
Pagi ini adalah pagi yang istimewa buat
Zeze Vavai karena hari ini adalah hari pertama Zeze Vavai ikut shalat Idul Fitri. Tahun lalu Zeze Vavai dan mamanya tidak ikut shalat Ied karena Zeze Vavai tertidur kecapaian habis takbiran semalam suntuk.
Semalam, setelah pulang bersilaturahmi dari rumah orang tua saya di Tambun-Bekasi, saya mengajak Zeze Vavai tidur meski dia masih ingin main games dor-dor-dor (Counter Strike) dan Ayodance. Sayapun menekan keinginan saya untuk main games Age of Empires III, The Asian Dynasty versi Trial. Game lama sebenarnya tapi saya baru download dan memainkannya menggunakan laptop isteri saya yang diisi Windows XP lisensi kantor. The Asian Dynasty ini menyenangkan bagi saya karena saya mengenal tokoh-tokohnya seperti Daimyo Mototada dan Tokugawa Ieyasu. Sayangnya game ini dimulai sejak Taiko Toyotomi Hideyoshi wafat dan lebih menekankan aspek persaingan Jenderal Ishida Mitsunari dengan Tokugawa Ieyasu (yang berakhir dengan kemenangan Ieyasu dalam pertempuran Sekigahara. Babak akhir pertempuran Sekigahara ini mengawali cerita tentang Samurai : Miyamoto Musashi), padahal saya justru memfavoritkan Hideyoshi.
Tadi pagi Zeze Vavai sudah bangun waktu Shubuh karena saya berulang-ulang bilang padanya bahwa pagi ini Zeze Vavai akan saya ajak ke lapangan untuk shalat. Di hari biasa, lapangan ini tempat favorit Zeze Vavai untuk bermain karena sejuk dan luas.
Kami sekeluarga (Saya, Zeze Vavai, mamanya dan keluarga isteri) berangkat sekitar jam setengah 7. Ternyata Zeze Vavai takut shalat melihat orang sangat banyak. Oalah, saya mencari berbagai cara agar dia tidak kabur saat shalat

Untungnya saya sempat mengantongi lemper isi daging ayam dan mengambil Aqua gelas sebagai tindakan jaga-jaga. Saya juga membujuknya agar tetap mau ditempat dengan cara melakukan berbagai hal, mulai dari memberitahunya saat ada pesawat terbang, menanyakannya soal dimana posisi penjual es kelapa muda, dimana pohon kelapa, dimana posisi speaker, mencabut rumput hingga membiarkannya mengeluarkan seluruh isi dompet dan menyusun kartu ATM.
Meski sempat merengek hendak pulang, upaya saya sukses meski saya shalat Ied sambil menggendongnya.

Sayangnya, khatib shalat idul fitri kurang fokus dan kurang membumi dalam menyampaikan khutbahnya. Saya selalu menekankan hal ini karena buat apa khutbah panjang-panjang tanpa dipahami oleh jamaah (audiensnya). Buat apa juga khutbah menggunakan istilah sulit dan analogi yang jauh. dalam bahasa saya, mengucapkan : "Marilah kita tingkatkan keimanan kita" kurang membumi dibandingkan dengan : "Jangan lupa untuk bersilaturahmi pada tetangga. Ingat, tetangga adalah orang yang menjadi saudara kita terdekat saat kita tinggal sehari-hari". Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa kita harus meningkatkan keimanan sebagai sesuatu yang salah namun itu hendaknya diperjelas dengan bentuk konkrit cara melakukannya.
Setelah bersilaturahmi dengan tetangga, rencananya siang ini saya akan mudik ke kampung halaman isteri di Brebes yang kemudian dilanjutkan dengan meluncur ke Salatiga. Rutenya adalah : Bekasi - Brebes - Purwokerto - Kebumen - Purworejo - Yogya - Solo - Salatiga - Semarang - Brebes - Bekasi. Bisa dibilang rute ini mengulang perjalanan tahun lalu yang berangkat dari jalur selatan dan pulang lewat jalur utara.
Mudah-mudahan lebaran tahun ini bisa berjumpa lagi dengan Maseko di alun-alun kota Brebes, Main ke Kebumen, bertemu dengan Thomas Arie, Yanarief dkk di Yogya dan main ke pesantren KH Mahfudz Ridwan (Ponpes Edi Mancoro Gedangan Salatiga) yang sebenarnya paman dari bapak mertua saya sendiri.
Selamat hari raya Idul Fitri 1429 H. Semoga masa mendatang memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi kita semua.
Taqoballahu Mina Waminkum, Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.