
Sepulang dari Surabaya, saya jadi ingat
PestaBlogger 2008. Ingat PestaBlogger 2008 jadi ingat pada tulisan mas Harry beberapa waktu yang lalu soal
"Blogger Tertua di Indonesia ?"Tentu saya tidak bermaksud mencari sesuatu untuk mengungguli atau mengalahkan mertua mas Harry, hehehe... Saya hanya kepikiran dengan kegiatan saya waktu di Surabaya, yaitu menjumpai penulis buku favorit saya, pak Suparto Brata.
Pak Suparto Brata memiliki 2 buah blog (
http://supartobrata.com dan
http://supartobrata.blogspot.com) dan sekarang usianya sudah 76 tahun (kelahiran tahun 1932). Meski beliau selalu mengaku gaptek pada saya dan setting themes blognya dibantu oleh putranya, namun saya melihat beliau cukup aktif menulis di blog. Email-email saya juga dibalas langsung oleh beliau karena kentara dari tulisan dan pemilihan diksinya. Dalam usianya yang sudah 76 tahun, beliau masih sangat aktif menulis (sehari 8 lembar tulisan, 1 bulan biasanya 1 buah novel).
Dalam rangka PestaBlogger 2008, mungkin ada baiknya panitia menghadirkan pak Suparto Brata dan pak Munir Taher sebagai pembicara karena keduanya benar-benar mencirikan seorang blogger sejati. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari keduanya. Saya akan dengan senang hati membantu jika memang ada niat untuk menghadirkannya.

Terkait dengan tema "Blogging for Society", pak Suparto Brata juga punya visi sosial kemasyarakatan dalam menjadikan anak bangsa sebagai bangsa yang cerdas dan maju, yaitu dengan memasyarakatkan kegiatan membaca dan menulis. Visinya ini tergambar di artikel blog, dalam isi seminar maupun saat berbincang dengan saya.
Saya tertawa geli waktu membaca tulisan pak Suparto tentang cara mengalahkan Jepang terkait dengan kegiatan membaca dan menulis,
"Kalau kurikulum Indonesia diterapkan di Jepang, saya percaya, maka 10 tahun kemudian bangsa Jepang akan menjadi bangsa yang BODOH, PRIMITIF seperti bangsa kita. Oleh karena itu kalau bangsa Indonesia mau mengalahkan bangsa Jepang, hendaklah usul kepada pemerintah Jepang agar mengeterapkan kurikulum Indonesia di Negeri Jepang. Saya tanggung orang Jepang bakal terpuruk primitif seperti bangsa kita sekarang, dan mungkin bisa kita kalahkan dalam segala bidang kehidupan abad ke-21 ini." Taken from
"Donyane Wong Culika Jilid II"Baca juga ketajaman pandangan pak Suparto Brata di artikel yang sama :
"Antara lain saya kisahkan lelakon Steffy Tjia (etnis Cina), ketika masih jadi pelajar SMP di Malang sering bermain-main di markas IPI (Ikatan Pelajar Indonesia) yang juga jadi markas TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Pagi hari Selasa 21 Juli 1947 ketika anak-anak TRIP di situ sedang bangun tidur dan malas-malasan (Malang dingin sekali), maka markas TRIP dan biro perjuangan lain di sekitar Jl. Salak/Ijen Boulevard itu diserbu oleh tentara Belanda. Penyerbuan yang tidak terduga tadi menimbulkan banyak kurban (lebih dari 30 anak TRIP gugur, kemudian dikuburkan dalam satu luangan, hal ini kisah nyata). Ada yang lolos, salah satunya Steffy Tjia (ST). Melihat teman-temannya gugur tidak semena, dia menaruh dendam, memimpin gerilya di daerah Kepanjen, Sumberpucung sampai Blitar, merepotkan pasukan Belanda yang bernama Huzaren van Boreel. Kedaulatan NKRI kembali (1949), ST tidak jadi petinggi negara, tapi melanjutkan studi atas biaya negara di Chicago.
Akhirnya dia jadi dokter spesial kanak-kanak, dan sempat disuruh memimpin Medical Center Hospital di Chicago, sukses. Untuk jabatan yang ke-dua, dia menolak, karena ingin berbakti kepada bangsanya, dan mendirikan RS di Jakarta (1964). Dibantu oleh alumninya diberi alat-alat elektro medis yang paling canggih di Indonesia, supaya anak-anak Indonesia jadi tumbuh sehat. RSnya berlangsung baik, namun waktu itu PKI sedang bergolak, semua yang berbau Amerika adalah musuh rakyat. RS-nya ST diserbu, alat-alatnya dirusak, ST sendiri luka parah, lari dari RS-nya, jatuh ke pangkuan seorang pelacur (Pratinah). Kepada Pratinah dia bilang, "Bangsa Indonesia ini nekrofilia, yaitu berpotensi membangun, tetapi digerogoti sendiri oleh kekuatan bangsanya sendiri". Itulah nekrofilia. Negeri ini banyak orang curang yang menggerogoti potensi membangun bangsa. Karena itu buku saya saya juduli Negerinya Orang Curang, nekrofilia, Donyane Wong Culika."

So, para blogger muda, ada banyak pengalaman hidup yang bisa disarikan dari visi para blogger yang berusia diatas kita.
Catatan : Ilustrasi foto diambil dari FLICKR pak Suparto Brata waktu menerima penghargaan S.E.A Write Award dari Pemerintah Thailand
.