, karena jaman sekarang ini ekonomi susah dan pemerintah seharusnya bertanggung jawab mengatasi kemiskinan"
Contoh 2 :
"Kenapa koruptor yang cuma sekian puluh juta sementara yang ratusan miliar atau triliun tidak diburu..."
Contoh 3 :
"Kenapa harus mengurusi pornografi di TV, padahal ada lebih banyak kasus yang lebih porno. Kenapa nggak mengurusi anggota dewan yang kelihatan suci tapi ternyata ada yang selingkuh dan juga menjadi aktor film porno di handphone ?"
Contoh 4 :
"Korupsi terjadi karena masalah sistem pemerintahan. Siapapun yang menjabat pasti akan terindikasi dan tergoda untuk korupsi karena sistemnya bobrok. Bukan salah mereka korupsi karena sistem sendiri membuka peluang untuk korupsi. Perbaiki sistem terlebih dahulu baru gembar-gembor korupsi"
Ungkapan-ungkapan diatas sekilas terlihat benar padahal mengandung logika yang salah. Ungkapan yang disampaikan memiliki asumsi bahwa penanganan suatu masalah merupakan satu hal terpisah. Jika kita berpendapat A, seolah-olah kita hanya berpendapat A.
Jika kita bilang bahwa koruptor, meski hanya korupsi sekian puluh juta dihukum, logika diatas akan mengasumsikan bahwa kita hanya terfokus pada korupsi sekian puluh juta dan menafikan korupsi lain yang lebih besar, padahal maksudnya, jika yang kecil saja diberantas, apalagi yang besar.
Contoh 3 juga biasa menjadi sumber perdebatan. Pembatasan pornografi dibenturkan dengan kasus amoral yang lain konteks seolah-olah jika kita mendukung pembatasan pornografi akan membiarkan perbuatan amoral dilain konteks. Pernah ada seorang artis yang cenderung berpenampilan mesum yang berkata bahwa dia akan berhenti berbuat demikian jika seluruh pejabat sudah benar moralnya. Lha opo tumon. Tanpa bertanyapun semua orang tahu bahwa itu hal yang tidak mungkin.
Untuk contoh 4, korupsi dianggap sebagai masalah sistem. Perbaikan sistem merupakan operasi jangka panjang. Mungkin butuh puluhan tahun menjadikan sistem di Indonesia mampu mengeliminir peluang korupsi. Apa kita harus menunggu puluhan tahun untuk memberantasnya.
Pada akhirnya saya jadi teringat petuah lama, "Perjalanan 1000 mil (li, km, etc) dimulai dari langkah pertama". Kalau kita tidak memulainya sekarang, lantas kapan lagi dong ah...
* Catatan yang mengalir dikepala saat menunggu proses kompilasi program
Posted by Muhammad Rivai Andargini in Belajar, Personal Comment: (1) Trackbacks: (0)
Salah satu request yang paling sering diajukan oleh staff IT ditempat saya adalah adanya ruangan khusus untuk bagian IT. Dengan jumlah personil sebanyak 8 orang termasuk saya, penggabungan bagian IT dengan bagian lain (HRD, GA dan operasional) dalam satu ruang terbuka dianggap kurang nyaman dan menyebabkan penurunan kinerja. Sulit berkonsentrasi jika suasana berisik akibat adanya bagian lain yang ada dalam 1 ruangan.
Judul awal tulisan ini sebenarnya "Jangan Pasrah pada Kekurangan Hidup" namun pada saat hendak posting saya mengubahnya menjadi kalimat yang lebih tegas dan lebih eye catching 
. Nick name Muhammad Rivai Andargini, nama yang dipakai sejak SMP dan sekarang menjadi nama anak
. Tinggal di Bekasi, Bekerja di Jakarta. Minat pada Linux dan dunia Open Source, Membaca, Hiking dan Avonturir.
Sat, 31.03.2012 10:15
Subhanallah... terimakasih sud ah diingatkan, bahwa kita seba gai orang tua harus senantiasa sabar dan telaten menjawab be rbagai pertanyaan anak2 kita y ang kadang sangat luar biasa, (sampai binggung menjawabnya)