Oh mawar yang kutanam 8 tahun yang lalu,
Teruslah tumbuh dan bermekaran dihatimu,
Begitu lama aku ada, dekat dengan kamu,
Melayang bagai kapas diantara debu
Larut dalam permainan abadi sang waktu...
Hari ini 11 Juni 2008 adalah ulang tahun isteri saya. Ulang tahun dengan usia 3 tahun dibawah saya. Saya masih ingat waktu tahun lalu saya tanya, apa hadiah yang diinginkannya ? Isteri saya menjawab, "Rumah !", dan saya terkapar mendengarnya

Kalau bunga, kue ultah, pakaian atau adiknya Zeze Vavai (hihihi...) itu masih bisa dengan mudah saya usahakan tapi untuk rumah, it may need a long time. Butuh kerja keras, rezeki berlimpah dan menabung dengan giat agar bisa memberikan hadiah rumah.
But, the dream come true ! Anugerah yang maha kuasa diberikan menjelang ultah Zeze Vavai yang kedua sehingga kami bisa merayakan ultahnya dengan bolak-balik mengecek rumah baru.
Ketika tahun ini saya tanyakan ingin hadiah apa, isteri saya hanya bilang bahwa hadiahnya buat beli sepeda Zeze Vavai saja dan saya menurutinya tanpa bertanya-tanya apakah isteri saya menginginkan makan malam yang romantis, liburan ke tempat yang eksotis atau ingin membeli sesuatu yang diinginkan. Mungkin isteri saya khawatir kalau saya menyanggupinya, tetap saja isteri saya yang keluar biaya, hihihi...
Saya sering tersipu-sipu (sok imut

) kalau isteri saya bilang bahwa saya beruntung karena memiliki isteri yang cantik dan tidak banyak menuntut. Saya biasanya membalasnya dengan mengatakan bahwa saya juga suami yang low profile, bisa masak

, tak banyak menuntut serta tak banyak menurut hehehe...
Ada satu rahasia pribadi yang selama ini tak banyak saya katakan pada rekan-rekan saya kecuali terpaksa dan kecuali pada adik-adik saya, yaitu bahwa my beloved wife ini tidak langsung jadi dengan saya melainkan saya pernah ditolaknya terlebih dahulu...
Ada rekan-rekan blogger yang bertanya waktu membaca artikel "Jangan menyesali kerja keras", bagaimana caranya saya bisa mengubah jawaban tidak menjadi jawaban ya.
Sebenarnya itu sesuatu yang luar biasa dan diluar ekspektasi saya. Dulu saya ditolak karena saya bukan kelahiran 1 suku dengan isteri saya. Bayangkan, bagaimana saya bisa mengatasinya kalau alasannya karena saya bukan 1 suku. Saya katakan bahwa saya bisa berusaha untuk menyediakan hal-hal yang diinginkan, berubah menjadi lebih baik atau mau untuk bekerja keras untuk mewujudkan keinginannya tapi kalau soal 1 suku, masya saya mesti lahir kembali ???
Sabtu malam sepulang dari kampus saya merasa hati saya diformat

. Kalau ada rekan-rekan yang pernah patah hati dan langsung mumet pikirannya, itu juga yang terjadi pada saya. Saya bahkan tidak bisa tidur malam itu.
Suasana seperti mendukung duka lara saya. Ketika minggu siang main ke toko buku Gramedia untuk menghilangkan rasa suntuk, dipintu masuk saya disambut dengan lagunya Katon Bagaskara, "Lara Hati".
Yang tertinggal, hanya gambarmu, dimeja kamarku...
Oalah, lagunya menyayat hati...
Butuh waktu 1 minggu bagi saya untuk menghilangkan rasa resah hingga akhirnya bisa stabil kembali. Selama malam-malam mencekam itu

, saya tiap malam bangun diwaktu dini hari, berdoa dengan tulus ikhlas (perasaan saya lha ya) dan pasrah meski masih rada
fait accompli. Doanya,
"Ya Allah, kalau memang bukan jodoh saya, berikanlah saya gadis terbaik bagi saya. Tapi kalau bisa, sama dia saja ya Allah"
begitu kira-kira doa saya yang ajaib dan meski sudah berusaha ikhlas namun masih kurang rela juga.
Ternyata, doa itu dikabulkan karena hari Selasa dipekan depannya, tiba-tiba saja saya ditelepon waktu dikantor, diajak bertemu malamnya dan entah atas pertimbangan apa, isteri saya menyatakan bahwa keluarganya mau menerima saya demikian adanya dengan syarat tidak mengecewakan.
Yes-yes-yes, itu yang terlintas dipikiran saya. Saya serasa melayang bagai kapas diantara debu, mengapung karena demikian gembiranya. Sejak itulah badan saya membesar dan jadi gendut

) karena pikiran saya sudah tenang dan bebas dari kebingungan soal teman dekat seorang gadis.
Sekarang saya bisa dengan lancar bercerita tentang masa-masa itu tapi saat dulu mengalaminya, oalah, it's pretty hard to tell you about this matter.
Sekarang, 8 tahun setelah peristiwa itu, saya semakin menyayangi isteri dan putera saya. Tanpa mereka, saya tidak akan maju dan mencapai apa yang bisa saya dapatkan sekarang.
Selamat ulang tahun isteriku, semoga selalu sehat, hemat, cermat dan bersahaja. Disiplin, berani dan setia

.
You're my ichi ban. I Love you just the way you are...