
Dulu waktu saya masih kecil dan tinggal di Tambun-Bekasi, saya merasa bahwa orang hidup itu dibatasi oleh kemampuan. Dibatasi oleh harta benda dan kekayaan yang dimiliki. Kalau dia mau makan enak, dia harus punya uang banyak. Kalau dia mau sekolah tinggi, dia harus punya uang banyak.
Saya merasa sebal mengapa saya harus bangun pagi sedangkan teman saya yang lain bisa tidur hingga siang menjelang. Mengapa saya harus berbagi makanan sedangkan orang lain bisa makan berlebih. Mengapa saya harus menunggu lebaran untuk memiliki baju baru sedangkan orang lain bisa kapan saja, tiap ada waktu dan tiap dia mau bisa punya baju baru.
Dulu saya senang sekali pada nasi rames yang dijual oleh restoran di dekat Pasar Tambun. Restoran itu pemiliknya keturunan Tionghoa. Disamping restorannya ada toko besar juga milik keturunan Tionghoa. Saya menulis soal keturunan disini bukan soal SARA karena anak pemilik toko itu teman saya. Gadis manis yang sekolah di SMPN 1 Tambun.
Soal nasi rames itu, saya mesti menunggu ada acara tertentu baru orang tua saya membelikannya. Salah satu acara yang saya ingat adalah waktu saya sunat. Kata orang sunat itu sakitnya seperti digigit semut, ternyata bohong (hahaha...). Namanya anggota badan diiris (keiris atau teriris, sunatnya sama Bengkong atau dukun sunat) ya sakit dong ya. Untuk menghibur agar saya tidak menangis waktu sunat, orang tua saya membelikan nasi rames yang enak sekali. Nasinya putih, lembut dan pulen dengan lauk daging sapi.
Karena enaknya, saya pernah berpikir bahwa kalau nanti saya sudah bekerja, saya akan makan nasi rames sepuasnya. Kalau perlu, pagi siang dan sore saya hanya makan nasi rames.
Setelah saya bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, saya memang bisa membeli apa yang saya inginkan tapi tidak berarti apa yang saya niatkan sejak kecil itu terlaksana. Selain karena restorannya sudah tutup, makan itu kan hanya sekedar rasa ingin. Kalau sudah makan sepiring, dikasih makanan enak lain juga akan menolak.
Saya pernah makan meski saya tidak kepingin. Badan malah jadi tidak keruan. Jadi obesitas malah bikin gerakan jadi lamban, mudah capek dan susah berpikir. Saya pikir kalau badan jadi membesar saya bisa mengecilkannya dengan cara berolah raga, ternyata kalau badan sudah membesar, olah raga sebentar langsung capek. Akibatnya malah tambah malas olah raga.

Setelah kuliah dan ambil kost di pusat kota Bekasi, saya bisa tidur selama saya mau. Tak ada yang melarang saya tidur melewati waktu Shubuh hingga bangun jam 9 atau 10 pagi. Namanya anak kost, santai saja. Meski demikian, apakah saya puas ? Ternyata tidak. Saya malah pusing kebanyakan tidur.
Dari situ saya bisa belajar, oh ternyata kita harus punya batasan. Tidak boleh selalu menuruti setiap keinginan. Bukan karena kita tidak mampu melainkan batasan itu sebagai penyelamat kita. Batasan itu soal pilihan. Kita bisa memilih untuk memberi batasan atau malah mengabaikannya. Semua terserah kita karena kita sendiri yang menanggungnya.
Saya melihat dan memperhatikan, setiap orang sukses itu punya proses. Punya kondisi. Punya ciri-ciri tertentu. Bukan orang yang semena-mena. Bukan orang yang bablas wae. Bukan orang yang diperbudak oleh keinginan. Setiap orang yang sukses itu punya prinsip, punya pegangan hidup dan punya kedisiplinan.
Kalau ada orang sukses tanpa ujung pangkal, itu pasti sukses karbitan. Tidak persistent. Tidak permanen. Ibarat distro Linux LiveUSB dari file iso, perubahannya tidak kekal. Bisa menyimpan perubahan tapi dalam sekejap bisa hilang kembali.
Orang hidup itu punya, boleh dan harus memilih. Pilihan itu yang menentukan apakah nantinya sukses atau tidak. Apakah nantinya hidup enak kepenak atau hidup melarat. Apakah nantinya hidup nyaman tenteram atau hidup terlunta-lunta.
Jangan takut untuk berjuang demi hidup. Jangan takut berkorban kesenangan untuk sukses. Kesenangan itu soal pikiran dan soal mindset. Analoginya, kalau kita biasa makan sahur untuk berpuasa, mungkin kita akan takut nggak kuat jika satu waktu bangun kesiangan dan tidak sempat sahur. Ini juga soal mindset. Kita pasti kuat jika kita yakin kalau kita kuat berpuasa tanpa sahur, tapi kalau kita kalah pada keinginan lapara, haus dan godaan hati, niscaya kita tidak akan kuat.
Tidur dan mengantuk juga soal mindset. Kalau kita bilang cukup tidur 4 jam niscaya akan cukup. Disisi lain, ada orang yang tidur > 8 jam tapi selalu mengantuk. Bagaimana dengan anda ? Jika selalu mengantuk dan merasa tidur kurang, bagaimana jika kita tidur tanpa pernah bisa bangun lagi ??
Sukses dan kebahagiaan hidup memerlukan kedisiplinan dan kemauan kita. Jangan mau mengorbankan kesuksesan dan kebahagiaan hanya karena selalu menuruti setiap keinginan...
Catatan : Ilustrasi gambar 1 diambil dari
sini sedangkan ilustrasi gambar 2 diambil dari
sini.