Wawancara dengan Majalah Tempo


:: Feed Reader & Email Subscription ::

Kamu bisa membaca Blog Vavai menggunakan feed reader. Gunakan alamat feed reader ini. Kamu juga bisa mendapatkan email notifikasi setiap ada update pada blog ini. Silakan klik disini untuk mendaftar notifikasi.

Wawancara dengan Majalah TempoMonday, August 4. 2008


Trackbacks

No Trackbacks

Comments
Display comments as (Linear | Threaded)

wah, selamet yach mas vavai, udah di wawancarai sama tempo...moga zimbra dan opensuse menjadi pasangan yang serasi....
#1 yamin on 2008-08-04 09:36 (Reply)
Mau tanya kalau utk zimbra desktop tidak bisa running di belakang proxy server ya? Adakah caranya supaya bisa running di belakang proxy server?
#2 edwin on 2008-08-06 03:50 (Reply)
sebelumnya saya ucapkan selamat, ya...
saya sudah baca majalah tempo edisi baru...
artikel tentang zimbra di mjlh tempo, pembukaannya ada nama anda, mas :-)
sekali lagi selamat, dah jadi nara sumber buat mjlh fave saya =D
#3 thimbu (Homepage) on 2008-08-06 23:36 (Reply)
Tentang ZIMBRA kan Om Vavai?
Waktu saya baca Majalah TEMPO kemaren (iya, di Banda Aceh datengnya selalu telat hihi.. apalagi saya jg bacanya kapan sempat) kaget juga. Masim Vavai Sugianto? di artikel Email pembunuh-samting!

Wah.. ini kan Om Vavai papanya si Zeze Vavai? Arggh.. baca terus ternyata memang bener yg dimaksud Om Vavai. Selamat, Om Vavai udah jadi selebritas. :-D
#4 Abe (Homepage) on 2008-08-07 04:09 (Reply)
Yap, betul sekali boss Abe. Itu soal Zimbra, meski namanya terbalik (Vavai Masim Sugianto, :-D )

Kata isteri saya, kenapa foto yang ada itu fotonya Jerry Yang, hehehe... Kalau foto saya nanti bisa merusak kualitas Majalah Tempo :-D
#4.1 Vavai (Homepage) on 2008-08-07 04:18 (Reply)
Redaksi Tempo Yth.
Saya ingin mengomentari laporan utama Tempo tanggal 1 September 2008 berjudul "Mencari Hulu "Rasuah" Itu.
Sebelumnya minta maaf jika salah akses.

Kerasnya sikap Bu Miranda pada waktu digelar diskusi Bank Gelap pada tanggal 22 Juni 2005 menurut pendapat saya ada dua penyebab. Pertama, sebelum dilakukan pengkajian sudah muncul prejudice dari salah satu pakar hukum sendiri, yaitu menyarankan agar kajian hukum terhadap Kavling Serasi menggunakan pula hati nurani, padahal Bu Miranda sudah wanti-wanti agar semua pendapat dilakukan melalui kajian ilmiah. Penyebab kedua karena adanya perdebatan yang berkembang tentang topik yang sudah jelas. Yang dimaksud sudah jelas menurut saya begini : bahwa praktek-praktek yang dilakukan oleh badan hukum atau perseorangan yang bukan bank adalah bukan wewenang Bank Indonesia untuk melarangnya, hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang N0.13 Tahun 1968 tentang Bank Indonesia bahwa BI hanya berwenang terhadap bank. Sedangkan beberapa peserta menginginkan BI melakukan tindakan tegas.
Suasana tambah panas karena sebagian peserta tidak sependapat dengan paparan ahli hukum. Para ahli hukum berkesimpulan bahwa Kavling Serasi yang dijual dengan opsi dan menggunakan surat berharga (debenture) sudah sesuai dengan bidang usaha Lippo Cikarang maupun Lippo Karawaci (usaha di bidang property). Disimpulkan pula bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai bank karena tidak menerima dana masyarakat dalam bentuk simpanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 ayat (5) Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Simpanan yang dapat dipersamakan dengan giro, deposito dan tabungan, menurut para pakar adalah apabila penyimpan menyerahkan uang kepada bank dan bank wajib mengembalikan dalam bentuk uang juga. Sedangkan Kavling Serasi, pembeli kavling menyerahkan uang dan penjual kavling wajib menyerahkan kavling (bukan uang). Bahwa dalam pola penjualan tersebut ada hak opsi bagi pembeli untuk menerima kembali uang berikut bunga, itu karena sifat penjualannya dengan hak opsi, yaitu opsi batal di tengah jalan jika kelak pembeli kavling mengalami gangguan cash flow-nya. Produk ini di Indonesia belum populer, tidak seperti produk-produk pasar valuta asing atau pasar uang. Di sana sudah ada produk serupa ini seperti currency option. Mengingat produk debenture tersebut di Indonesia belum populer namun Grup Lippo telah memasarkannya, saya tertarik untuk mencari tahu, dan berdasarkan hasil kajian saya ternyata ceritanya agak panjang. Konon pada tahun 1998-1999 Grup Lippo kesuliatan likuiditas seperti yang dialmai oleh hampir seluruh perusahaan di Indonesia saat kita masih krisis ekonomi. Untuk mengatasinya, Grup Lippo memasarkan kavling-kavling (yang siap bangun ada di Taman Serasi Lippo Cikarang sehingga populer dengan sebutan kavling serasi). Tetapi upaya penjualan tidak membuahkan hasil karena lesunya ekonomi Indonesia. Nah dicobalah dengan pola penjualan yang mana kepada pembeli diberi hak opsi untuk membatalkan cicilannya jika kelak mengalami kesulitan cash flow. Dalam perjanjiannya disebutkan bahwa apabila pembeli batal di tengah jalan maka mereka berhak memperoleh kembali uangnya plus sejumlah dana yang disediakan sebagai kompensasi turunya nilai uang (inflasi). Ringkas crita, para pakar menyarankan agar issue tersebut dijadikan bahan masukan untuk otoritas yang berwenang (antara lain Bapepam mengingat para issuer surat berharga tersebut sudah go public). Sayangnya banyak peserta yang "ngotot" dengan opininya sehingga Bu Miranda tampak agak emosional. Saya sungguh tidak tahu apakah emosi beliau itu ada hubungannya dengan pokok bahasan Tempo yaitu mencari indikasi. Hanya beliau dan Tuhan yang mengetahunya. Yang jelas, saya memperoleh khabar bahwa Bapepam tidak keberatan dengan pola penjualan seperti itu. Oleh karena itu tanggapan ini benar-benar hanya dimaksudkan untuk melengkapi gambaran pembaca tentang jalannya sidang kajian tentang Bank gelap pada tanggal 22 Juni 2005 yang saya juga hadir.

Demikian tanggapan saya.
Terima kasih dan salam.

Umbul S.
Catatan :Tanggapan ini bersifat pribadi.
#5 Umbul S on 2008-09-05 08:28 (Reply)

Add Comment

Enclosing asterisks marks text as bold (*word*), underscore are made via _word_.
E-Mail addresses will not be displayed and will only be used for E-Mail notifications

To prevent automated Bots from commentspamming, please enter the string you see in the image below in the appropriate input box. Your comment will only be submitted if the strings match. Please ensure that your browser supports and accepts cookies, or your comment cannot be verified correctly.
CAPTCHA

Standard emoticons like :-) and ;-) are converted to images.
BBCode format allowed
 
 

Masukkan email address untuk mendapat notifikasi setiap ada update terbaru pada Blog Vavai

Delivered by FeedBurner


  • Vavai
    Masim "Vavai" Sugianto, IT professional meski kadang-kadang saja bisa prof dan lebih sering nggak tongue. Nick name Muhammad Rivai Andargini, nama yang dipakai sejak SMP dan sekarang menjadi nama anak tongue. Tinggal di Bekasi, Bekerja di Jakarta. Minat pada Linux dan dunia Open Source, Membaca, Hiking dan Avonturir.